
Media Jateng, Grobogan– Terminal Trans Jateng menjadi solusi pelajar memanfaatkan fasilitas transportasi massal. Hanya saja cukup mengesankan karena terminal yang jadi fokus penumpang naik dan turun ini justru menjadi pusat penjualan miras.
Padahal ppenumpangdari semua kalangan untuk menunggu bus Trans Jateng datang harus duduk sekitar 10 menit bahkan lebih jika terjadi kemacetan.
Selain itu, menurutnya sering melihat orang yang keluar sempoyongan dan berbau alkohol.
Bahkan, tak jarang wanita bertato dengab umur muda maupun usia produktif juga lalulalang.
Sehingga kondisi ini tak hanya merusak moral para pelajar tapi juga membuat pelajar menyaksikan hal yang tak sepatutnya ada di dunia anak bawah umur ini.
Menurut Narto (45) supir truk yang keluar salah satu warung menjelaskan dirinya hanya membeli jamu.
“Enggak cuman beli jamu dan kopi saja,” ucap lelaki yang keluar dari warung.
Sementara itu, saat ditanya aktivitas warung remang penjual miras dengan fasilitas karaoke apaadanya ini disebutkan sudah bertahun-tahun berdiri.
Bahkan parahnya lagi lokasi Polsek Godong juga tak jauh dengan jarak kurang lebih 400 meter saja. Namun aktivitas ini tak pernah tutup bahkan hari raya sekalipun.
“Wah sudah lama berdiri mas. Tahunan lupa saya 3 tahun lebih mungkin, soal itu (Polisi operasi.red) saya tidak tahu. Polsek juga deket tu sebelah sana,” ujar Yanti (34).
Disisilain kondisi serupa juga terjadi pada SMA Negeri 1 Gubug. Tak jauh dari sekolah tersebut terdapat komplek karaoke dan juga kamar hotel sewa perjam, harian atau bulanan. Bahkan tercatat ada 10 lebih tempat karaoke yang berdiri gagah, ramai lampu gemerlap dan tulisan karaoke terpapang.
Tak hanya itu, untuk penjual miras yang dekat sekolah juga terdapat di wilayah Kecamatan Tanggungharjo tepatnya dekat SMA Islam Sudirman dan Mushola Desa Kaliwenang.
Meski sudah dikeluhkan ke pihak yang berwenang tapi aktivitas tersebut masih saja ada dan terang-terangan menjual miras dengan dipajang layaknya jajanan anak.
Perlu Tindakan Tegas
Maraknya dunia pendidikan yang dikelilingi penjual miras dan pengusaha karaoke Pemerhati Psikologis menilai kondisi penjual miras di daerah sekitar kalangan pendidikan sangat mengkhawatirkan.
Bahkan, anak-anak atau pelajar yang melihat secara langsung ini akan menganggap biasa saja, jadi familiar, penasaran hingga mencoba dan akhirnya masuk lingkungan tersebut.
“Pengaruh lingkungan buat anak stau pelajar ini adalah pengaruh pendidikan yang besar. Artinya, jika anak dilingkungan tak baik, maka anak tak sedikit yang terpengaruh lingkungan tersebut. Kondisi ini mengkhawatirkan jadi sebisa mungkin penjualan miras seperti itu jauhkan dari zona anak atau pelajar,” papar Probowatie Tjondronegoro Dra MSi, yang aktif sebagai Psikolog RS Elisabeth Semarang dan staff pengajar di F PSI USM, FK Unika Stikes Elisabeth ini.
Melihat laporan tersebut, Polres Grobogan melalui Kasihumas, AKP Danang akan menindaklanjuti laporan tersebut. Pihaknya akan melakukan koordinasi dengan petugas.
“Baik kami terima laporannya dan akan kami koordinasikan. Terima kasih sudah memberikan informasi,” ujar AKP Danang saat dihubungi.****












