Vespa Ramadhan Gus Yasin Berbagi Takjil

Jepara, Mediajateng.net – Mengendarai vespa PX 150 buatan tahun 2004, Wakil Gubernur Jawa Tengah yang sekaligus menjadi Panglima Santri Gayeng Nusantara H. Taj Yasin Maimoen bersama komunitas vespa religi Jepara, berangkat dari Desa Blingoh kelet menuju ke Panggung Republik Kelet sebelah RSUD Rehatta, Bukan sedang berkonvoi,  tetapi mereka akan melakukan pembagian takjil kepada para pengguna jalan yang melintas menjelang waktu berbuka.

Bagi Gus Yasin, Vespa menjadi kendaraan favoritnya saat perjalanan santai. Vespa memiliki banyak kenangan, diantaranya menjadi saksi bisu romantisme Gus Yasin dengan istri tercinta, Hj. Nawal Nur Arafah Yasin.

“Vespa itu mengingatkan saya ketika berkunjung di Mesir sama istri sekitar tahun 2017 atau 2018. Saya ke Mesir kemana-mana  naik vespa sama istri. Ngaji, nyari sanad atau literasi Al-Qur’an. Ada toriqoh dan sebagainya, saya kemana-mana naik vespa. Kok nyaman ya. Enak ternyata,” kenangnya.

Komunitas Vespa di Jawa Tengah berkembang dan memiliki banyak anggota, Pada mereka Gus Yasin mengajak untuk senantiasa melakukan kebaikan.

Gus Yasin di dampingi pengurus Santri Gayeng Nusantara Kabupaten Jepara. beliau mengajak kepada Komunitas Vespa Religi Jepara “jangan hanya bervespa saja. Tapi kita juga mengajak mendekatkan diri kepada Allah SWT,  (salah satunya) dengan cara membagi takjil,” tuturnya.

“Saya juga ingin mengajak komunitas apapun, untuk kembali kepada agama. Sehingga ketika pemahaman agamanya muncul, harapannya adalah toleransi serta kedamaian yang muncul,” katanya.

Masih tetap mengendarai vespa, rangkaian Safari Ramadan Santri Gayeng nebar seneng, Gus Yasin menyempatkan untuk melihat pembangunan masjid sekaligus melakukan salat tarawih di Masjid Nurul Hasyimi.

Panitia Pembangunan Masjid Nurul Hasyimi, Sohib mengatakan masjid Nurul Hasyimi didirikan di tengah minoritasnya umat Muslim di dukuh Senggrong. Bahkan jarak masjid dengan tempat ibadah agama lain di Dukuh Senggrong, Desa Blingoh Kecamatan Donorojo Jepara ini tidak terpaut jauh. Hal ini membuktikan bahwa toleransi beragama di Dukuh ini sudah berjalan dengan baik.

“Di Dukuh Senggrong ini ada 4 RT dimana kami sebagai umat Muslim hanya ada 30 persen, 65 persen beragama Budha, dan 5 persen beragama Kristen. Dan masjid ini hanya berjarak 15 meter dari gereja. Dan kebetulan juga yang di mushola berjarak 50 meter dengan vihara,” jelas Sohib kepada Taj Yasin Maimoen usai salat tarawih.

Sohib mengisahkan, Habib Luthfi menjadi salah satu tokoh yang berperan dalam keberhasilan ini. Sohib berkisah, saat itu perwakilan warga menemui Habib Lutfi di rumahnya, di Pekalongan. Kala itu,Habib Lutfi mengusulkan agar masjid itu nantinya diberi nama Nurul Hasyimi. Dengan nama ini, ia berharap masjid ini akan menjadi berkah bagi masyarakat dan menjadi penguat toleransi antar umat beragama.

“Pesan beliau, karena di sini ada tiga agama, jaga persatuan dan kesatuan. Jangan sampai ada gesekan, baik yang seagama ataupun di antara umat beragama,” beber Sohib.

Gus Yasin sependapat dengan pesan Habib Luthfi itu. Karena menurut Gus Yasin, apabila tidak terjadi gesekan, maka setiap individu bisa tenang dalam menjalankan ibadahnya.Rasulullah sudah memberikan contoh bagaimana seharusnya muslim memiliki sikap toleransi.

“Wong Rasulullah mawon wonten tiyang Yahudi meninggal, Rasulullah nggih ngadeg, ngormati (Rasulullah saja ketika ada orang Yahudi meninggal, berdiri, menghormati),” jelas Gus Yasin.

Pada kesempatan itu, Gus Yasin juga menyerahkan bantuan dari Baznas Jateng senilai Rp.35 juta untuk membantu pembangunan masjid. Bantuan Baznas itu berasal dari kontribusi ASN di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang bersedia dipotong penghasilannya sebesar 2,5%.

Usai kunjungan di Masjid Nurul Hasyimi, Gus Yasin menyerahkan bantuan kursi roda kepada Minamrina Rosyada, warga dukuh Dunggayam Desa Tulakan. Gadis berusia 20 tahun yang hafal Al Qur’an 13 juz itu lumpuh, akibat penyakit TBC yang diderita.mj/70