Jawa Tengah

Ibadah Sebagai Tujuan Hidup

×

Ibadah Sebagai Tujuan Hidup

Sebarkan artikel ini

Pendidikan bukan hanya membentuk manusia yang pandai berhitung ataupun mahir berbahasa, akan tetapi membentuk sumber daya manusia yang bermutu dan beriman, bertakwa, sehat jasmani dan rohani, bermoral dan menguasai ilmu pengetahuan, serta dapat hidup mandiri dan siap menghadapi tantangan

Manusia, menurut fitrahnya adalah makhluk beragama (homo religius), yaitu makhluk yang memiliki rasa dan kemampuan untuk memahami serta mengamalkan nilai-nilai agama. Fitrah inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya dan juga yang mengangkat harkat kemuliaan di sisi Tuhan (Kartini Kartono, 2000:145).

Ibadah berasal dari bahasa Arab yang berarti perbuatan atau pernyataan bukti terhadap Allah yang didasari oleh peraturan agama. Manusia yang menjalani hidup beribadah adalah manusia yang menjalani hidupnya sesuai dengan pegangan yang teguh kepada apa yang dipercayainya diwahyukan Allah

وماخلقت الجن والإنس إلا ليعبدون

Artinya: “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembah-Ku” (QS Adz-Dzariyat: 56).

Sedangkan menurut istilah syar’i“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya’, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tersembunyi (batin) maupun yang tampak (lahir). Maka salat, zakat, puasa, haji, berbicara jujur, menunaikan amanah, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali kekerabatan, menepati janji, memerintahkan yang ma’ruf, melarang dari yang munkar, berjihad melawan orang-orang kafir dan munafiq, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal di perjalanan), berbuat baik kepada orang atau hewan yang dijadikan sebagai pekerja, memanjatkan do’a, berdzikir, membaca Al Qur’an dan lain sebagainya adalah termasuk bagian dari ibadah.

Manusia harus mempunyai tujuan hidup, manusia akan tersesat ketika tidak mempunyai tujuan dan sebagai makhluk beragamaa ibadah harus disandingkan dengan tujuan hidup. Untuk menggapai suatu keinginan tidak lepas dengan usaha saja tapi disandingkan dengan ikhtiar kita kepada sang pencipta (usaha lahir dan batin). dan langkah-langkah menentukan tujuan adalah sebagai berikut

Tentukan tujuan yang benar-benar ingin dicapai

Tentu kita memiliki tujuan atau cita-cita yang ingin diraih. Oleh karena itu, tentukan tujuan yang kita inginkan dan akan dicapai selama hidup kita. Cobalah merenung dan tanyakan ke hati kita, tujuan apa yang hendak dicapai dalam hidup? Semisal, ingin hidup kaya, akhlak yang lebih baik, bahagia, menjadi manajer, pejabat, guru, dosen, pilot, dokter dan lain sebagainya. Setelah menemukan tujuan yang ingin kita capai, tulislah tujuan tersebut. Jadikan tujuan ini sebagai gagasan utama dalam hidup kita.

Tentukan tujuan yang ingin diprioritaskan

Jika kita sudah menemukan tujuan kehidupan, maka prioritaskan kehidupan kita terkait tujuan tersebut.

Tentukan tujuan yang lebih spesifik dan realistis

Menentukan tujuan spesifik dan realistis dapat membuat kita lebih mudah dalam mencapainya serta membantu kita untuk mengutamakan tujuan tersebut, karena tujuan itu kita buat sekecil mungkin dan mudah untuk dilakukan. Tujuan yang spesifik ini tidak akan dapat terlaksana jika tidak realistis. Misalnya, membeli pesawat pribadi, berkeliling dunia, dll.

Menentukan tujuan yang terukur

Sebuah tujuan dapat diraih dengan diukur tingkat keberhasilannya. Lakukan evaluasi terhadap langkah yang kita ambil dalam meraih tujuan hidup. Proses evaluasi dapat membantu kita dalam mengukur tingkat keberhasilan dan penyusunan langkah selanjutnya.

Tentukan jadwal untuk mencapai tujuan hidup

Kita tentu membutuhkan tenggat waktu yang pasti. Buatlah target yang harus diselesaikan. Tenggat dibuat dengan mengira-ngira ketepatannya. Jika kita mampu menyelesaikan sesuatu dalam satu minggu, maka buatlah tenggat satu minggu. Tentukan tenggat sesuai realitas berdasarkan tujuan yang telah kita tentukan.

Jika tujuanmu belum tersampaikan jangan pernah putus asa tetap semangat dan berusaha untuk meraihnya. Sebagaimana firman-NYA “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (QS. Al-Baqarah: 286). Jadi teruslah berusaha. (Rizalul Fikri, S.Pd Guru Bimbingan dan Konseling SMP N 2 Subah)