artikel

Relevansi Pendidikan Karakter

×

Relevansi Pendidikan Karakter

Sebarkan artikel ini

Oleh: Sidik, S.Pd. SD.*)

mediajateng.net – Banyak pihak menilai rusaknya tatanan negara Indonesia dikarenakan bangsa Indonesia kehilangan karakter. Karakter yang dimaksud adalah karakter baik. Pendidikan karakter diyakini dapat megatasi krisi moral yang sedang melanda bangsa ini. Orang mengusulkan pendidikan karakter untuk mencegah perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), praktek politik amoral, bisnis yang culas, penegakan hukum yang tidak adil, perilaku intoleran dan perilaku negatif lainnya (Sajidan, 2012).

Orang yang berkarakter baik dapat mengambail keputusan baik. Karakter tersebut menjadi “kompas” yang mengantarkan seseorang menuju tujuan yang benar. Dan sebaliknya, orang yang karakternya buruk, akan membawa orang tersebut berperilaku buruk. Perilaku buruk ini tidak saja merugiakan diri sendiri, tetapi juga merugikan orang lain. Jika keburukan/kejahatan dilakukan secara kolektif, akan menimbulkan kerugian besar bagi bangsa dan negara.
Di tengah negara yang sedang carut-marut, pendidikan karakter menemukan tempat yang tepat. Pendidikan karakter bertujuan untuk mencetak lulusan (out put) yang tidak cuma “pandai” tapi juga “baik”. Sebab orang “pandai” tetapi “tidak baik” akan menghasilkan orang yang “berbahaya” karena dengan kepandaiannya ia bisa menjadikan sesuatu menyebabkan kerusakan dan kehancuran. Setidak-tidaknya pendidikan masih lebih bagus menghasilkan orang “baik” walaupun kurang “pandai”. Tipe ini paling tidak akan memberikan suasana kondusif karena ia memiliki ahlak yang baik.

Menurut F.W.Foerester, seorang pencetus pendidikan karakter dari jerman mengungkapkan ada empat ciri dasar pendidikan karakter yaitu; pertama, pendidikan karakter menekankan setiap tindakan berpedoman terhadap nilai normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan berpedoman pada norma tersebut. Kedua, adanya koherensi atau membangaun rasa percaya diri dan keberanian, dengan begitu anak didik akan menjadi pribadi yang teguh pendirian dan tidak mudah terombang ambing dan tidak takut resiko setiap kali menghadapi situasi baru. Ketiga, adanya otonomi; yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadinya. Dengan begitu, anak didik mampu mengambil keputusan mandiri tanpa dipengaruhi oleh desakan dari pihak luar. Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan anak didik dalam mewujudkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan merupakan dasar penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Pendidikan karakter sangat berperan penting dalam membangun sumber daya manusia. Dengan pendidikan karakter akan lahirlah SDM unggul, cerdas, cakap dan berahlak mulia. Dengan SDM yang demikian, bukan tidak mungkin Indonesia akan segera pulih dari krisis multi dimensi. Hingga ahirnya menjadi negara maju, adil dan makmur.

Mengingat pentingnya pendidikan karakter dalam pembangunan SDM, maka perlu pendidikan karakter yang dilakukan secara tepat. Lembaga pendidikan (sekolah) dipandang sebagai tempat yang strategis untuk membentuk karakter siswa. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik dalam segala ucapan, sikap dan perilakunya mencerminkan karakter yang baik dan kuat.

Pendidikan karakter dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan dan dapat berupa berbagai kegiatan yang dilakukan secara intra kurikuler maupun ekstra kurikuler. Intra kurikuler dapat diintegrasikan pada mata pelajaran. Misalnya, PPkn, agama, IPS, dan lain-lain. Pada kegiatan ekstra, pendidikan karakter dapat diintegrasikan pada pramuka, pecinta alam, dan lain-lain.
Strategi dalam pendidikan karakter dapat dilakukan melalui antara lain; 1). Keteladanan 2). penanaman kedisiplinan 3). pembiasaan 4). menciptakan suasana yang kondusif 5). integrasi dan internalisasi (Sajidan, 2012).

Keteladanan sangat mempengaruhi berhasil tidaknya pendidikan karakter. Pendidikan karakter tanpa ada contoh nyata, hanya akan menjadi teori belaka. Lewat keteladanan, pendidikan karakter akan berjalan efektif. Sekarang yang dibutuhkan orang adalah contoh nyata. Bukan teori. Orang sudah muak dengan teori yang muluk tanpa ada tindakan nyata. Bisa- bisa, pendidikan karakter yang begitu mulia kandas di tengah jalan lantaran tak adanya keteladanan.

Keteladanan menjadi faktor penting. Dan lewat keteladanan, pendidikan karakter akan menemukan hasilnya. Kalau kita mau berkaca pada Nabi Muhammad, hal ini adalah contoh nyata. Betapa Nabi adalah sosok guru yang komitmen. Beliau mengerjakan apa yang ia katakan. Hasilnya? Dalam kurun waktu 23 tahun, tanah Arab menjadi negeri yang damai, adil dan makmur. Dan Islam dianut oleh jutaan umat manusia di dunia.
Sayangnya, kita sering mengajarkan sesuatu, sementara kita sendiri tidak melaksanakannya. Akibatnya, peserta didik tidak lagi menaruh kepercayaan pada guru. Hal ini juga kerap terjadi di lingkungan keluarga. Misalnya, orang tua menyuruh anaknya ngaji, sementara dia sendiri enak-enak nonton tv. Sungguh sangat ironis. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa keteladanan merupakam kunci keberhasilan dalam pendidikan karakter.

Selain itu, pendidikan karakter akan berjalan dengan baik bila dilakukan melalui penanaman kedisiplinan. Kedisiplinan harus dibiasakan sejak dini. Kedisiplinan tidak hanya di sekolah, tapi juga di rumah. Anak dilatih mengerjakan sesuatu tepat waktu. Waktu diatur sedemikian rupa sehingga tidak terbuang dengan sia-sia. Kapan saatnya tidur, belajar, bermain, nonton tv, dan lain sebagainya. Dengan pengaturan jadwal tersebut, kedisiplinan sedikit demi sedikit akan tertanam pada diri anak. Ketika kedisiplinan sudah melekat pada diri anak, maka kedisiplinan akan menjelma menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Ada 18 nilai karakter bangsa yang diharapkan dapat dijiwai oleh rakyat bangsa Indonesia melalui jalur pendidikan sebagaimana yang dimuat dalam buku pelatihann budaya dan karakter bangsa, Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum, kementeria pendidikan nasional RI, 2011, yaitu; relijius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkngan, peduli sosial dan tanggung jawab (Sajidan, 2012).

Pendidikan holistik berbasis karakter adalah untuk mencetak manusia secara utuh, emosi, sosial, kreatifitas, spiritual, dan intelektal siswa secara optimal.
Kegiatan di sekolah yang mengintegrasikan nilai-nilai karakter tersebut akan membentuk siswa berkarakter positif. Karakter yang demikian merupakan cerminan kepribadian bangsa Indonesia yang sesungguhnya. Kepribadian tersebut menjadi kekuatan bagi bangsa Indonesia untuk memperbaiki keadaan. Keluar dari segala krisis multi dimensi. Dan lebih jauh Indonesia akan bangkit menjadi negara yang besar, kokoh dan maju. Tanpa pembentukan karakter sebagaimana dijelaskan di atas, hal itu mustahil terwujud.

Oleh karena itu, pendidikan karakter mesti kita dukung. Kita respon secara positif. Dengan harapan, semua krisis yang tengah menimpa bangsa ini akan segera pulih. Bangsa ini kelak akan menjadi bangsa yang sehat, kuat dan disegani oleh kawan maupun lawan. Bukan bangsa yang lemah, miskin dan tak berdaya dihadapan negara lain.

*)Penulis adalah Pendidik di SD Negeri 4 Kebutuhduwur, Kecamatan Pagedongan, Kabupaten Banjarnegara.