Banjarnegara, mediajateng.net – Program Organisasi Penggerak (POP) yang tengah dijalankan Yayasan Sahabat Muda Indonesia (YSMI) bergotong royong dengan Kemendikbudristek dinilai berdampak pada aspek pembelajaran, bahkan pada kebudayaan yang ada di masyarakat sekitar sekolah.
Hal itu diungkapkan oleh Ketua Umum YSMI Heni Purwono dalam kegiatan Paparan Evaluasi Dampak POP Bagi Sekolah Sasaran, Sabtu (20/11/2021) di Hotel Aryaduta Jakarta.
Di hadapan ratusan kepala SMP se Indonesia, Heni menceritakan pengalaman praktik baik pelaksanaan POP di Kabupaten Banjarnegara.
“Jadi ternyata program kita mendorong para guru untuk melakukan riset di sekitar sekolah sebagai bahan pembelajaran tidak hanya bermanfaat untuk guru sendiri. Beberapa kebudayaan di sekitar sekolah juga berhasil didokumentasikan dalam media audiovisual” jelas Heni.
Hal tersebut, tambah Heni, sangat diapresiasi oleh masyarakat. Karena masyarakat juga sangat ingin diajak berkolaborasi dengan sekolah agar budaya yang ada di masyarakat tetap lestari karena dipelajari oleh para siswa.
“Seperti tradisi budaya Ngelik di Karangkobar, pelestari budayanya berusia 70 sampai 90 tahun. Mereka semangat sekali ketika tahu kesenian mereka akan difilmkan untuk pembelajaran siswa. Sehingga sinergi semacam ini saya pikir bagus untuk dikembangkan di semua sekolah” jelas Heni.
Sementara itu Rahmawati dari Pusat Asesmen Pembelajaran Kemendikbudristek mengungkapkan, harapannya intervensi yang dilakukan oleh Ormas kepada sekolah sasaran dapat meningkatkan hasil Asesmen Nasional (AN) sekolah.
“Instrumen kita sama yaitu AN, sehingga di tahun kedua nanti Ormas dapat melakukan intervensi terhadap hal yang masih lemah berdasarkan hasil AN 2021, untuk kemudian diperbaiki di AN tahun 2022. Prinsipnya intervensi ujungnya harus meningkatkan kompetensi siswa” tandas Rahmawati. (MJ/50)












