Ajaibnya Sumur Garam Grobogan

Lazimnya membuat garam dilakukan oleh warga atau petani garam yang tinggal di daerah pesisir pantai. Namun, di Kabupaten Grobogan, pembuatan garam bisa dilakukan di daratan yang sangat jauh dari pantai apa lagi lautan.

Pembuatan garam di centra pembuatan garam Desa Jono, jauh berbeda dengan pembuatan di kawasan pesisir pantai. Dimana, air laut yang dikumpulkan ke dalam kolam dangkal dengan cara dialirkan melalui parit kecil. Setelah di dalam kolam, air ditunggu mengering dan berubah kristal garam.

Di desa Jono, Kecamatan Tawangharjo, air untuk membuat garam diambil dengan cara ditimba dari dalam sumur. Air yang diambil kemudian dialirkan ke dalam lubang tandon yang dibuat di dalam bilik kecil di tengah komplek persawahan. Setelah sekitar dua hari dirasa lumpur mengendap, air kemudian dituang ke dalam bambu yang dibelah menjadi dua atau oleh petani disebut klakah.

“Air dari sumur disimpan di dalam tandon selama sekitar dua hari. Setelah mengendap lumpurnya, air kemudian di tuang di klakah. Klakah itu bambu, bambu kita pilih yang kuat dan besar biar bisa menampung air garam lebih banyak,” ujar Kasrul (65) petani garam asal Desa Jono, Senin (6/3).

Pria yang bekerja sebagai petani garam sejak kelas lima sekolah rakyat (SR) ini menjelaskan, setelah di tuang di klakah, air di jemur beberapa hari. Setelah berubah menjadi kristal, Setelah itu di ambil kristal garamnya.

“Garam desa Jono berbeda dengan garam dari laut. Garam di sini berwarna sedikit pink jika garam laut berwarna putih. Petani garam disini kurang mendapat perhatian dari pemerintah kabupaten. Jadi, dari sekitar 2.000 petani yang mengelola ratusan sumur, sekarang tingga ratusan dan sumur yang masih dipakai tinggal sekitar lima puluh sumur,” tambahnya sembari menuangkan air dari sumur ke pipa untuk mengalirkan air garam ke tandon.

Pengakuan serupa diungkapkan, Sunarti, petani berusia empat puluh tahun ini mengaku, pada saat musim penghujan, masa jemur air garam menjadi lebih lama.

“Jika kemarau seminggu sudah bisa dipanen. Karena sekarang banyak hujan, maka garam baru bisa dipanen setelah sepuluh hari hingga dua minggu,” tambah wanita yang memanen garam bersama Sudarji suaminya dan Sulasih anak perempuannya.

Penghasilan dari bertani garam, aku dia, dinilai lebih baik dibanding bertani di sawah.

“Setiap minggu kita bisa panen. Jika dihitung mendapatan sekitar Rp 300 hingga Rp 500 ribu bahkan bisa sampai Rp 700 ribu. Jika bertani disawah panen tiga bulan dan hasilnya tidak menentu,” tambah dia.

Tentang kenapa air di desanya bisa dibuat garam, wanita yang keberka meneruskan usaha orang tuanya itu mengaku tidak tahu menahu. Namun, karena mengandung garam, air di desanya cenderung hangat.

“Ada yang malahan panas, jadi digunakan untuk mengobati penyakit seperti gatal-gatal. Tapi, biar obatnya merasuk, lebih baik mandinya setelah mahrib atau seebelum subuh,” ungkapnya sembari menambahkan, saat ini makin banyak orang yang datang untuk mengobati gatal di tubuh dengan cara madni.

Rasa asin, tidak terjadi di seluruh wilayah desa Jono. Namun, air asin hanya dialami di dukuh Jono Krajan. Dimana, dukuh lain yang dibatasi sungai tidak merasakan air asin.

“Air asin tidak hanya di permukaan. Tapi, semakin dalam kita melubangi tanah air maki asin. Jaman dulu kedalaman sumur garam bisa mencapai 35 meter. Tapi, sejak petani garam berkurang air sekarang dangkal saja sudah bisa dapat sumber air asin,” aku Sri, pensiunan guru yang tinggal di desa Jono Krajan.

Karena asinnya air sumur, sebelum munculnya air ledeng sebutan bagi aliran air dari perusahaan daerah air minum (PDAM), warga harus mengambil air dari sungai yang mengalir di desa tersebut.

“Karena air sungai harus diendapan, jadi warga ada yang punya enam bahkan sepuluh gentong untuk menampung air sungai sebelum dimasak. Anehnya, air sungai di Desa Jono, baik yang bening atau keruh, jika sudah masuk ke dalam gentong ata bak tandong tembok sekalipun, kurang dari setengah jam sudah jernih,” tambah pria yang tingga lebih dari 30 tahun di desa tersebut.

Keanehan air di desa Jono, tidak saja tersebar di wilayah Grobogan. Namun, juga terkenal hingga ke Solo, Yogyakarta bahkan Jakarta.

“Banyak mahasiswa dari UGM yang datang dan belajar di Desa Jono. Entah mahasiswa apa, namun mereka belajar tentang adanya garam di desa Jono selama seharian,” tambahnya (MJ-505)