Sragen

Filosofi Asah Asih Asuh di TMMD 128: Perjuangan Ayah di Sragen Mengantarkan Buah Hati ke Perguruan Tinggi

×

Filosofi Asah Asih Asuh di TMMD 128: Perjuangan Ayah di Sragen Mengantarkan Buah Hati ke Perguruan Tinggi

Sebarkan artikel ini

Ngobrol untuk saling mengenal antara warga dan anggota TNI di TMMD Reguler ke 128 Kodim Sragen, Jateng. Foto: Mediajateng.net/ Kodim Sragen

Media Jateng, Sragen  – Pelaksanaan TMMD Reguler ke-128 di Kabupaten Sragen ternyata tidak melulu soal adukan semen dan pengerasan jalan. Di balik deru mesin konstruksi, terselip sebuah narasi humanis tentang perjuangan seorang pria paruh baya bernama Suradi dalam memutus rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan.

Sosok Suradi menjadi buah bibir di kalangan personel Satgas TMMD. Bagaimana tidak, di tengah keterbatasan ekonomi yang menghimpit, ia mampu membuktikan bahwa tekad kuat jauh lebih perkasa dari sekadar angka di rekening. Suradi tercatat sukses menyekolahkan kelima anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi dan menyabet gelar sarjana.

Rabu 6 Mei 2026, di sebuah emperan rumah warga, para prajurit TNI tampak tekun menyimak wejangan hidup dari Suradi. Bagi para personel Satgas, filosofi Asah, Asih, dan Asuh yang dipraktikkan Suradi adalah refleksi nyata dari ketahanan keluarga.

“Pendidikan bagi saya adalah harga mati untuk masa depan anak-anak. Peran kita sebagai orang tua bukan hanya mencari nafkah, tapi menjadi kompas, memberi contoh, dan menjaga api semangat mereka agar tidak padam,” ungkap Suradi dengan nada bicara rendah namun penuh ketegasan.

Keberhasilan Suradi menanamkan etos kerja dan disiplin pada anak-anaknya menjadi tamparan positif bagi siapa saja yang mendengarnya. Ia menegaskan bahwa kemiskinan bukanlah tembok penghalang, melainkan ujian kesabaran yang harus dijawab dengan kerja keras.

Pertemuan singkat ini memberikan perspektif baru bagi Satgas TMMD 128. Mereka menyadari bahwa tugas membangun desa mencakup dua sisi mata uang: memperkuat infrastruktur fisik sekaligus menginspirasi kekuatan mental masyarakatnya.

Kisah dari sudut desa di Sragen ini menjadi bukti bahwa fondasi terkuat sebuah bangsa tidak hanya terletak pada beton jalan yang kokoh, melainkan pada ketulusan orang tua dalam mencetak generasi intelektual yang bermanfaat bagi sesama. ***