Media Jateng, Semarang – Sepekan sejak hujan deras mengguyur kota Semarang tercatat banjir telah mengakibatkan dua jiwa melayang. Dari catatan Badan Penanggulanan Bencana Daerah , BPBD Kota Semarang, korban pertama ialah seorang pekerja saat sedang membersihkan sampah di kolam retensi. Korban kedua ialah bocah yang sedang bermain di luapan air.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto mengatakan korban tenggelam pertama bernama Eko Rusianto, warga Panggung Kidul, Kecamatan Semarang Utara. Saat kejadian, Eko sedang bekerja membersihkan sampah di Kolam Retensi Trimulyo.
“Kejadian tenggelam di Trimulyo ini kecelakaan kerja. Korban terpeleset dan akhirnya tenggelam karena tidak bisa berenang,” kata Endro di Semarang, Selasa 28 Oktober 2025.
Baca juga : Gerakan Pelita 1 Bikin Adem Kerukunan Agama di Kabupaten Semarang, Ini Aksi Nyata
Dari keterangan Endro, korban saat itu tidak mengenakan rompi pelampung saat bersih-bersih kolam retensi. Malah, sebagai gantinya, korban hanya menggunakan ban dalam mobil sebagai pengaman. Dilain pihak , Endro menambahkan pihaknya juga menerima informasi korban tenggelam di sekitar Jembatan Pertigaan Masjid Gebangsari, Kecamatan Genuk. Korbannya ialah seorang bocah berinisial FAS. Ia dilaporkan tenggelam saat bermain di aliran luapan air akibat banjir.
“Berdasarkan keterangan saksi-saksi, anak tersebut tenggelam.Jangan bermain di bibir sungai karena luapan banjir saat ini sangat berbahaya,” ujar Endro.
Kedua korban tewas akibat banjir itu dibawa ke ruang jenazah Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang.
Baca juga : Menteri Kebudayaan Fadli Zon Kunjungi Kota Salatiga, Saksikan Situs Ini
Sebelumnya, hujan deras mengguyur Kota Semarang sejak Rabu, 22 Oktober 2025 telah menyebabkan banjir di sejumlah wilayah. Ribuan rumah tergenang, jalan utama lumpuh, dan aktivitas warga terganggu akibat curah hujan tinggi yang berlangsung tanpa henti. BPBD Kota Semarang mencatat sebanyak 38.180 jiwa terdampak banjir. Sebanyak 4.265 jiwa berasal dari Kecamatan Genuk dan 33.915 jiwa dari Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan.
Genangan terjadi di sejumlah titik seperti Bangetayu Kulon, Banjardowo, Gebangsari, dan Genuksari dengan ketinggian air 20-60 sentimeter. Sementara di kawasan Jalan Nasional Kaligawe, air setinggi setengah meter membuat arus lalu lintas tersendat.
“Genangan terjadi karena sistem drainase tidak mampu menampung debit air, ditambah luapan Sungai Tenggang,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, dalam keterangannya.
Baca juga : Walikota Semarang Agustina Pastikan Pengobatan Korban Kecelakaan Bus Tol Pemalang Hingga Sembuh
Sementara itu, Hari ini, Rabu 29 Oktober 2025, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi secara khusus melakukan pemanggilan Bupati Demak dan Walikota Semarang untuk membahas percepatan penanganan banjir di kedua daerah.
Selain memanggil keduanya, Ahmad juga mengundang pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk bertemu di Kantor Gubernur Jawa Tengah. Undangan itu akan dihadiri oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Dirjen SDA).
“Kami panggil Bupati Demak dan Wali Kota Semarang. Ada Pak Dirjen (SDA Kementerian PUPR), guna percepatan penanganan banjir,” ujar Luthfi, di Semarang, Selasa , 28 Oktober 2025.
Baca juga : DPU Kota Semarang Masih Kerja Keras Bersihkan Saluran Dari Sampah, Supaya Pompa Bekerja Maksimal
Sebagai informasi, Gubernur Ahmad Luthfi sudah membuat kebijakan penanganan banjir sejak hari pertama.Menurut keterangan Pemprov Jateng, saat banjir pada 22 Oktober 2025, Ahmad Luthfilangsung memerintahkan BPBD Jateng untuk turun ke lapangan dan memprioritaskan keselamatan warga. Setelah itu, penyediaan logistik bagi korban banjir. Selain itu, Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (Pusdataru) juga melakukan penyedotan genangan di area permukiman hingga jalan.***
