Kisah Samad, dari Tumpukan Sampah Menuju Makah

SEMARANG, Mediajateng.net – Panas dan pengap. Dua kata yang tepat untuk menggambarkan suasana sebuah tempar pengepul barang bekas di pojok Jalan Kolonel Sugiyono.

Tumpukan kardus, plastik, besi dan kertas menghalangi pandangan mata saat Mediajateng.net masuk ke tempat itu. Seorang perempuan muda menyambut ramah di tengah aktivitasnya menimbang barang-barang bekas.

Tak lama kemudian, orang yang ditunggu-tunggu pun datang. Dengan jambul rambut dicat merah dan bertubuh gempal, sosoknya mudah dikenali.

Samad mengatakan, terdapat 250 pemulung yang rutin mendatangi pusat pengepul barang rongsok miliknya. Tiap pemulung biasanya menjual besi-besi bekas, plastik maupun kardus dengan harga bervariasi. Tiap kilo plastik misalnya, dijual seharga Rp 6.500.

“Setiap hari, saya bisa mengumpulkan 15 ton kardus, 2 ton plastik, 200 kuintal logam, serta 4 ton besi bekas. Setelah itu baru dikirim memakai truk fuso ke pabrik-pabrik di Tangerang, Surabaya dan Solo untuk diolah lagi jadi barang-barang kebutuhan rumah tangga,” ujar pria asli Kaligondang Kabupaten Demak baru-baru ini.

Ia bilang mengumpulkan barang-barang rongsokan tak lepas dari latar belakangnya sebagai pemulung sejak kecil.

SAVE_20180524_233640

Di Demak, ia dulu sering membantu ibunya memunguti barang bekas yang berserakan di jalanan. Dari Kota Wali, ia kemudian mengadu nasib sampai kawasan Kota Lama Semarang.

Berkutat di Kota Lama ternyata membuatnya berpikir untuk mengubah hidupnya. Dimulai dari meminjam modal usaha dari ibunya, Samad perlahan mulai membuka tempat jasa pengepul barang bekas.

“Saya namai tempat saya ini Sumber Nikmat. Yang bermakna sumber dari segala kenikmatan para pemulung,” katanya.

Kemudian dia mengajak Mediajateng.net keliling ke gudang yang berisi tumpukan kardus bahkan di bagian belakang terdapat gunungan plastik. Sambil jalan sesekali dia membereskan tumpukan botol-botol bekas.

“Bapak mulai berani membuka jasa pengepul sejak lima tahun terakhir. Allhamdullilah kami punya 50 pekerja dan para pemulung rutin memberi masukan seperti apa seharusnya melangkah ke depan. Kritik dan saran selalu kami terima ketika acara ulang tahun pernikahan kami sekaligus memberi penghargaan bagi para pemulung,” kata Nanik Wijiastuti, istri Samad.

Ia pun menyewa sebuah lahan kosong di sepanjang ruas Jalan Kolonel Sugiyono. Setiap lahan ia sewa seharga Rp 25 juta-Rp 75 juta per tahun. Di lokasi itulah ia bangun petak-petak gudang yang menyimpan aneka barang bekas.

“Saat ini, persaingan penjualan rongsokan semakin ketat. Dengan pendapatan kita setiap bulan berkisar Rp 500 juta, kita akan membeli mesin press yang lebih besar lagi. Kalau mau bersaing dengan pemain-pemain lama, kita harus punya jembatan timbang seharga Rp 1 miliar,” terangnya.

SAVE_20180524_233656

Ia mengungkapkan tak akan pernah lupa terhadap perjuangannya dulu menjadi pemulung. Karenanya, Samad mengaku selama ini punya rasa empati yang tinggi terhadap sesama.

Berawal dengan melihat nasib banyak pemulung yang terlunta-lunta, ia tergerak untuk mendirikan layanan tabungan khusus pemulung.

Dengan tabungan itu pemulung bisa memanfaatkan untuk mengamankan uang hasil jerih payahnya sehingga tidak tercecer di jalanan ataupun habis tak bertuan.

“Kadang banyak pemulung mengeluh uangnya hilang dicopet, ketlingsut dan sebagainya, maka hati saya tergerak memberi fasilitas buku tabungan. Kita bawakam uangnya biar tidak hilang. Ada 150 pemulung yang memanfaatkan tabungan tersebut. Ada yang menabung Rp 10 ribu setiap hari, Rp 20 ribu setiap minggu bahkan bulanan juga ada  Per hari ada per minggu ada bulanan ada,” tuturnya.

Fasilitas tabungan yang ia berikan disambut antusias oleh para pemulung. Tak jarang ada yang menggantungkan harapannya agar kelak bisa ikut ibadah umroh ke Tanah Suci Makkah. Seorang pemulung bahkan ada yang menabung sampai Rp 50 juta.

Semua itu, baginya untuk merubah pola pikir para pemulung yang tadinya gemar menumpuk hutang, menjadi senang menabung.

“Tabungannya bisa diambil saat lebaran. Juga sudah ada yang bisa naik haji, ibu-ibu. Kami sudah punya angan-angan untuk memberangkatkan pemulung beribadah umroh. Kita sedang mencari waktu yang tepat buat mereka,” bebernya.

SAVE_20180524_233619

Kendala pun kerap dia hadapi. Dari pesaing yang kian ketat hingga peraturan atau kebijakan pemerintah yang menghambat.

“Mestinya pemerintah berterimakasih pada kami karena sangat membantu kebersihan kota. Dan kami tidak meminta bayaran ke pemerintah,” katanya.

Selain itu, dia juga menyayangkan kebijakan pemerintah yang membuka sangat lebar kran impor barang bekas, terutama dari Cina. Kebijakan tersebut, katanya, membuat harga jual barang bekas terjun bebas.

“Untuk harga kertas atau kardus bekas dari Rp 3 ribu turun menjadi Rp 2.400. hal itu juga berimbas pada pabrik pembeli barang kami yang banyak memilih barang impor karena lebih murah. Padahal barang bekas kita sudah mencukupi kebutuhan,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Sosial Kota Semarang, Tommy Yarmawan Said berjanji akan meningkatkan kesejahteraan bagi para pemulung yang beredar di wilayahnya. Sebab, pemulung menjadi salah satu elemen masyarakat yang berpartisipasi mengurangi beban sampah di perkotaan.

“Akan kita berikan santunan supaya bisa membantu hidup mereka,” tandasnya.