Media Jateng, Jakarta – Destinasi Pariwisata Danau Toba memiliki latar historis yang menakjubkan sebagai danau vulkanik terbesar di dunia dan danau secara umum terbesar di Asia Tenggara.
Pemerintah di era Presiden Jokowi menaruh perhatian lebih serius untuk pengembangan pariwisata. Pemerintah mengeluarkan Perpres Nomor 49 tahun 2016 tentang Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba.
Lembaga ini memiliki fungsi otoritatif dan koordinatif dalam mengelola pariwisiata Danau Toba yang mencakup 8 kabupaten di Provinsi Sumatera Utara. Dalam upaya pemerataan destinasi pariwisata nasional, pemerintah di era presiden Jokowi pada 2019 menetapkan Danau Toba sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas Nasional (DPSPN) bersama pariwisata Labuan Bajo (NTT), Borobudur (Jawa Tengah), Likupang (Sulawesi Utara), dan Mandalika (NTB).
Ikhtiar pengembangan pariwisata ini, terkhusus pariwisata Danau Toba memiliki tantangan strategis untuk peningkatan ekonomi, strategi inovasi, sinergitas berbagai pihak, serta regulasi yang sehat dan proporsional.
Untuk menelaah persoalan ini, diskusi bertema “Menatap Masa Depan Danau Toba” dihelat di Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa/I Batak Nasional, Fakultas Hukum UKI, dan Lentera Sahabat Indonesia pada Jumat, 13 Juni 2025 di ruang Seminar AB Gedung Lantai 3.
Diskusi dihadiri Jimmy Panjaitan selaku BPODT, Bapak Lamhot Sinaga Wakil Ketua Komisi 7 DPR RI, dan Wakil Rektor UKI Bapak Hulman Panjaitan.
Sektor pariwisata memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi nasional dan memperkuat posisi Indonesia di tengah trade-war. Kata Lamhot Sinaga (Wakil Ketua Komisi VII DPR RI) sebagai pembicara pertama dalam pemaparannya.
“Pada tahun 2024 sektor pariwisata Indonesia berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 4,01-4,5%. Pada tahun 2019 devisa pariwisata mengungguli Migas dan Ekspor Non-Migas dengan capaian USD 20 miliar. Ini menandakan pariwisata bukan hanya sektor pelengkap, melainkan bisa menjadi andalan utama pendapatan Negara,” ungkapnya.
Sejalan dengan itu, Direktur Utama BPODT Jimmy Bernando Panjaitan turut menekankan eco-tourism berkelas dunia yang mengintegrasikan destinasi wisata alam dan budaya dalam pemaparan materinya.
“BPODT memiliki master plan di Toba Caldera Resort yang mencakup; Destinasi Wisata Alam yang memanfaatkan daya tarik warisan geologi dunia; Destinasi Wisata Warisan Budaya dengan memperkenalkan nilai-nilai dan keluhuran budaya Batak; dan Destinasi Wisata Rekreasi dengan menyajikan resort tenang di tepi danau dengan pemandangan alam yang indah dan ajaib,” tutur alumnus Institute Teknologi Bandung (ITB).
Direktur Utama BPODT itu menambahkan, pariwisata Danau Toba dari pendapatan wisawatan nusantara berhasil melampaui Bali dengan capaian 21,25 triliun.
“Di lain sisi, BPODT berkomitmen terhadap zero waste dan standar green globel internasional dan menyediakan 30% area terbuka hijau. Dari sisi peningkatan perekonomian BPODT mencanangkan 30.000 lebih talenta dan tenaga kerja di sektor pariwisata, lalu target investasi senilai Rp 26 triliun, dan 22.000 pengunjung per hari,” ungkapnya.
BPODT mengajak kolaborasi dan bersinergi dengan berbagai pihak di antaranya bekerja sama dengan Telkom untuk menyediakan platform digital agar bisa menghubungkan berbagai pelaku usaha di Danau Toba.
“Lewat kolaborasi mempromosikan Danau Toba melalui film dan salah satu filmnya ada yang sudah tayang di Bioskop XXI dengan penonton mencapai 65.000, dan penerapan e-ticketing untuk layanan jasa kapal ferry. Penggunaan teknologi sangat impactfull bagi pariwisata Danau Toba, penerapan e-ticketing memangkas antrian yang biasanya berlarut-larut,” ungkapnya.
Hulman Panjaitan pembicara lain sekaligus dosen UKI Jakarta mengulas potensi eksotisme alam Danau Toba dan nilai-nilai historis.
Ia menuturkan, Danau Toba memiliki keindahan alam dan kekayaan budaya yang dapat dikembangkan, seperti Tarabungam Air Terjun Efrata, Pusuk Buhit yang merupakan legenda turunnya Raja Batak, hingga Bukit Indah Simarjarunjung.
Akademisi UKI ini menegaskan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk turut andil dalam pengembangan Danau Toba.
“Peran perguruan tinggi dapat melalui pelaksanaan Tri Darma perguruan tinggi, kurikulum yang menanamkan nilai-nilai kearifan lokal, dan pelaksanaan program kampus berdampak dari yang sebelumnya program kampus merdeka dengan program membangun Desa dan KKN tematik,” ungkapnya.
Jansen Henry Kurniawan mahasiswa Batak yang berkuliah di Jawa Tengah sangat mengapresiasi diskusi yang produktif demi masa depan pariwisata di Danau Toba.
Mahasiswa Batak asal Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Semarang menambahkan perlu untuk memberikan pemahaman kepada semua pihak tentang pentingnya memajukan Danau Toba sebagai tanggungjawab moral bersama baik pemerintah maupun seluruh masyarakat Indonesia.
“Semoga event positif ini terus berlanjut, bukan hanya di UKI Jakarta tetapi bisa menjangkau kampus-kampus lainnya,” harapnya.
Jansen Henry juga mengajak seluruh sesama mahasiswa Batak yang ada di Kota Semarang, Jawa Tengah khususnya dan mahasiswa Batak diseluruh Indonesia ikut berpartisipasi dalam kemajuan Danau Toba.
“Contoh sederhana dengan menceritakan pada teman-teman kita sebagus apa danau Toba siapa tahu teman kita yang lain tertarik untuk berwisata ke danau Toba sebagai wujud partisipasi mendukung pariwisata danau Toba,” ujarnya.













