Potensi Jadi Sentra Pangan Besar, Ini yang Harus Digarap Pertanian Demak

DEMAK, Mediajateng.net – Demak berpotensi menjadi sentra sejumlah kebutuhan bahan pokok dan hasil pertanian serta perkebunan bagi sejumlah daerah di Tanah Air, kata Anggota Komisi VII DPR RI Daryatmo Mardiyanto.

“Kabupaten Demak sudah dikenal dengan buah jambu dan blimbingnya. Sedangkan di sektor tanaman padi juga menjadi salah satu kabupaten penyangga pangan di Jateng karena sebagian besar hasil panennya dikirim ke daerah lain,” ujarnya saat menyampaikan sambutan pada acara Diseminasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan tema “Pemanfaatan dan Penerapan Iptek di Daerah” di Balai Desa Pidodo, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, Rabu (26/9).

Hadir pada acara tersebut, Wakil Kepala LIPI Bambang Subiyanto dan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Demak Wibowo mewakili Bupati Demak M. Natsir.

Daryatmo mengingatkan bahwa Kabupaten Demak juga menjadi penghasil bawang merah terbesar kedua setelah Kabupaten Brebes untuk tingkat Jateng, sedangkan untuk tingkat nasional dimungkinkan menduduki peringkat tiga.

“Hanya saja, kurang terekspos sehingga sektor pertanian dan perkebunannya perlu didorong agar lebih maju,” ujarnya.
Salah satunya, kata dia, perlu ada dukungan teknologi pengolahan pascapanen agar ada nilai tambah dari masing-masing hasil pertanian maupun perkebunannya.

“Jika ada pengolahan pascapanen, tentunya bisa menjadi produk khas dan layak dijadikan oleh-oleh khas Demak,” ujar politisi PDIP dari Daerah Pemilihan II Jateng (Jepara, Kudus dan Demak) itu.

Untuk itulah, kata dia, kehadiran LIPI ke Demak sangat tepat untuk membantu masyarakat di Kabupaten Demak menguasai teknologi pengolahan hasil pertanian mulai dari pengolahan awal hingga pascapanen.

“Masyarakat perlu dukungan teknologi dan modernisasi pertanian berbasis realitas wilayah, bukannya harus mengimpor yang belum tentu sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Ia optimistis dengan bantuan LIPI bisa lebih maju, mengingat sudah ada produk unggulan di Demak, yakni jambu air dan blimbing.

Apabila sektor pertanian semakin maju dan produktif, dia memastikan, sektor pertanian semakin dibanggakan dan tidak terpinggirkan.

Wakil Kepala LIPI Bambang Subiyanto menambahkan potensi di bidang pertanian dan perkebunan di Kabupaten Demak memang masih bisa dikembangkan menjadi lebih maju.

Salah satunya, kata dia, untuk komoditas bawang merah yang dihasilkan dari Demak juga bisa diolah menjadi bawang goreng krispi sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi, dibandingkan ketika dijual dalam bentuk bawang merah utuh tanpa ada proses pascapanen.

“LIPI juga menemukan sejumlah teknologi di bidang pertanian. Kami tentu menginginkan bisa diaplikasikan di masyarakat,” ujarnya.

Teknologi yang dikembangkan pingin diaplikasikan ke masyarakat desa, salah satunya pembuatan pupuk cair yang merupakan suplemen buat tanaman yang terbuat dari bahan baku lokal.

Tanah pertanian saat ini sudah terkontaminasi pestisida dan pupuk kimia, sehingga lama-lama menjadi kurang subur.
Pupuk cair tersebut, katanya, sudah diujicoba di Wonogiri pada tanaman padi dan hasilnya dalam satu hektare bisa menghasilkan gabah hingga 12 ton, sedangkan sebelum menggunakan pupuk cair atau pupuk organik hayati hanya berkisar 8 ton per hektare.

“Kami juga siap melatih petani di Demak cara membuat pupuk organik hayati sendiri,” ujarnya.

Petani di Desa Pidodo juga mendapatkan bantuan bibit pohon mangga dan klengkeng sebanyak 2.600 bibit yang merupakan hasil pengembangan dari LIPI.

Comments are closed.