Panti Kasih Harapan Ambarawa Dapat Sumbangan 16 Kasur Yukata

Berbagai Cara Bantu Korban Covid di Jateng, Yukata Bantu 40 Kasur dan Pemkot Bantu 12 Mesin Jahit

Semarang, mediajateng.net – Langkah percepatan kembangkitan dari keterpurukan imbas Covid-19, dilakukan dengan menyentuh berbagai sektor.

Di kota Semarang, bantuan mesin jahit diberikan kepada kelompok kelurahan siaga bencana (KSB). Sebanyak 12 mesin jahit dan mesin obras, diberikan bagi warga untuk bankit dengan mengembangkan sektor usaha menjahit.

“Bukan saja mesin jahit dan obras. Jika kita beri bantuan tanpa kita latih takutnya mesin ditrima terus dijual untuk makan,” kata Abel Montero, Kabid rehabilitasi dan rekontruksi BPBD Kota Semarang.

Dengan mendapatkan bantuan mesin, saat pekerjaan menjahit pakaian sepi penjahid bisa membuat masker.

“Produk bisa dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan sekitar Kota Semarang. Selain komersial ketika ada tetangga yang membutuhkan bisa dibantu jika sekedar membagikan 10 sampai 50 mesker itu hanya pekerjaan sehari dua hari tentu tidak akan membuat rugi. Sebaliknya ikut dalam menjaga tetangga ato program jogo tonggo,” tambah Abel.

Kebijakan ini, menjadi langkah nyata percepatan penanganan covid dengan melibatkan warga. Dengan membantu tetangga, maka diharapkan bisa meningkatkan kesadaran menggunakan masker.

Penerima bantuan mesin jahit dari BPBD Kota Semarang belajar menjahit taplak dan masker. Foto : mediajateng.net

“Awal penerima manfaat kita latih membuat taplak dan masker. Biar mereka langsung bisa membuat sesuatu yang bermanfaat dan dibutuhkan pasar,” tambahnya.

Tiwik, yang mendapat bantuan mesin jahit mengaku seneng. Pasalnya, dengan mesin jahid yang didapat minimal dirinya dan keluarga tidak harus beli masker untuk memenuhi kebutuhan.

“Bisa buatkan masker untuk keluarga, produk lain bisa dijual. Karena produk agak banyak, jadi jika ada tetangga yang perlu bisa dibantu. Sedikit sedikit bisa memberi ke tetangga,” akunya.

Dimasa belajar, kendati tidak banyak namun dengan mrmanfaatkan kain perca diharapkan menjadi kesempatan untuk berlatih untuk lebih memahirkan dalam menjahit.

“Pendemi mungkin masih beberapa saat. Ini kesempatan pasar masih belum banyak. Jadi bisa berlatih, dengan begitu saat pasar norma bisa produksi pakaian atau taplak yang punya nilai komersial lebih tinggi,” tambahnya.

Di Ambarawa Kabupaten Semarang, pemahaman jogo tonggo dilakukan oleh Yayasan Yukata Peduli Bangsa dengan memberikan kasur bagi panti asuhan Kasih Hrapan.

Dari kebutuhan 37 kasur untuk 37 tuju anak asuh, brand asal Jepang spesialis membuat kasus membantu 40 tempat tidur.

“Sebelumnya kita beri 22 kasus. Tapi setrlah tahu kebutuhan 37 maka kemudian kita tambahkab mrnjadi 40 kasur,” kata Amin, marketing Jateng PT Japantech Indojaya, kepada Liputan6.com.

Bantun dalam program CSR, merupakan bagian dari program jogo tonggo yang digalakkan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

“Selain di Ambarawa, kita juga memberikan bantuan serupa kepada sejumlah warga di Kabupaten Blora. Bantuan yang diberikan merupakan kasur tipe Bronze, jenis inoac matrress ukuran 90 x 200x 20 centimeter sehingga cukup untuk anak anak maupun dewasa,” katanya.

Masa pendemi, permasalahan biaya pendidikan anak menjadi salah satu kendala yang terus dicari solusi pengelola.

“Ada anak yang sudah lulus SMA tidak bisa melanjutkan ke jenjang kuliah karena keterbatasan biaya,” kata Deni Setiawan, pengelola Panti Asuhan Kasih Harapan, Ambarawa.

Kondisi pendemi, tidak lantas membuat kita pasrah. Kita terus berupaya untuk mencari solusi salah satunya dengan mobile bertuliskan rekening panti dengan harapan ada donasi yang melihat dan tergerak hatinya.

“Saat keliling, ternyata ada juga yang melihat tulisan yang kita pasang di mobil dan kirim donasi ke rekening BNI 2000200776. Ada yang diberitahukan lewat WA di 085640650632, tapi ada juga yang tidak diberitahukan,” katanya.

Ambarawa, merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Semarang. Dimana, kecamatan kecil yang diapit gunung Ungaran dan Gunung Telomoyo tersebut merupakan daerah yang dikenal sangat dihuni oleh warga dengan berbagai agama. Dimana, beberapa tempat ibadah baik Katolik, Kristen, Islam, Budha, Hindu dan Kepercayaan berdiri dan selalu digunakan ribuan warga untuk beribadah.

Udara dingin pegunungan dan hijau Rawa Pening yang tidak pernah kering kendati musim kemarau.