Penangangan Kasus Lambat, Disinyalir Ada Dugaan Praktek Mafia Hukum di Polda Jateng

Semarang-mediajateng.net-Kuasa hukum PT Albeta Wijaya Yosep Parera mengungkapkan dugaan adanya praktik mafia hukum dan pelayanan buruk dalam penanganan kasus penipuan dan penggelapan yang dilakukan oleh petinggi PT Janico Raya , Rendy Theodorus dikawasan Genuk Semarang yang dilaporkan kliennya di Polda Jawa Tengah.

“Sebenarnya kasus ini sudah empat tahun berjalan, bahkan sudah ada tersangka dan vonisnya,” Ujar Yosep

Namun, lanjut Yosef, hingga saat ini tidak ada kejelasan penanganan kasus tersebut. Dugaan adanya mafia hukum di Polda Jawa Tengah, menurunya didasarkan atas surat jawaban Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) atas aduan kliennya dalam perkara ini.

“Dalam surat Kompolnas diterangkan bahwa telah terjadi dugaan pelayanan yang buruk oleh Polda Jawa Tengah dalam penanganan kasus penggelapan ini,” katanya.

Pelapornya yakni Suhardi, dari PT Albeta Wijaya. Salah satu pemegang saham perusahaan tersebut, Kristina Setiawati, menyebut pelaporan ke Polda Jawa Tengah dilakukan pada 14 Januari 2013, dengan nomer LP/B/19/I/2013/Jateng/Reskrimum. Ditangani oleh Subdirektorat II/Harta Benda Bangunan Tanah (Hardabangtah) Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Tengah.

Kasus penggelapan senilai Rp500 juta tersebut, kata dia, berawal ketika PT Albeta Wijaya melakukan pemesanan kayu sebanyak 3.500 meter kubik kepada seseorang yang bernama Dedi Zulkarnain.
Oleh Dedi yang sudah menjalani pidana dalam kasus ini, dinyatakan kayu pesanan dari Kalimantan telah siap dikirim.

“Klien saya sudah menandatangani surat perjanjian biaya pengiriman sebesar Rp1 Miliar yang sudah langsung dibayar setengahnya melalui transfer,” katanya.

Namun dalam perjalanannya, kayu yang akhirnya dikirim ke Semarang itu tidak diserahkan ke PT Albeta Wijaya. Padahal separuh dari biaya pengiriman tongkang bermutan kayu itu telah dibayar.

Menurut dia, tidak ada itikad baik Rendy Theodorus (RT) untuk menyerahkan kayu atau mengembalikan Rp500 juta yang telah dibayarkan. Ia menuturkan RT sendiri telah ditetapkan sebagai tersangka namun tidak pernah hadir memenuhi panggilan polisi.

Oleh karena itu, Yosep telah meminta kepada Kapolda Jawa Tengah melalui surat resmi untuk segera memerintahkan penuntasan penyidikan perkara tersebut dan melimpahkan ke Kejaksaan.

“Kami minta laporan penggelapan tersebut segera ditindaklanjuti,” katanya.

Ia mengungkapkan penyidik kepolisian sudah bekerja profesional untuk menangani perkara ini.

“Namun, ada kendala mafia hukum. Karena tersangka tidak pernah memenuhi panggilan, maka polisi bisa melakukan upaya paksa,” katanya.

Terpisah, Kepala Bidang humas Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Djarod Padakova, mengatakan pelaporan tersebut sudah dan saat ini masih ditindaklanjuti. Sudah sampai proses penyidikan namun belum menetapkan tersangka.

“Kita telah memeriksa 11 saksi, termasuk saksi ahli hukum pidana. Kita masih membutuhkan beberapa saksi lagi untuk lengkapi berkas. Terlapor sudah dipanggil untuk dipanggil, belum hadir. Tentunya bilamana panggilan selanjutnya tidak hadir, maka kan disertakan surat membawa (jemput paksa). Jika sudah ada alat bukti kuat dan ada indikasi penipuan penggelapan, tentunya setelah dilakukan gelar akan segera kita tetapkan tersangka,” ungkapnya (MJ-303)

Comments are closed.