Prof Purnawan: Menulis Sejarah Itu Mudah

Banjarnegara, mediajateng.net – Para guru diajak untuk tidak takut menulis sejarah, karena menulis sejarah itu mudah.

Hal itu dikatakan Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Surabaya Prof Purnawan Basundoro dalam Pelatihan Daring Program Organisasi Penggerak (POP) Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI) sesi 2, Jumat, 15 Oktober 2021.

Menurut Purnawan, cara termudah menulis sejarah adalah dengan menuliskan hal-hal terdekat dengan kita.

“Tulislah yang ringan-ringan dahulu, seputar sejarah lokal, daerah atau bahkan tentang diri sendiri. Sesederhana apapun tulisan kita, akan menjadi bermakna ketika dipublikasikan, ketimbang sebuah peristiwa itu menguap tanpa bekas sama sekali,” jelasnya.

Dalam publikasi tulisan sejarah pun, tidak harus terpaku pada terbitan untuk jurnal atau buku. Tulisan sejarah dapat disajikan dalam media sosial yang saat ini banyak diakses oleh masyarakat.

“Memang, kebenaran sejarah diupayakan untuk dicapai. Namun menuju itu semua, bisa dilakukan berbagai trial untuk mencari kebenaran,” jelasnya.

Dalam pelatihan itu, Guru Besar Sejarah Kota tersebut juga mendemokan cara mencari berbagai arsip yang dapat dijadikan sebagai bahan riset sejarah. Para peserta diajak menjelajah arsip digital melalui laman delpher, Univresitas Leiden, weredculturen dan lain-lain.

Ia menilai, Banjarnegara sangat kaya khasanah sumber yang dapat diangkat menjadi tulisan sejarah.

“Misalnya Sigaluh, banyak disebut dalam arsip-arsip pada masa Java Oorlog atau Perang Diponegoro. Juga Klampok, arsip pabrik gulanya juga sangat banyak meskipun periode pabrik gula sebenarnya sangat singkat di awal abad 20,” tambahnya.

Salah satu peserta dari SMPN 1 Romelah mengaku pelatihan ini sangat bermanfaat baginya. Ia dapat menemukan hal baru yang dapat dijadikan bahan riset.

“Sangat menarik materinya. Kita bisa mencari banyak sumber sejarah dari internet ternyata. Banyak arsip kolonial yang tersebar di internet, resmi, asli dan dapat kita akses. Arsip tersebut juga bisa dijadikan sebagai bahan pengayaan pembelajaran untuk siswa,” ujar Romelah. (MJ/50)