DemakJawa TengahSemarang

Kendalikan Cuaca, Begini Cara BNPB Tebar Sepuluh Ton Garam

×

Kendalikan Cuaca, Begini Cara BNPB Tebar Sepuluh Ton Garam

Sebarkan artikel ini
Media Jateng, Semarang – Puluhan pompa telah dioperasionalkanmenangani genangan banjir sepanjang jalur Kaligawe. Tak hanya itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih berupaya mengendalikan cuaca dengan menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) .
Hujan dialihkan dari wilayah Kota Semarang yang tergenang ke kawasan hulu Sungai Tuntang dan Lusi. Upaya ini untuk mengatasi banjir yang merendam puluhan ribu jiwa akibat hujan deras tanpa henti sejak Rabu, 22 Oktober 2025.
Sebanyak 12 ton bahan semai ditebar dari udara guna mengatur distribusi curah hujan dan memberi waktu bagi tim lapangan memperkuat tanggul serta menyedot genangan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menginstruksikan Kedeputian Bidang Penanganan Darurat untuk segera melaksanakan OMC guna menindaklanjuti laporan tersebut.
OMC dilakukan untuk mengintervensi teknis di atmosfer dengan menebar bahan semai seperti garam (NaCl) ke awan agar hujan turun di lokasi yang lebih aman atau dibutuhkan.
Tujuan utama OMC adalah mengurangi risiko banjir di wilayah yang sudah tergenang. Mengalihkan hujan ke daerah yang lebih aman atau membutuhkan air. Menjaga infrastruktur vital seperti tanggul, jalur kereta, dan permukiman.
Menindaklanjuti instruksi Suharyanto, Pesawat Cessna Caravan dengan kode registrasi PK-SNM telah mendarat di Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang pada Jumat, 24 Oktober 2025.Pesawat itu kemudian memulai tugasnya untuk menebar bahan semai natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO), Sabtu 25 Oktober 2025.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari atau yang akrab disapa Aam mengatakan total ada 12 ton bahan semai yang akan ditebar di langit Semarang secara bertahap.
“Totalnya ada 10 ton NaCl dan 2 ton CaO yang akan ditebar secara berkala melalui beberapa sortie penerbangan. Tujuan utama OMC ini adalah redistribusi curah hujan agar tidak turun di wilayah yang saat ini sudah tergenang, termasuk di bagian hulu sungai,” kata Aam dalam Siaran Pers BNPB.
Aam menjelaslan kawasan yang menjadi perhatian utama kali ini adalah wilayah hulu Sungai Tuntang dan Lusi yang melintasi Kabupaten Grobogan. Di sana, dijelaskan pihaknya terdeteksi tanggul sungai yang sudah jebol akibat tekanan air yang tinggi harus mendapatkan penguatan.
Selain itu, jalur dan tanggul bantalan rel kereta api penghubung Jakarta–Surabaya yang melintas di atasnya juga masih bisa terancam bila banjir kembali datang.
BMKG memprediksi curah hujan tinggi di wilayah Jawa Tengah masih akan berlangsung hingga awal November karena dipengaruhi oleh aktifnya fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Rossby ekuatorial.
“OMC ini akan berlangsung selama tiga hingga lima hari, tergantung pada hasil evaluasi harian. Setiap penerbangan menjadi satu siklus percobaan dan menentukan apakah awan yang disemai menghasilkan hujan di titik yang diinginkan,” kata Aam.
Secara keseluruhan, sebanyak 4.265 jiwa dari 1.697 kepala keluarga di Kecamatan Genuk dan 33.915 jiwa dari 11.260 kepala keluarga di Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan, terdampak banjir kali ini.***