Media Jateng, Semarang – Sejak 2005, Indonesia masuk dalam 10 besar negara dengan kasus kekerasan seksual secara daring terhadap anak tertinggi. Setidaknya 22 persen anak-anak menemukan konten seksual secara tidak terduga di dunia maya, 9 persen melaporkan secara aktif mencari materi semacam itu.
Anak-anak yang lebih tua dan anak laki-laki adalah yang paling mungkin terpapar gambar dan video seksual secara daring. Selain itu, 2 persen anak usia 12–17 tahun yang menggunakan internet di Indonesia menjadi korban eksploitasi dan pelecehan seksual online.
Hal tersebut diungkapkan Manager Program Yayasan Setara Yuli Sulistiyanto. Dia bahkan menyebut jika kasus di Jawa Tengah juga cukup tinggi.
“Di Provinsi Jawa Tengah, data Simfoni menyebutkan korban kekerasan terhadap anak pada 2022 sebanyak 1.224 anak terdiri dari 289 laki laki dan 979 perempuan,” tambahnya saat berbicara pada kegiatan bertajuk Pengasuhan Positif di era Digital di SLB Widya Bhakti Semarang, Jumat (16/2/2024)..
Yuli mengungkapkan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Setara-OCSEA (Online Child Sexual Exploitation and Abuse) yang digelar Yayasan Setara bekerja sama dengan Dinas Perempuan dan Anak Provinsi Jawa Tengah dan didukung Unicef Indonesia.
Dia juga mengungkapkan, hasil studi baseline terhadap perilaku online anak menemukan bahwa beberapa anak menggunakan Virtual Private Networks (VPNs), memiliki akun online yang dirahasiakan, merasa aman di internet, dan tidak memahami bahaya yang ada saat online serta menunjukkan perilaku online yang beresiko.
Hasil ini menggambarkan bahwa anak-anak masih sangat rentan terhadap kekerasan dan eksploitasi seksual di dunia maya serta berpotensi bermasalah dengan hukum. Selain itu juga ditemukan bahwa anak-anak tidak sepenuhnya memahami bahaya yang ada saat online serta pengetahuan anak-anak tentang cara menjaga keamanan saat online masih terbatas.
Kegiatan di SLB Widya Bhakti Semarang tersebut dibagi menjadi dua kelas. Kelas pertama diikuti oleh orang tua atau wali murid. Sementara kelas kedua diikuti oleh para siswa dengan tajuk Edukasi, Kenali, Cegah, Lawan OCSEA. Puluhan peserta tercatat mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir.
Kepala SLB Widya Bhakti Semarang Ani Kurniasih menyambut baik acara tersebut. Dia berharap lewat kegiatan itu, para siswa dan orang tua/wali murid lebih waspada terhadap eksploitasi dan kekerasan seksual anak secara daring.(MJ/60)












