Solusi Atasi Sampah di Desa: Sedekah Sampah!

Oleh: Hana Shofiyah*)

Mediajateng.net – Konsekuensi bagi daerah dengan populasi penduduk yang tinggi tidak luput dari permasalahan sebagai efek tingginya angka konsumsi yang berakhir meninggalkan jejak sampah dan pencemaran lingkungan.

Di perkotaan kita telah banyak mendengar pengelolaan sampah dengan berbagai cara, teknologi, kreatifitas, hingga dukungan pemerintah.

Menjadi pertanyaan bagaimana hal tersebut terjadi di daerah pedesaan?

Pedesaan cenderung berada di wilayah pinggiran, jauh dari pusat keramaian. Tetapi tidak menutup kemungkinan sampah yang dihasilkan terbilang banyak.

Hal lain yang juga perlu menjadi perhatian bahwa seringkali daerah perdesaan tidak terjamah oleh pemerintah karena akses yang sulit.

Dengan demikian akan ada ketimpangan konsentrasi pengelolaan sampah tidak sebaik di daerah perkotaan.

Terlebih kecenderungan masyarakat tidak terikat dengan peraturan tentang sampah yang telah dibuat oleh pemerintah.

Masyarakat cenderung bebas untuk membuang sampah di manapun. Seperti yang terjadi di Dusun Kalisat, Desa Mandiraja Kulon.

Masyarakat menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah akhir, bahkan limbah rumah tangga pada akhirnya dialirkan ke sungai yang melewati dusun tersebut.

Ketika penulis bertanya terkait hal ini, salah seorang warga menyatakan bahwa membuang sampah di sungai itu mudah, dan tidak ada biaya.

Warga tersebut juga mengakui bahwa Ia mengetahui dampak membuang sampah di sungai, namun baginya tidak ada pilihan lain karena belum adanya TPS dan pengelolaan sampah untuk masyarakat dusun tersebut.

Dusun Kalisat mungkin hanya satu diantara ribuan hingga ratusan ribu. Artinya, masih banyak daerah pedesaan lainnya yang juga mengalami hal sama.

Keterjangkauan untuk kontrol, teguran dan sanksi pemerintah yang tidak sampai bukan berarti sebuah pemakluman untuk tidak menindaklanjuti permasalahan ini.

Masyarakat di desa pada dasarnya sudah mengetahui dan merasakan dampaknya. Hanya perlu adanya inisiasi dan gebrakan kolektif untuk secara mandiri mengelola dan menjaga lingkungannya.

Sedekah sampah sebagai solusi

Ada sebuah solusi sederhana dan minim modal yang dapat dijalankan baik untuk dilingkup rukun tetangga hingga desa, yakni sedekah pada bank sampah.

Metode ini merupakan pengelolaan sampah dengan pemilahan sampah yang bernilai ekonomi dari rumah-rumah lalu disetorkan untuk dijual secara kolektif.

Bank sampah menerima sedekah sampah anorganik yang sudah dipilah sesuai dengan jenisnya dari warga.

Umumnya seperti botol plastik, gelas plastik kardus, karton dan kertas.
Seperti yang telah diterapkan di Dusun Kalirau, Desa Somawangi.

Mereka sudah menerapkan pemilahan sampah dengan pemberlakukan sedekah sampah pada kegiatan Majlis Taklim dan bimbingan belajar anak-anak yang bersinergi dengan salah satu lembaga charity Rumah Zakat.

Setiap pelaksanaan Majlis Taklim dan bimbingan belajar, semua peserta datang dengan membawa sampah yang bernilai ekonomis yang terdiri dari botol bekas, kardus bekas dan sampah-sampah plastik ke Masjid yang kemudian dikumpulkan oleh relawan Rumah Zakat untuk dijual kepada pengepul sampah.

Uang hasil yang terkumpul dialokasikan menjadi uang kegiatan Majlis Taklim dan bimbingan belajar itu sendiri.

Sampah yang mulanya terbuang begitu saja, kini bisa bernilai ekonomi bahkan bernilai pahala kebaikan.

Tentu penulis menyadari bahwa tidak sekali usai mengubah kebiasaan masyarakat. Mereka yang semula sangat mudah membuang begitu saja sampah yang tercampur, kini perlu membuang dalam keadaan terpilah.

Perlu adanya upaya gigih untuk mengedukasi masyarakat bahwa memilah sampah melalui bank sampah terbukti membawa dampak positif untuk lingkungan juga dampak ekonomi kesejahteraan masyarakat.

Dengan demikian tawaran solusi ini (sedekah pada bank sampah) perlu manifestasi tindakan nyata kolektif masyarakat agar permasalahan teratasi dan dampak positif dapat dirasakan.***

*)Hana Shofiyah
Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan Unsoed 2021