Sekali Grebeg, Dua ‘Polisi’ Dapat Bagian Rp 77,5 Juta

Grobogan-mediajateng.net

Pengakuan mengejutkan diungkapkan Haryanto alias Boneng (40) warga Mranggen, Kabupaten Demak.
Dalam sekali perannya sebagai polisi gadungan, warga Mrangen, Kabupaten Demak ini mengaku mendapatkan bagian uang sebesar Rp 32,5 juta.

Karena mendapatkan uang puluhan juta dari sekali berperan sebagai polisi dalam tindak pencurian dengan kekerasan (Curat) pria yang hanya bertugas membawa surat perintah penangkapan (Seprinkap) yang tentu abal-abal pula. Uang hasil kejahatan angsung digunakan ubtuk foya-foya di tempat hiburan di Komplek wisata karaoke, di Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

“Saya hanya bertugas bawa map berisi surat penggerebegan. Saya bukan polisi hanya pura-pura jadi polisi,” akunya dalam gelar kasus di Mapolres Grobogan.
Pria yang hingga, Jumat (10/10/2017) masih ditahan di sel tahanan Polres Grobogan ini mengaku melakukan pengrebegan bersama Ba (37) yang saat ini jadi buronan polisi.

“Saat menggrebeg transaksi penggandaan uang, saya sama Ba. Dia bawa pistol warga putih (silver). Senjatanya sekarang dibawa teman saya yang masih lari,” tambah pria yang sehari-hari kerja sebagai pengemudi.

Karena Boneng adalah polisi gadungan yang membawa Sprinkap abal-abal, tentu senjata yang dibuat menakuti korbanya juga bukan senjata betulan.

“Senjatanya hanya korek gas,” tambahnya.

Dalam pencurian dengan kekerasan itu, Boneng dan Ba beraksi bersama tujuh orang lainnya. Saat penggrebegan praktik dukun palsu, tampak meyakinkan layaknya penggrebegan yang dilakukan polisi asli itu berkat peran tersangka Suharto pecatan polisi berusia 41 tahun asal Genuk, Kota Semarang.

Selain Boneng, dalam aksi yang sudah didesain dengan modus pura-pura menggrebeg praktik perdukunan penggandaan uang, ada nama Agus Sumarno yang bertugas sebagai Haji Arif, yakni dukun abal-abal berusia 48 tahun yang bisa menggandakan uang.

“Saya tidak haji, saya hanya berperan sebagai dukun yang bisa menggandakan uang,” aku tersangka asal Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah yang pernah ditangkap dalam kasus penipuan uang juga.

“Boneng ditangkap saat karaoke menggunakan uang hasil perampokan di obyek wisata di Bandungan, Kabupaten Semarang,” ungkap Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning.

Modus operandi yang digunakan, merupakan praktik perdukunan. Dimana, tersangka Agus Sumarno selaku dukun pengganda uang menghubungi Sulthon korban asal Jawa Timur.Dalam komunikasi, tersangka melakukan perjanjian untuk melakukan transaksi penggandaan uang. Dimana, paket uang Rp 300 juta dijanjikan akan digandakan menjadi Rp 1 miliar.

Korban yang masuk perangkap praktik perdukunan abal-abal, kemudian melakukan perjanjian dengan akan melakukan komunikasi penggandaan uang.
Dalam pertemuan yang dilakukan di rumah kontrakan di Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan Jawa Tengah, korban yang mengambil uang di bank BCA cabang Purwodadi sebesar Rp 600 juta dihantar tersangka Zaenudin alias Eko yakni pecatan TNI.

Saat sedang dilakukan praktik penggandaan uang, tersangka Boneng dan Ba masuk berpura-pura melakukan penggrebegan.

“Karena korban melawan, maka tersangka memukul korban,” tambah Kapolres Grobogan AKBP Agusman Gurning yang didampingi Kasat Reskrim AKP Eko Adi.

“Pengungkapan kasus Curat, sempat mengalami kendala. Pasalnya, korban yang mungkin malu mengaku dirampok saat melakukan transaksi jual beli tanah. Tersangka baru mengaku ditipu dukun palsu setelah tersangka tertangkap,” tambah Kapolres.
Bermodal keterangan pemilik rumah yang disewa, Polres Grobogan berkoordinasi dengan Unit Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Polda Jateng dan akhirnya berhasil menangkap tersangka di beberapa lokasi berbeda

Dalam pengungkapan kasus perampokan, polisi menyita uang sisa kejahatan senilai Rp 167,2 juta. Sedang para pelaku dijerat pasal 365 KUHP dengan andaman hukuman 12 tahun penjara.(MJ-505)