Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin saat pembahasan langkah ubah gunungan sampahJatibarang, Semarang di Menteri Koordinator Bidang Pangan. Foto: Mediajateng.net/ Humas Pemprov Jateng
Terropong Jateng, Jakarta – Selama berpuluh-puluh tahun, aroma menyengat dan gunungan limbah yang menjulang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Semarang, menjadi saksi bisu betapa peliknya urusan sampah.
Namun, dalam waktu dekat, wajah TPA tersebut tidak lagi sekadar menjadi “kuburan” sisa konsumsi manusia, melainkan berubah menjadi pabrik energi masa depan.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah baru saja menekan pedal gas untuk menuntaskan krisis sampah. Melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Danantara dan pemerintah daerah, Semarang Raya resmi ditunjuk sebagai proyek perdana pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya usai menghadiri pertemuan di Gedung Menko Bidang Pangan, Jakarta, Senin 11 Mei 2026.
Baginya, proyek strategis nasional ini adalah jawaban konkret atas beban lingkungan yang sudah melampaui kapasitas.
“Alhamdulillah, ini akan sangat membantu mengurangi persoalan sampah di Kota Semarang. Kami ingin mengubah musuh (sampah) menjadi teman (energi),” ujar tokoh yang akrab disapa Gus Yasin ini dengan nada optimis.
Ada yang unik dari skema penanganan di Semarang Raya. Pemprov Jateng tidak hanya memikirkan sampah yang datang hari ini, tapi juga tumpukan sampah “warisan” masa lalu yang sudah membukit.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jateng, Heru Djatmika, menjelaskan bahwa pengolahan akan berjalan melalui dua jalur simultan:
Jalur Listrik (Sampah Baru): Fasilitas PSEL milik Danantara akan melahap 1.100 ton sampah segar setiap hari (1.000 ton dari Semarang, 100 ton dari Kendal) untuk dikonversi menjadi daya listrik.
Jalur Solar (Sampah Lama): Bekerja sama dengan TNI, timbunan sampah lama yang sudah bertahun-tahun mengendap akan diolah menjadi bahan bakar solar. Sebagai gambaran, setiap satu juta ton sampah diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 50 ribu liter solar.
“Jadi semuanya masuk di Jatibarang, tapi bahan bakunya beda. Sampah lama diolah jadi solar supaya timbunannya habis, sampah baru langsung jadi listrik,” jelas Heru.
Percepatan ini bukan tanpa alasan. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa penuntasan darurat sampah adalah instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah tidak ingin Indonesia terjebak dalam polusi yang mengancam kesehatan masyarakat.
“Presiden berkali-kali menegaskan, kita tidak mungkin menjadi negara maju kalau persoalan sampah saja tidak bisa diselesaikan,” tegas pria yang akrab disapa Zulhas itu.
Pemerintah pusat telah memetakan 25 lokasi darurat sampah di Indonesia. Targetnya ambisius: administrasi tuntas dalam enam bulan, dan pembangunan fisik rampung dalam dua tahun. Pada Mei 2028, diharapkan seluruh titik darurat sampah di tanah air sudah tertangani.
Meski Semarang Raya menjadi pembuka, Gus Yasin menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin pilih kasih. Pemprov Jateng telah mengusulkan kawasan aglomerasi lain seperti Pati Raya, Tegal Raya, hingga Pekalongan Raya untuk masuk dalam tahap pembangunan berikutnya.
Tantangannya kini ada pada kecepatan eksekusi di lapangan. Pemerintah Kota Semarang sendiri telah bersiap menyediakan lahan seluas 4 hingga 5 hektare beserta infrastruktur penunjangnya di Jatibarang.
Jika proyek ini berjalan sesuai jadwal, tahun 2028 akan menjadi tonggak sejarah bagi warga Jawa Tengah. Di mana sampah bukan lagi dipandang sebagai bau yang dihindari, melainkan sumber cahaya yang menerangi rumah-rumah warga. Krisis lingkungan perlahan bergeser menjadi kemandirian energi.***












