Media Jateng, Klaten – Diare dan lemas jelas menjadikan ketakutan sendiri bagi warga Desa Karangturi Kecaman Gantiwarno, Kabupaten Klaten , Jawa Tengah saat terserang keracunan makanan.
Tim Trauma Healing Polres Klaten bergerak cepat berikan pendampingan psikologis kepada warga yang terdampak. Pendampingan dilakukan di beberapa titik strategis, yakni RSUD Bagas Waras, rumah duka almarhum SP di Dukuh Wagean, Posko Dukuh Bendungan, serta kediaman warga yang menjalani rawat jalan.
Baca juga :Dapat Laporan Jalan Rusak, AgustinaWalikota Semarang Langsung Berikan Respon
Tim konselor Polres Klaten, yang terdiri dari personel Dokkes, Polwan, dan konselor, hadir untuk memastikan kondisi psikologis warga terlayani dengan baik.
“Kegiatan trauma healing fokus pada aspek psikologis dan sosial. Kami memastikan masyarakat pulih secara fisik serta mental dan emosional,” ujar Kasihumas Polres Klaten, AKP Nyoto, Rabu 16 April 2025.
Melalui pendekatan empatik, tim trauma healing mendengarkan keluhan emosional korban dan keluarganya, memberikan bimbingan serta membekali mereka dengan keterampilan mengelola stres pascakejadian. Tak hanya itu, mereka juga membantu warga mengenali gejala trauma dan mengakses sumber daya pendukung setelah keluar dari perawatan medis.
Baca juga : Menangani Stunting Harus Jadi Budaya, Bukan Sekadar Program Kerja Pemerintah
“Tim Trauma Healing bekerja sama dengan tenaga medis untuk memberikan perawatan yang menyeluruh. Fokus kami adalah pemulihan, ketenangan batin, dan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan maupun warga yang masih dalam proses pemulihan,” lanjutnya
Langkah cepat Polres Klaten dalam memberikan pelayanan Tim Trauma Healing di tengah krisis kemanusiaan, diharapkan mampu membantu warga bangkit dari situasi trauma.
Diketahui sebelumnya, puluhan warga Dukuh Bendungan mengalami gejala keracunan usai menghadiri sebuah acara keluarga. Sejumlah warga dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis, sementara lainnya menjalani rawat jalan. Polres Klaten masih terus berkoordinasi dengan tenaga kesehatan dan pemerintah desa untuk penanganan lebih lanjut.












