Masalah SMA N 1, Pedekatan Konselor Diperlukan

SEMARANG, Mediajateng.net – Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia (LCKI) prihatin terkait kasus yang menimpa dua siswa SMA Negeri 1 Semarang, AN dan AF, atas dugaan penganiayaan dan tindakan kekerasan, yang akhirnya berujung dua siswa tersebut dikeluarkan oleh pihak sekolah.

Ketua LCKI Kota Semarang, Doni Sahroni mengatakan, dalam kasus ini seharusnya stakeholder atau pihak terkait yang menangani kasus tersebut menggunakan pendekatan konselor, yakni tidak serta merta langsung memecat kedua siswa tersebut. Hal ini perlu dilakukan demi menyelamatkan masa depan mereka sebagai peserta didik.

“Ini untuk dapat melanjutkan masa depan sekolahnya. Jadi jangan sampai generasi bangsa ini yang kita tidak tahu masa depanya itu terputus di tengah jalan. Siapa tahu dua anak ini dimasa depan akan menjadi pemimpin bangsa, tidak ada yang tahu,” katanya saat ditemui di acara Ormas Expo 2018 di Semarang, Jumat (16/3).

Dengan didampingi Dewan Pembina LCKI Kota Semarang, Arnaz Agung Andrasmara dan sejumlah pengurus, Doni melanjutkan, tidak adil jika masa depan kedua anak terpotong hanya karena masalah ini.

“Pernyataan kita jelas, kita konsen bagaimana menyelamatkan anak didik untuk bisa melanjutkan sekolah. Kita berharap bahwa siapapun pihak-pihak yang ada disitu untuk tidak mempermasalahkan ke ranah yang lebih besar lagi. Kalau toh mau dilanjutkan nanti setelah mengikuti ujian nasional,” ungkapnya.

Jika kasus tersebut terus bergulir, pihaknya khawatir beban mental siswa akan semakin besar. Oleh karena itu Ia berharap, semua pihak yang ada didalam permasalahan tersebut harus menahan diri, dan lebih memikirkan masa depan mereka.

“Beban mental yang dirasakan sangat berat, ujian nasional sebentar lagi sekarang bagaimana caranya agar kedua anak itu dapat fokus lagi dalam menghadapi ujian nasional. Harusnya itulah pemimpin-pemimpin yang ada di kota semarang untuk memperhatikan hal itu,” tegasnya.

Sementara untuk mengantisipasi berulangnya kasus-kasus kekerasan yang terjadi didunia pendidikan, khususnya SMA, LCKI Kota Semarang saat ini tengah berkoordinasi baik dengan pihak kepolisian, ataupun Pemerintah Kota Semarang untuk melakukan safari penyuluhan hukum ke SMA-SMA baik negeri maupun swasta.

“Harapanya ketika kita melakukan penyuluhan hukum, tidak terjadi perisitiwa seperti yang ada di SMA Negeri 1. Kami harap pihak sekolah melakukan pendidikan atau kegiatan yang edukatif, tanpa melakukan tindakan kekerasan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Kehormatan Guru Indonesia (DKGI) PGRI Provinsi Jawa Tengah, Dr Sudharto, meminta agar kasus yang menimpa dua siswa SMAN 1 Semarang, dihentikan atau ditangguhkan.

Ia menyayangkan, kepala sekolah tidak menyelesaikan secara bijak. Justru menyulut  kasus ini berbuntut panjang dan membuat gaduh tanpa memertimbangkan dampak psikologis siswa. Apalagi para siswa sedang persiapan menghadapi Ujian Nasional (UN).

“Sudahlah, lingkungan sekolah, kepala sekolah, guru, siswa, lingkungan belajar mengajar, jangan dibuat gaduh,” katanya.

Tindakan kepala sekolah, menurutnya sebagai seorang pendidik harus bekerja menggunakan prinsip ke-profesional-an.

“Profesional itu bekerja demi orang lain. Nah, orang lain itu adalah peserta didik, yang kebetulan sebentar lagi menghadapi ujian,” katanya.(fajar-MJ)