Banjarnegara

Ngaji di Tengah Pasar: Alunan Musik, Doa, dan Cinta Bertemu di Sido Agung

×

Ngaji di Tengah Pasar: Alunan Musik, Doa, dan Cinta Bertemu di Sido Agung

Sebarkan artikel ini

Banjarnegara, MediaJateng.net – Siapa sangka, di tengah keramaian Pasar Sido Agung, Desa Kincang, Kecamatan Rakit, Banjarnegara, hadir sebuah ruang yang berbeda—bukan tempat transaksi jual beli, melainkan pertemuan hati dan jiwa.

Sejak Januari 2025, Majelis Rasan-Rasan rutin digelar setiap bulan, menjadi panggung sederhana yang menyatukan irama musik, lantunan doa, dan cinta kasih dalam satu harmoni spiritual yang menggetarkan.

Malam itu, Senin (7/4/2025), pasar yang biasanya riuh oleh suara pedagang dan pembeli, mendadak berubah menjadi tempat syahdu.

Ratusan orang berkumpul, tak untuk belanja, melainkan tenggelam dalam dzikir dan musik yang menyentuh relung hati.

Kha Jie Rock Band membuka acara dengan gebrakan unik—menggabungkan nuansa rock dengan pesan-pesan religi.

Mereka bukan sekadar tampil, tapi menggugah. Lagu “Bento” milik Iwan Fals dan “Cintaku Bertepuk Sebelah Tangan” dari Dewa 19 terdengar berbeda, karena dimainkan bukan hanya dengan gitar dan drum, tapi juga dengan hati.

Ketika “Kucari Jalan Terbaik” dinyanyikan, langit pun ikut berbicara. Gerimis turun perlahan, seolah menyatu dengan irama lagu. Namun, bukan kabur, para jamaah justru makin khusyuk.

Lagu itu bukan hanya soal pencarian, tapi juga cermin batin, dan malam itu, banyak hati yang menemukannya.

Satu per satu lagu mengalir, bukan untuk hiburan, tapi menjadi media menyampaikan nilai cinta, harapan, dan spiritualitas. Momen paling mengharukan hadir saat lagu “Cinta Terbaik” dilantunkan.

Suara vokalis perempuan yang lembut dan penuh semangat, berpadu dengan suara jamaah yang menyanyi bersama, menciptakan getar yang tak mudah dilupakan.

Di sela penampilan, suara hadroh bergema. Anak-anak kecil maju, membacakan doa dan sholawat dengan polos dan penuh semangat.

Doa-doa mereka, sederhana tapi tulus, menjadi simbol harapan masa depan. Bahwa ilmu, iman, dan cinta kepada agama harus terus diwariskan.

Rasan-Rasan bukan hanya pengajian biasa. Ia hidup dalam dialog. Di sini, jamaah bebas bertanya, berbagi kegelisahan, atau bahkan bercanda.

Seperti malam itu, ketika seorang bertanya, “Ada nggak, doa supaya bisa jadi orang kaya?” Sontak senyum dan tawa mengembang, tapi jawabannya sungguh mendalam.

Gus Khayat menjawab dengan tenang, menyebutkan wirid yang bisa diamalkan untuk meminta kecukupan rezeki sesuai kebutuhan:

“Yā Ghaniyyu yā Hamīd, yā Mubdi’u yā Mu‘īd, yā Rahīmu yā Wadūd. Aghnini bi ḥalālika ‘an ḥarāmik, wa bifaḍlika ‘amman siwāk.”

Artinya: “Wahai Tuhan Yang Maha Kaya dan Maha Terpuji, Yang Maha Memulai dan Mengembalikan, Maha Penyayang dan Pengasih, cukupkan aku dengan rezeki halal-Mu, dan jauhkan aku dari yang haram. Beri aku kecukupan dari karunia-Mu, bukan dari selain-Mu.”

Pertanyaan demi pertanyaan mengalir malam itu, dijawab penuh kesabaran oleh tiga narasumber: KH Khayatul Maki (Gus Khayat), Kiai Abdul Basyir, dan Kiai Abdul Wahid.

Setiap jawaban bukan hanya solusi, tapi juga pelukan hangat bagi hati-hati yang resah.

Dalam ceramahnya, Gus Khayat menegaskan: Islam adalah agama kasih sayang, yang hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam. Bukan dengan ancaman atau tekanan, melainkan dengan cinta, pengertian, dan kedamaian.

Konsep Rasan-Rasan dirancang untuk mendekatkan agama kepada masyarakat dengan pendekatan yang lebih luwes. Jamaah dipersilakan berbicara, bertanya, dan menyampaikan keresahan hati mereka.

Semua ini menjadi bagian dari proses tawasul — saling mendoakan dan saling menguatkan dalam bingkai kasih.

Pendekatan Gus Khayat mengingatkan pada warisan para wali tanah Jawa seperti Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang, yang menyebarkan Islam dengan pendekatan seni, budaya, dan keteduhan.

Lewat rengeng-rengeng atau lirihnya suara hati, umat diajak untuk lebih dekat kepada Allah, dengan cara yang lembut dan menyentuh.

Acara malam itu berhasil menyatukan masyarakat dari berbagai usia dan latar belakang dalam satu ruang kebersamaan. Di tengah pasar, mereka menemukan kembali kedekatan dengan Tuhan dan sesama.

Pengajian semacam ini menjadi oase spiritual, sekaligus pengingat bahwa agama bisa hadir dengan cara yang menyejukkan, merangkul, dan penuh cinta. Dan mungkin, dari sebuah pasar yang ramai, pesan-pesan kebaikan itu bisa mengalir jauh ke hati-hati yang rindu kedamaian.***