Kota Semarang Peringkat Ke-5 Kematian Ibu

SEMARANG, Mediajateng.net, – Angka Kematian Ibu (AKI) di Kota Semarang, terbilang masih tinggi. Berdasarkan data terbaru yang disampaikan USAID-Jalin Project, Kota Semarang menduduki peringkat ke-5 di Jawa Tengah dengan 8 kasus, sampai dengan bulan Juli minggu ke-3 tahun 2018.

Menurut Regional Manager Central Jawa USAID-Jalin Project, Hartanto Hardjono, kasus tersebut bisa dicegah. Dengan cara melihat hasil dari audit kematian yang dilakukan oleh pemerintah daerah setempat, dalam hal ini Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

“Dengan (audit kematian) itu, bisa diketahui penyebabnya. Dan selanjutnya bisa dilakukan upaya pencegahan. Maka dari itu, program USAID-Jalin merangkul semua pihak. Baik dari pemerintah, masyarakat, media dan stakeholder. Kami fokus untuk menurunkan kematian ibu dan anak,” ungkapnya dalam sebuah diskusi di Semarang, Selasa (7/8).

Sayangnya sampai dengan saat ini, pihaknya belum menerima audit kematian ibu dan bayi baru lahir. Namun kata Hartanto, ada sejumlah upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir.

“Diantaranya, meningkatkan mutu layanan, rujukan yang efektif, tingkatkan pemanfaatan JKN dan tingkatkan tata kelola sistem kesehatan ibu dan bayi baru lahir,” bebernya.

Kota Semarang sendiri kata dia, telah melakukan co-creation atau kreativitas dari kepala daerahnya dengan meluncurkan Program Petugas Surveilans Kesehatan (Gasurkes), Mobil Ambulance Hebat dan Ambulance Motor.

“Gasurkes tugasnya memantau ibu hamil. Ambulance Hebat sigap melayani masyarakat. Jadi tidak terlambat bawa ibu yang mau melahirkan di rumah sakit atau di rumah bersalin. Atau ada lagi, seperti Pemprov Jateng pada 2016 mencanangkan program “Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng,” tambahnya.

Menurutnya, program-program layanan kesehatan tersebut bisa menurunkan angka kematian ibu dan anak baru lahir.

Berdasarkan data USAID-Jalin sampai dengan minggu ketiga bulan Juli Tahun 2018 yang mencapai 227 kasus, dengan rincian yakni peringkat pertama kematian ibu terjadi di Grobogan dengan 20 kasus, disusul oleh Cilacap, Banyumas dan Boyolali peringkat ke-2 dengan 13 kasus, dilanjut Brebes dan Batang 10 kasus. Sedangkan peringkat ke-4 adalah Klaten dan Sragen dengan 9 kasus. (ot/mj)