Bocah 9 Tahun Penderita Hydrochepalus Butuh Uluran Tangan

BANJARNEGARA, mediajateng.net – Dwi Ariyanto, bocah 9 tahun asal dusun Sabuk Sari, RT 2 RW 5 Desa Kebondalem, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara sehari hari hanya bisa tidur terlentang, lemas dan hanya bisa menelan susu cairan kemasan sachet karena menderita penyakit dan kelainan yakni Hydrochepalus. (Rabu, 10/3/2021)

Anti sang ibu hanya bisa pasrah dan berdoa setelah berbagai upaya dilakukan untuk menyembuhkan dan mengobati si bungsu dari dua bersuadara ini. Anti menuturkan kelainan pada putra keduanya terjadi pada saat usia dua bulan.

“berbagai usaha dan upaya mencoba kami lakukan hingga tak kurang akal agar dwi bisa sembuh seperti layaknya anak-anak lainya, namun apa daya karena keterbatasan dan latar belakang ekonomi yang hingga saat ini dwi hanya bisa dirawat dirumah” paparnya.

Penyedotan cairan pernah dilakukan satu kali di RSUD Margono Purwokerto setelah mendapat rujukan dari RSUD Banjarnegara. Naluri kedekatanya dengan sang nenek yang setia merawat dan mendampinginya membuat Dwi hanya bisa menangis saat sang nenek meninggal pada awal maret yang lalu.

Merespon hal tersebut Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Banjarnegara bergerak cepat dengan menggandeng stake holder terkait seperti Dinas Kesehatan, PMI Kecamatan Bawang, Puskesmas 1 Bawang, Perangkat Desa Kebondalem dan Bidan Desa, dibawah komando ketua Bidang Pelayanan Kesehatan Ahmad Setiawan mewakili ketua PMI Kabupaten Banjarnegara melakukan observasi, silaturahmi, kunjungan dan pemeriksaan kesehatan kepada Dwi Ariyanto.

“kami memberikan dukungan kepada penderita dan keluarga, memeriksa kondisi terkini pasien, serta sedikit memberikan bantuan Sembako untuk kebutuhan 1 bulan, paket hygine kit serta 10 Box susu“ paparnya.

Penderita membutuhkan perhatian dan dukungan dari berbagai pihak karena kondisinya yg tidak memungkinkan untuk beraktifitas sebagaimana mestinya dan membutuhkan perawatan khusus dari keluarga. PMI berupaya memberikan bantuan kemanusiaan untuk sedikit meringankan beban penderita sehingga harapan kedepan penderita bisa terpenuhi kebutuhanya dan dapat terjaga kondisi kesehatannya dengan bantuan dari berbagai pihak tentunya.

Selain itu, upaya untuk terus melakukan pendampingan serta koordinasi intensif dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara untuk melakukan penanganan selanjutnya atau tindak lanjut setelah observasi dilapangan. (MJ/50)