Semarang

Mahasiswa PBSI UPGRIS Singgung Isu Iklim lewat Naskah Drama

×

Mahasiswa PBSI UPGRIS Singgung Isu Iklim lewat Naskah Drama

Sebarkan artikel ini

Media Jateng, Semarang – Isu perubahan iklim sudah menjadi sorotan dari berbagai kalangan di ranah internasional, baik oleh aktivis lingkungan, sineas, hingga dari kalangan akademik. Di Indonesia, isu ini masih perlu mendapat dorongan agar terus mendapat perhatian dari publik. Salah satu kelompok yang mesti dipantik agar memiliki perhatian terhadap isu lingkungan adalah mahasiswa.

“Sebagai akademisi, kami tentu sangat peduli dengan isu lingkungan, terutama terkait perubahan iklim. Mungkin kami tidak bisa melakukan aksi yang langsung berkonfrontasi dengan pihak yang mencemari lingkungan, tetapi kami bisa mengupayakannya agar isu ini mendapat perhatian mahasiswa,” ucap Ahmad Rifai, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), UPGRIS, di Aula Gedung B UPGRIS, Kamis (23/12/2022).

Dalam sambutan acara Festival Hujan Bulan Desember yang digagas oleh Mahasiswa PBSI UPGRIS ini, Rifai mengajak para mahasiswa untuk menuangkan ide-ide mereka terkait isu perubahan iklim melalui karya sastra, yaitu melalui naskah drama.

“Ada enam naskah drama yang ditulis oleh mahasiswa. Mereka membahasa isu-isu terkait perubahan iklim dalam karya-karya tersebut,” tambahnya.

Menurutnya, upaya ini perlu terus menerus digagas agar mahasiswa terpantik kepeduliannya untuk lebih mengerti dan mengikuti fakta-fakta terkait isu perubahan iklim.

“Naskah drama tersebut ke depannya akan didokumentasikan menjadi sebuah kumpulan naskah, yang harapannya akan dipentaskan oleh adik-adik tingkat. Dengan begitu, ide yang semula tertuang di teks akan berlanjut ke ruang pementasan.”

Rini Azkiatu Solikha, salah satu mahasiswa tim penulis naskah drama yang berjudul “Tertipu Ramalan Cuaca”, menyebut naskahnya diilhami dari perubahan cuaca yang sering kali tak terduga.

“Ternyata, perubahan cuaca yang tak bisa diduga ini adalah akibat dari perubahan iklim yang disebabkan oleh kerusakan alam,” ucapnya. Rini menambahkan, meski tak seratus persen bicara soal kerusakan alam, dia berharap karya ini mampu memicunya untuk memupuk kepedulian terhadap isu-isu lingkungan.

Selain naskah “Tertipu Ramalan Cuaca”, karya-karya lain yang ditulis mahasiswa ialah “Leburnya Dilema Bersama Hujan”, “Kemarau Saku di Musim salju”, Sakit Berjamaah”, “Tersipu Malu pada Cuaca”, “Sandiwara Kelam di Tepi Telaga”, dan “Manusia Lalai Dunia Terbengkalai”.

Selain acara diskusi bedah naskah drama, dalam festival tersebut juga diisi dengan pementasan drama dan pemutaran film. Pentas drama tersebut diperankan oleh mahasiswa PBSI semester 3, yaitu naskah “Bulan Bujur sangkar” karya Iwan Simatupang dan “Malam jahanam” karya Motinggo Boesje.

Untuk film pendek yang diputar adalah hasil karya mahasiswa, yaitu “Kualat” karya Rizky Ristyandani dan Mei Paridah, serta film “Pangilon” Radit Bayu dan Shafa Aura. Acara ditutup dengan orasi budaya yang disampaikan oleh Prof. Harjito. (MJ/60)