Kepolisian Tangkap Tiga Pengusaha Galian C Ilegal

Semarang, Mediajateng.net – Petugas Sub Direktorat IV Tindak Pidana Tertentu (Subdit IV Tipidter ) Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng mengamankan tiga pelaku usaha galian C ilegal di tiga tempat yang berbeda di wilayah Jateng.

Masing masing  pelaku di Tambang Batu, Banyumas yang dimiliki oleh Ahmad Khalif, kemudian di Tambang Tanah, Kebumen yang dijalankan oleh Sapto Adi dan galian C di Dusun Sukabumi, Dusun Sukabumi, Kecamatan Cepogo, Boyolali yang dimiliki oleh Sugiarto. Ketiga orang tersebut kini sudah menjadi tersangka dan dalam pemeriksaan intensif oleh Ditreskrimsus Polda Jateng.

Kasubdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jateng, AKBP Ferry Irawan mengungkapkan penutupan ketiga lokasi galian C ilegal tersebut karnea adanya laporan masyarakat yang kemudian ditindaklanjuti oleh petugas. Ketiga pelaku ini dijerat dengan pasal penyalahgunaan izin usaha pertambangan eksplorasi batuan.

“Ketiga pemilik usaha galian C ini dijerat dengan pasal 158 dan 160 UU RI No 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara. Ancaman hukumannya pidana paling lama 10 tahun dan denda Rp 10 miliar,” ujar Fery kepada Sejumlah Wartawan di kantor Ditreskrimsus, Banyumanik Jum’at (25/11).

Dari hasil tindakan tegas berupa penutupan lokasi galian C  ini, petugas mengamankan sejumlah alat berat dan truk. Untuk alat berat tidak dibawa ke Semarang karena kendala transportasi sedangkan barang bukti truk disita di kantor Ditreskrimsus untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Lanjut, Fery Irawan kegiatan penambangan ilegal ini sudah dilakukan rata-rata lebih dari 3 bulan. Namun dari ketiga lokasi, yang paling lama di Kebumen dengan perkiraan lebih dari 3 tahun. Sedangkan luas galian C mulai dari 4 hingga 6 Hektar.

Dari lamanya aktivitas penambangan liar ini pelaku sudah memperoleh keuntungan cukup besar tergantung kemampuan untuk mengeruk.
Namun, dijual kemana hasil penambangan ini, Ferry Irawan menyatakan yang pasti bukan di proyek-proyek pemerintah.

Sebab, proyek pemerintah seperti pembangunan jalan tol dipastikan membeli dari tambang yang legal dan berizin. Dari usaha ini jika dikalkuasi rata rata penghasilan dari gakian C Ilegal ini bisa menjapai Puluhan Juta per hari.

”Selain kondisi lingkungan rusak, negara juga dirugikan karena tidak ada pemasukan pajak dari usaha ini,” imbuhnya.

Ferry menyatakan saat penutupan lokasi penambangan tak ada aksi perlawanan dari pekerja meski saat itu ada penambang sedang beraktifitas.

“Soal ada backing terkait kegiatan ini masih kami dalami. Tetapi sejauh ini tidak ada karena saat disegel tidak ada perlawanan atau beking yang muncul,” ujarnya.

Menurutnya saat ini di Jateng ada puluhan tambang galian C, namun memiliki izin yang dikeluarkan oleh Pemprov Jateng. Oleh sebab itu, pihaknya meminta jika akan melakukan usaha ini agar mengurus izin terlebih dahulu agar legal.

“Jika nekat menambang tanpa izin maka akan ditindak,” tutupnya. (MJ-303)

Comments are closed.