Pengamat Politik ini dorong kampanye negatif di Pilgub Jateng 2018

SEMARANG, Mediajateng.net – Pengamat politik Universitas Diponegoro Semarang, Nur Hidayat Sardini menyebut kampanye negatif sangat lazim terjadi dalam penyelenggaraan Pemilihan Gubenur Jawa Tengah 2018, nantinya.

Kampanye negatif sangat diperbolehkan karena pemilih sangat membutuhkan banyak informasi secara detil bagaimana rekam jejak pasangan calon yang akan dipilihny. Dinamika perpolitikan antara kedua pasang calon juga akan muncul melalui kampanye negatif di tengah masyarakat.

“Pemilih saat ini sangat miskin informasi rekam jejak pasangan calon gubernur Jawa Tengah, dari dua kandidat yang maju, baik petahana maupun pendatang baru. Ditambah kondisi mesin – mesin partai politik yang semestinya mencerdaskan masyarakat pemilih, justru tidak berperan.” demikian tegas Nurhidayat Sardini, dalam diskusi “Awas Kampanye Hitam” di Hotel Noormans, Semarang, Senin ( 5/2 )

Sardini mengingatkan bahwa Pilgub Jawa Tengah adalah milik rakyat. Maka sudah seharusnya para pemilih cukup terkayakan dengan informasi para calon yang maju sebagai pemimpin. Sebagai pemilih, masyarakat di wilayah Jawa Tengah sudah semestinya tidak lagi sekadar menjadi pemilih supporter alias pendukung si calon.

“Pemilih harus cerdas dan memiliki cukup kesadaran sosial dan kesadaran akan sejarah. Mereka yang naik jabatan sebagai kepala daerah terpilih ini, sangat tergantung kepada pemilih. Para calon harus lebih banyak melakukan “blusukan”. Bukan sebaliknya.” tutupnya

Sesuai aturan UU No 10 Tahun 2016 tentang penyelenggaraan Pemilu, kampanye negatif diperbolehkan selama didalamnya tidak memuat unsur suku agama dan rasa atau SARA.