Kota Lama Segera Steril Dari Kendaraan Pribadi

SEMARANG, Mediajateng.net, – Walikota Semarang Hendrar Prihadi segera melakukan sterilisasi kawasan Kota Lama Semarang dari kendaraan bermotor. Hal ini dilakukan guna menghadapi lonjakan kunjungan wisatawan di akhir tahun demi kenyamanan pengunjung.

“Kalau untuk liburan Natal dan Tahun Baru dengan kondisi seperti ini sudah bisa dikunjungi, cuma kan masih ada persoalan parkir. Jadi targetnya masih ada waktu sekitar 3 bulan untuk kami persiapkan kantong parkir, mobil listrik, sepeda onthel, dan seterusnya, sehingga nantinya tidak ada kendaraan pribadi lewat yang mengganggu,” jelasnya saat ditemui di kantornya, Rabu (28/8).

Hendi, sapaan akrabnya, tak ingin rencana kawasan Kota Lama bebas dari kendaraan bermotor terlalu dipaksakan jika belum siap.

“Tapi sepanjang itu belum siap, saya sampaikan kepada teman-teman kita tidak akan memaksakan sterilisasi karena semuanya harus happy, termasuk yang sudah punya usaha di situ harus kita amankan. Jangan sampai kita paksakan terus tidak ada yang datang karena kesulitan,” tegasnya saat ditanya terkait kesiapan Kota Lama dalam menghadapi lonjakan kunjungan wisatawan di akhir tahun.

Hendi juga menuturkan dalam dua tahun ke depan akan memperluas kawasan Kota Lama Semarang yang saat ini baru mencakup area Little Netherland.

Menurutnya, seminggu yang lalu perwakilan Pemkot Semarang menandatangani keputusan Kota Lama, Pecinan, Kampung Melayu, dan Kampung Arab sebagai Cagar Budaya Nasional. Artinya, pola pembangunan di sekitar Kota Lama Semarang akan ditata sesuai perundangan cagar budaya yang ada.

“Dengan begitu saya sudah sampaikan ke Dinas Tata Ruang agar membuat master plan rencana pembangunan untuk tiga kawasan lain setelah Little Netherland, yaitu Melayu, Pecinan, Arab, sehingga kami dapat meneruskan pembangunan,” ujarnya.

Di sisi lain, Hendi pun optimis jika pembangunan Kota Lama kedepan tak hanya bertumpu pada kemampuan pemerintah saja, pasalnya semakin hari semakin banyak pihak yang berminat untuk berinvestasi di Kota Lama Semarang.

“99 persen bangunan di Kota Lama itu milik private sehingga APBD tidak bisa masuk. Jadi jika pemilik bangunan tidak mampu merestorasi maka akan B2B (Business to Business),” terang Hendi.

“Sampai dengan minggu ini kami sudah diinformasikan kalau Starbucks sedang mencari tempat di Kota Lama, maka kita bantu sambungkan untuk ada tempat yang bisa disewa. Atau kemarin juga ada informasi pengusaha akan bawa franchise besar ke Kota Lama, ya kita temukan dengan beberapa pemilik gedung,” tambahnya.

Hendi juga meyakinkan bahwa pihaknya dalam pengembangan Kota Lama akan fokus membangun fasilitas publik untuk mendukung investasi yang masuk. “Pemerintah dalam hal ini akan memberikan alokasi anggaran untuk mendukung itu yang sifatnya fasilitas publik misalnya jalan, saluran, lampu, street furniture, dan seterusnya,” ucap Hendi.

“Maka ini menjadi jelas, bahwa polanya yang akan berjalan ke depan dalam pembangunan Kota Lama baik Little Netherland maupun tiga kawasannya lainnya akan seperti itu,” tutupnya. (ot/mj)