Jawa Tengah

Buah Manis, Saat Polisi Polda Jateng Tak Lagi Alergi AI dan E-Sport demi Rangkul Gen-Z

×

Buah Manis, Saat Polisi Polda Jateng Tak Lagi Alergi AI dan E-Sport demi Rangkul Gen-Z

Sebarkan artikel ini

 

Teropong Jateng, Semarang – Halaman Mapolda Jawa Tengah, Senin pagi 11 Mei 2026, tampak berbeda. Di bawah sinar matahari yang mulai menyengat, barisan personel Polri tak hanya berdiri tegak sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai pionir adaptasi teknologi. Hari itu, Kapolda Jateng Irjen Pol Ribut Hari Wibowo memberikan sinyal kuat: Polri harus berubah atau tertinggal oleh zaman.

Melalui program Jateng Youth Movement, Kapolda memberikan penghargaan kepada mereka yang berhasil menjembatani jurang antara institusi kepolisian dengan generasi digital. Bukan hanya soal penangkapan penjahat, penghargaan kali ini justru menyoroti kepiawaian polisi mengajar Kecerdasan Buatan (AI) hingga menjaring puluhan ribu atlet E-Sport.

Salah satu sorotan utama adalah pemberian penghargaan kepada Kompol Heryubowo dari Polres Kebumen dan AKP Doohan Octa Prasetya dari Polres Sukoharjo. Bersama timnya, mereka dinobatkan sebagai Trainer Terbaik dalam implementasi program Artificial Intelligence (AI) bagi pelajar SMA se-Jateng.

Ini adalah langkah yang tak biasa. Di saat banyak pihak masih meraba-raba potensi AI, Polda Jateng justru merangkul Dinas Pendidikan, ASEAN Foundation, dan Mafindo untuk membekali generasi muda dengan literasi teknologi tingkat tinggi.

“Masyarakat yang kita layani mayoritas adalah generasi Milenial, Gen-Z, dan Gen-Alpha, jumlahnya hampir 70 persen. Jangan terapkan pola pelayanan lama terhadap mereka,” tegas Irjen Ribut dalam amanatnya.

Meski fokus pada teknologi dan pemuda, fungsi utama kepolisian tetap terjaga. Kapolda memberikan apresiasi kepada:

Kombes Pol Saiful Anwar (Kabid Propam): Membawa Bidpropam meraih predikat Terbaik dalam Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) 2025.

Ipda Irham Rhozan Al Fiqri (Polresta Surakarta): Berhasil mengungkap kasus penggelapan jabatan di sektor perbankan dengan nilai fantastis, Rp10 Miliar.

Keberhasilan ini membuktikan bahwa akuntabilitas internal dan ketajaman penegakan hukum tetap menjadi fondasi utama Polda Jateng.

Kapolda juga membeberkan capaian mengejutkan: Polda Jateng telah menjaring sekitar 30.000 talenta E-Sport dari seluruh pelosok Jawa Tengah. Langkah ini bukan sekadar hiburan, melainkan strategi mumpuni untuk membangun kedekatan emosional dengan anak muda yang menghabiskan banyak waktu di dunia siber.

Bagi Irjen Ribut, menjaga keamanan tidak lagi melulu soal patroli fisik dengan barikade besi. Ada filosofi “Pagar Mangkok” yang ia pegang teguh.

“Sabuk kamtibmas dan pagar mangkok jauh lebih kuat daripada pagar besi di mako kita,” tuturnya puitis namun penuh makna.

Artinya, hubungan baik dengan masyarakat adalah benteng pertahanan yang paling kokoh. Dengan mengajak Gen-Z berkompetisi di arena E-Sport dan belajar AI, Polri sedang membangun “pagar” sosial yang lebih modern.

Di balik apresiasi, terselip peringatan keras. Kapolda mengingatkan agar seluruh personel tidak melakukan tindakan kontraproduktif yang bisa merusak kepercayaan publik. Prestasi yang dibangun dengan inovasi teknologi bisa runtuh seketika oleh pelanggaran integritas.

“Satu-satunya cara untuk mempertahankan institusi adalah dengan membaca dan berlatih. Kita harus terus belajar untuk melayani masyarakat,” pungkasnya.

Senin pagi itu di Semarang menjadi saksi, bahwa Polri di Jawa Tengah sedang bertransformasi. Mereka tak lagi hanya identik dengan seragam cokelat dan peluit, tapi juga dengan barisan kode AI dan semangat kompetisi digital. Sebuah langkah adaptif untuk memastikan polisi tetap relevan di mata “pemilik masa depan”.***