Wonosobo

Menapaki Visi Jangka Panjang, Wonosobo sebagai Pusat Agrobisnis dan Pariwisata Berkelanjutan

×

Menapaki Visi Jangka Panjang, Wonosobo sebagai Pusat Agrobisnis dan Pariwisata Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini

Catatan Akhir Tahun Pariwisata Kabupaten Wonosobo 2025
Oleh: Dimas Diyan Pradikta, S.E., M.M.
Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Pertama, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo

WONOSOBO – Tahun 2025 bukan sekadar penanda pergantian waktu bagi pembangunan pariwisata Kabupaten Wonosobo. Tahun ini menjadi fase awal perjalanan panjang menuju visi besar Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Wonosobo Tahun 2025–2045, yakni “Kabupaten Wonosobo sebagai Pusat Agrobisnis dan Pariwisata Terkemuka di Jawa Tengah yang Maju, Sejahtera, dan Berkelanjutan.”.

Sebagai insan yang terlibat langsung dalam pembangunan kepariwisataan daerah, saya memandang bahwa visi tersebut bukan hanya cita-cita normatif dalam dokumen perencanaan, melainkan kompas arah yang harus diterjemahkan secara konsisten ke dalam kebijakan, program, dan tindakan nyata di lapangan.

Pariwisata sebagai Pilar Strategis Pembangunan Daerah

Pariwisata Wonosobo memiliki posisi strategis karena bertumpu pada kekuatan alam pegunungan, budaya lokal yang masih hidup, serta basis pertanian dataran tinggi yang menjadi identitas daerah. Dalam konteks RPJPD, pariwisata tidak boleh dipahami sebagai sektor yang berdiri sendiri, melainkan sebagai penggerak yang terhubung erat dengan agrobisnis, ekonomi kreatif, dan pembangunan desa.

Menurut saya, masa depan pariwisata Wonosobo terletak pada kemampuannya membangun keterkaitan antar sektor. Ketika pertanian menjadi bagian dari atraksi wisata, ketika budaya lokal menjadi narasi utama destinasi, dan ketika masyarakat desa menjadi pelaku utama, maka pariwisata akan tumbuh secara alami dan berkelanjutan.

Desa Wisata dan Agrowisata sebagai Fondasi

Pengembangan desa wisata sepanjang tahun 2025 menunjukkan bahwa pendekatan berbasis masyarakat merupakan jalan yang tepat. Desa wisata bukan hanya ruang kunjungan, tetapi ruang hidup yang harus dijaga keseimbangannya. Integrasi konsep agrowisata, wisata edukasi, dan wisata berbasis pangan lokal menjadi peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi tanpa mengorbankan identitas dan lingkungan.

Harapan saya, ke depan desa wisata di Wonosobo tidak terjebak pada pola seragam, tetapi tumbuh dengan keunikan masing-masing, sesuai karakter alam, budaya, dan sumber daya lokal yang dimiliki.

Ekonomi Kreatif sebagai Penguat Daya Saing

Dalam pandangan saya, ekonomi kreatif merupakan “ruh” yang menghidupkan pariwisata. Tanpa produk kreatif, pariwisata akan kehilangan cerita dan pembeda. Tahun 2025 menjadi titik awal semakin terintegrasinya pelaku ekonomi kreatif dengan sektor pariwisata, baik melalui kuliner khas, kriya, seni pertunjukan, maupun konten digital.

Ke depan, saya berharap ekonomi kreatif Wonosobo tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi pengungkit utama daya saing pariwisata daerah di tingkat Jawa Tengah bahkan nasional.

Tantangan yang Harus Dijawab Bersama

Tentu harus diakui bahwa pembangunan pariwisata Wonosobo masih dihadapkan pada berbagai tantangan. Isu keberlanjutan lingkungan, pengelolaan sampah di destinasi, pemerataan kualitas layanan, serta adaptasi terhadap digitalisasi pemasaran masih memerlukan perhatian serius.

Namun saya meyakini, tantangan tersebut justru menjadi ruang pembelajaran kolektif. Pariwisata yang kuat bukanlah pariwisata yang bebas masalah, melainkan pariwisata yang mampu beradaptasi dan terus berbenah.

Harapan Menuju Wonosobo 2045

Menatap perjalanan hingga tahun 2045, harapan saya sederhana namun mendasar: pariwisata Wonosobo tumbuh seiring dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat, terjaganya lingkungan, serta lestarinya budaya lokal. Visi sebagai pusat agrobisnis dan pariwisata terkemuka harus dimaknai sebagai upaya membangun kualitas, bukan sekadar kuantitas.

Diperlukan konsistensi kebijakan lintas periode pemerintahan, penguatan kolaborasi antar pemangku kepentingan, serta keberanian untuk menempatkan keberlanjutan sebagai prinsip utama pembangunan pariwisata.

Tahun 2025 adalah langkah awal. Jalan menuju 2045 masih panjang, namun dengan visi yang jelas dan komitmen bersama, saya optimistis Kabupaten Wonosobo mampu menjadikan pariwisata sebagai kekuatan strategis yang tidak hanya menggerakkan ekonomi, tetapi juga menjaga jati diri daerah untuk generasi mendatang.***