Terkena Program Normalisasi, PKL Di Semarang Pindah Sendiri

SEMARANG, Mediajateng.net, – Ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) Barito Karya Mandiri Karang Tempel Semarang pindah ke area Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).

Relokasi ini dilakukan sebagai salah satu tahapan dalam rangka normalisasi Banjirkanal Timur. Acara diawali dengan menyiram air dan memecah kendi yang dilakukan oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi di depan Kantor Kecamatan Semarang Timur.

Proyek Normalisasi Banjir Kanal Timur mengharuskan adanya pembersihan wilayah sekitar sungai. Hal ini berdampak terhadap Pedagang Kaki Lima (PKL) Karang Tempel yang selama ini berjualan di Bantaran Sungai Banjir Kanal Timur sepanjang 14,6 kilometer mau tidak mau harus pindah.

Terkait proses relokasi PKL tersebut, Hendi sapaan akrab Wali Kota memberikan apresiasi kepada seluruh PKL.

Memang jika biasanya PKL yang akan direlokasi karena suatu hal akan bentrok, menolak dan seringkali berujung dengan kerusuhan, ini tidak terjadi pada relokasi PKL Karang Tempel. PKL Barito Karya Mandiri Karang Tempel justru dengan swadaya biaya sendiri boyongan, membangun sendiri kios yang bakal ditempati di Kawasan MAJT.

“Dan ini luar biasa boyongan terhebat di dunia, tidak ada PKL mau boyongan dengan biaya sendiri kecuali di sini” ujar Hendi yang disambut tepuk tangan para PKL.

Kesediaan PKL untuk pindah tidak lepas dari pendekatan yang intens kepada rekan-rekan PKL. Pemerintah Kota terus meyakinkan PKL Karang Tempel bahwa normalisasi BKT ini sangat penting guna mencegah banjir di daerah Semarang Timur, Semarang Utara, dan Gayamsari.

“Untuk itu, Pemerintah Kota Semarang melakukan pendekatan dengan rekan-rekan PKL bahwa normalisasi BKT ini yg membantu 376.976 jiwa yg berada di Semarang Timur, Semarang Utara, Gayamsari, yang kalau hujan mesti deg-degan karena banjir”, ujar Hendi.

Masalah yang muncul kemudian Pemerintah tidak punya anggaran untuk membangun lapak untuk relokasi PKL. Kemudian setelah ada komunikasi yang baik antara

Pemerintah Kota Semarang dengan para PKL, disepakati bahwa PKL mendanai sendiri kios yang akan ditempati. Sedangkan Pemerintah Kota Semarang yang menyediakan lahan dan melengkapi fasilitasnya.

Sementara terkait fasilitas yang belum ada, para pedagang meminta supaya dilengkapi prasarana air dan listrik, jalan yang belum di aspal. Hendi menyanggupi untuk segera melengkapi dan meminta pihak terkait seperti PDAM yang akan menyambungkan air, Dinas Perkim yang menyediakan saluran listrik.

“Kami berkomitmen untuk melengkapi fasilitas infrastruktur yang masih belum tersedia.Sementara untuk kelengkapan lainnya yang membuat pasar ini lebih nyaman, akan diselesaikan di tahun anggaran 2019. Misalnya seperti ketersediaan saluran drainase dan yang lain”, papar Hendi.

Terakhir Hendi berpesan kepada para PKL bahwa Pemerintah Kota Semarang dengan PKL adalah sedulur (saudara), saling yakin dan percaya, saling membantu apabila ada masalah akan dicarikan solusinya. (ot/mj)