Banjarnegara

‎Di Desa Penusupan, Banjarnegara, 29 Rumah Terancam Relokasi

×

‎Di Desa Penusupan, Banjarnegara, 29 Rumah Terancam Relokasi

Sebarkan artikel ini

‎Banjarnegara, MediaJateng.Net – Sejumlah 29 rumah di Desa Penusupan, Kecamatan Pejawaran, terancam relokasi. Hal ini dikarenakan gerakan tanah yang terus terjadi setelah turun hujan dengan intensitas tinggi. Kejadian yang telah lama terjadi, namun makin kentara di tahun 2019 ini, kembali terjadi hari Selasa tanggal 21 Januari 2025.

‎“Kejadian pertama di tahun 2019 mengakibatkan 7 rumah mengalami roboh dan rusak berat. Alhamdulillah dengan bantuan dana CSR dan BTT Provinsi sudah ditangani dengan cara merelokasi ke tempat yang lebih aman. Kebetulan masing-masing korban mempunyai tanah di lokasi lain yang aman sehingga mempercepat proses relokasi ini,” kata Kades Penusupan Budi Indarto, Rabu (22/01/2025) di kantor desa.

‎Berdasar pengamatan kami, lanjutnya, gerakan tanah ini disebabkan oleh abrasi sungai Bolang yang ada di bawah permukiman warga.

‎“Rumah yang paling parah dampaknya juga yang paling berdekatan dengan bantaran sungai,” ujar Budi.

‎Kalau kejadian yang kemarin pagi terjadi, sambung Budi, mengakibatkan 29 rumah terancam. Dari jumlah tersebut 3 rumah mengalami rusak berat.

‎Selebihnya rumah mengalami kerusakan sedang dan rusak ringan. Selain rumah rusak, gerakan tanah juga menyebabkan jalan kabupaten sepanjang kurang lebih 300 m mengalami kerusakan di berbagai tempat.

‎“Jalan di depan kantor desa patah. Turun sampai kurang lebih 50 cm. Kalau dihitung sejak semula, jalan di depan balai desa turun 1 m, Bahkan jalan desa dan permukiman yang terletak di sebelah jalan di seberang kantor desa, turun sampai 3 m,” kata Budi.

‎Kami pribadi, selaku Kades dan warga sudah berinisiatif melaporkan kejadian ini pada Bupati dan OPD terkait. Prioritas adalah penanganan bronjongisasi. Hal ini untuk menghambat pergerakan tanah.

‎OPD terkait, Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup sudah meninjau lokasi dan menghitung kebutuhan bronjong. Rencana bantaran sungai di sejumah titik akan dilakukan bronjongisasi dan talud.

‎“Kami minta perhatian dan bantuan dari Pemerintah Kabupaten untuk dicarikan solusinya. Sebab bila tidak segera ditangani, khawatirnya tidak saja 29 rumah yang harus relokasi, namun seluruh desa,” tegas Budi.

‎Terpisah, Kepala DPKPLH, melalui Kabid Perumahan Idrus Amanulloh membenarkan bahwa faktor abrasi yang terjadi di Sungai Bojong menyebabkan terjadinya gerakan tanah ke arah sungai.

‎Gerakan tanah inilah yang menyebabkan rumah terseret hingga ada yang roboh, rusak berat, rusak ringan, miring, tembok terbelah dan retak-retak. Jalan desa dan jalan provinsi juga amblas serta muncul retakan di sejumlah tempat.

‎“Gerakan tanah terjadi biasanya setelah terjadi hujan dengan itensitas tinggi. Selain itu, drainase yang buruk juga turut memperparah terjadinya gerakan tanah” ujar Idrus di kantornya.

‎Pemerintah tengah berupaya untuk menangani bencana ini. Salah satunya dengan merancang pembangunan bronjong dan talud pada bantaran sungai Bojong di sejumlah titik.

‎“Semetara itu, untuk mengurangi dampak bencana, bila muncul retakan upayakan segera ditutup dengan menggunakan tanah. Saluran drainase juga dibenahi agar air mengalir lancar” pungkas Idrus.***(MJ/BPBD)