Pengurus GMNI Kabupaten Demak bersama GMNI bersama Bhikkhu Thudong di Kantor DPD Golkar. Foto: Mediajateng.net/ GMNI Kabupaten Demak
Media Jateng, Demak – Belasan bhikkhu yang menjalani perjalanan spiritual Thudong dari Candi Sima, Desa Blingoh, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah kembali melakukan perjalanan dan tiba di Kabupaten Demak pada Sabtu 23 Mei 2026 sore.
Rombongan bhikkhu yang berjumlah 17 orang menempuh perjalanan dengan berjalan kaki dari Jepara menuju Candi Sewu di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, dalam rangka menyambut Hari Raya Waisak yang jatuh 31 Mei 2026.
Tiba di Kabupaten Demak, 17 bhikkhu singgah dan menginap di Kantor DPD Partai Golkar Kabupaten Demak. Bhikkhu, disambut Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Demak, Siswanto, bersama pengurus partai lengkap dengan Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).
Bhikkhu, Aggacitto Thera, di Demak mengungkapkan perjalanan spiritual dari Candi Sima menuju Candi Sewu bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga membawa misi perdamaian serta memperkuat toleransi antarumat beragama.
“Kami memandang hal ini sangat penting bagi bumi Nusantara. Dalam rangka menyambut Hari Raya Waisak, kami melakukan perjalanan spiritual dari Candi Sima menuju Candi Sewu di Klaten. Pesertanya terdiri atas 17 bhante atau bhikkhu, relawan Laskar Agung Macan Ali Nuswantara Kasultanan Cirebon, serta umat Buddha yang turut bergabung,” ungkap Aggacitto kepada wartawan di Kantor DPD Partai Golkar Demak, Sabtu.
Ia menjelaskan, perjalanan dari Jepara menuju Candi Sewu menempuh jarak sekitar 250 kilometer dengan durasi perjalanan selama 11 hari.
Selama perjalanan dengan Panjang jalur mencapai 250 kilometer, rombongan melintasi sejumlah daerah, mulai dari Demak, Semarang, Ungaran, Salatiga, hingga Boyolali sebelum tiba di tujuan akhir, yakni Candi Sewu di Klaten.
“Sebenarnya jika melalui jalur tercepat tidak sampai sejauh itu, tetapi karena banyak permintaan agar kami singgah di sejumlah tempat, akhirnya jaraknya menjadi sekitar 250 kilometer,” jelasnya.
Menurut Aggacitto, perjalanan kaki dari Jepara menuju Klaten tersebut mencatat sejarah baru karena menjadi rute Thudong pertama dengan lintasan tersebut.
“Ini menjadi perjalanan pertama dalam sejarah dari Jepara menuju Klaten dengan berjalan kaki, sehingga kami menilai hal ini sebagai sejarah baru,” ucapnya.
Selama perjalanan, pihaknya mengaku senang karena mendapat sambutan hangat dari masyarakat lintas agama dan berbagai kalangan usia, termasuk saat singgah di Demak, khususnya di Kantor DPD Golkar Demak.
“Kami tentu merasa senang dan bahagia karena ternyata masih banyak masyarakat yang menjunjung nilai kebaikan dan cinta kasih, serta memiliki kesadaran untuk hidup bersama secara rukun. Bukan hanya di Demak, sejak kami memulai perjalanan dari Blingoh hingga hari keempat ini, antusiasme masyarakat luar biasa, mulai dari anak-anak, dewasa, hingga orang tua,” ungkapnya.
Ia menambahkan, rombongan juga singgah di berbagai tempat ibadah, mulai dari gereja hingga masjid, sebagai bagian dari misi perdamaian yang mereka bawa.
“Di mana kami diminta singgah, kami akan singgah. Kami tidak memilih-milih tempat karena memang tujuan kami membawa dan menggaungkan pesan perdamaian,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Demak, Siswanto, mengatakan Partai Golkar didirikan dengan cita-cita yang sejalan dengan semangat perjuangan berbagai elemen bangsa, termasuk aktivis dan kelompok kepemudaan.
Menurutnya, perbedaan yang ada hanya terletak pada ruang gerak dan peran masing-masing, namun tujuan akhirnya tetap sama, yakni untuk kepentingan bangsa dan negara.
Siswanto mengibaratkan perjuangan tersebut seperti aliran sungai yang bermuara ke laut. Siapa pun dan dari latar belakang mana pun, kata dia, pada akhirnya memiliki tujuan bersama.
Karena itu, ia menilai cita-cita yang diperjuangkan dirinya, para tokoh yang hadir, kader Partai Golkar, maupun rekan-rekan GMNI pada dasarnya memiliki arah yang sama.
Siswanto menyampaikan bahwa Golkar sangat mengapresiasi upaya para bhikkhu dalam membawa pesan perdamaian dan menilai langkah tersebut patut menjadi teladan bersama.
Menurutnya, isu pluralisme, keberagaman, dan nasionalisme hingga kini masih sangat relevan karena masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan untuk memperkuat persatuan masyarakat.
Ia mencontohkan kehidupan masyarakat di sejumlah wilayah yang mampu hidup berdampingan secara harmonis meski memiliki latar belakang agama berbeda.
“Di beberapa tempat masih butuh kerja keras kita. Tapi ada juga wilayah seperti Kaloran, di mana teman-teman Kristen, Katolik, Buddha, dan Islam hidup berdampingan dengan nyaman tanpa persoalan. Mereka tidak berpikir sempit,” kata Siswanto.
Lebih lanjut, Siswanto mengatakan para pendahulu bangsa telah mengajarkan nilai-nilai kehidupan dengan cara yang bijak dan cerdas. Karena itu, generasi saat ini seharusnya mampu menghargai sesama dan menjaga semangat kebersamaan.
Menurutnya, pesan yang dibawa para bhikkhu memiliki makna yang lebih mendalam, yakni penghormatan bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga kepada seluruh makhluk hidup.
Ia menuturkan bahwa nilai tersebut mencakup kepedulian terhadap tanaman, hewan, dan seluruh ciptaan sebagai bagian dari ajaran hidup yang menekankan harmoni dengan alam dan sesama.
“Jadi kita hari ini diingatkan kembali. Mudah-mudahan ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk menjalankan tugas kemanusiaan. Dalam istilah yang sering kami sebut, rahmatan lil alamin,” pungkasnya.












