Refleksi 20 Tahun Reformasi, Ini Komentar Sudirman Said

SEMARANG, Mediajateng.net – Calon Gubernur Jawa Tengah nomor urut dua, Sudirman Said, kurang sepakat dengan sikap pemerintah yang melarang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengumumkan calon kepala daerah yang menjadi tersangka kasus korupsi.

Menurutnya, biarkan KPK bekerja sesuai tupoksinya. Karena kata dia, tujuan KPK adalah agar masyarakat tidak salah pilih. Sehingga menjadi penting bagi KPK untuk melakukan hal tersebut.

Beberapa waktu lalu, sejumlah lembaga negara menggelar rapat dan meminta KPK tidak mengumumkan sejumlah kepala daerah yang menjadi tersangka korupsi. Hal itu dikarenakan akan menggangu proses Pilkada.

“Ini bentuk intervensi yang diluar kepatutan. Karena jika ada calon yang berpotensi jadi tersangka itu terpilih dan dikemudian hari menjadi tersangka, yang mengalami kerugian adalah masyarakat banyak,” ujarnya dalam diskusi Refleksi 20 Tahun Reformasi Kembali ke Pancasila dan UUD 1945, Indonesia Darurat Korupsi, Selasa (29/5) di Semarang.

Diskusi tersebut dihadiri juga oleh narasumber lain yakni Rocky Gerung dan Ratna Sarumpaet. Sementara itu Cagub Jateng yang diusung PDIP, Ganjar Pranowo, berhalangan hadir.

Sudirman Said menambahkan, kondisi seperti itu akhirnya mengharuskan muncul sosok pemimpin yang memiliki pengetahuan dan etika yang kuat. Tanpa dua hal itu maka kepemimpinan cenderung digunakan bukan untuk kepentingan rakyat banyak.

“Kekuasaan adalah keleluasaan yang harus dijaga dengan ilmu dan etika. Kekuasaan yang tak ditopang oleh pengetahuan kuat dan akhlak yang baik, sering menimbulkan kerusakan,” kata Pak Dirman, sapaan akrabnya.

Masyarakat kata Pak Dirman, dapat mencegah penggunaan kekuasaan dengan sewenang-wenang itu dengan memilih pemimpin yang cerdas dan beretika siapa pun dia.

Menyambung persoalan itu, Ratna Sarumpaet meminta masyarakat tidak tinggal diam, proaktif mencari tahu tentang status calon kepala daerah yang dikait-kaitkan dengan kasus korupsi.

“Kalau perlu datangi KPK tanyakan mengenai kemungkinan kasusnya seperti apa agar mendapat kejelasan. Jika berpotensi tersangkut ya jangan dipilih,” tandas dia.

Sementara itu Rocky Gerung menyampaikan, yang dibutukan Indonesia saat ini adalah leadership bukan dealership. Seorang leader harus cerdas dan memiliki hati nurani. “Kalau dealer kerjanya hanya bagi-bagi saja, urusannya teknis. Visinya tidak ada. Indonesia butuh jalan pikiran, bukan jalan tol,” sambung Rocky Gerung.

Comments are closed.