Kembalikan Keaktifan Peserta Didik dengan Think Pair Share

Oleh: Laspitarini Rahmawati, S.Pd*)

mediajateng.net – Di dalam dunia Pendidikan, kita mengenal istilah Tri Pusat Pendidikan, artinya Pendidikan berlangsung di tiga lingkungan, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.

Ketiga lingkungan tersebut, sangat mempengaruhi perkembangan pola pikir peserta didik.

Di dalam lingkungan keluarga peserta didik mendapatkan Pendidikan informal, dan merupakan lingkungan yang memberikan Pendidikan pertama terhadap peserta didik.

Oleh karena itu, lingkungan keluarga yang harmonis, aman dan nyaman sangat diperlukan oleh peserta didik.

Pada masa covid 19 ini, peserta didik melakukan pembelajaran formal secara daring di rumah mereka masing – masing, tentu peran orang tua dan keluarga sangat dibutuhkan oleh peserta didik dalam membantu mengikuti proses pembelajaran secara daring ini.

Setelah satu tahun peserta didik melaksanakan pembelajaran secara daring, tentu ketika proses pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) diterapkan, peserta didik harus dapat menyesuaikan kembali cara belajar mereka. Begitu juga dengan tugas seorang guru.

Guru harus mampu mengaktifkan kembali peserta didik di dalam proses pembelajaran di sekolah.

Karena tidak banyak peserta didik yang terlihat aktif saat pembelajaran berlangsung. Mayoritas, mereka hanya diam memperhatikan penjelasan guru, tanpa terlibat secara aktif dalam pembelajaran.

Sehingga pembelajaran menjadi berpusat pada guru (teacher center) bukan student center.

Tentu mengaktifkan peserta didik dalam proses pembelajaran bukan hal yang mudah. Guru harus memiliki pengetahuan tentang model model pembelajaran.

Salah satu model pembelajaran yang dapat memberikan pengalaman bermakna bagi peserta didik adalah model pembelajaran cooperative tipe Think Pair Share.

Menutut Yatim Riyanto (2009: 267) bahwa pembelajaran kooperatif dapat diartikan sebagai model pembelajaran yang dirancang untuk membelajarkan kecakapan akademik (academic skill), sekaligus keterampilan sosial (social skill) termasuk interpersonal skill.

Sehingga dengan menerapkan model pembelajaran cooperative learning diharapkan peserta didik dapat ikut berperan aktif di dalam proses pembelajaran.

Think-pair share merupakan salah satu tipe dalam pembelajaran kooperatif. Strategi ini pertama kali dikembangkan oleh Frank Lyman di University of Maryland.

Model ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk saling berbagi pendapat tentang apa yang telah mereka pikirkan sebelumnya untuk dikomunikasikan dengan pasangannya.

Model ini diawali dengan guru memberikan pertanyaan kepada peserta didik kemudian peserta didik berpikir secara individu. Hasil pemikiran secara indidu tersebut kemudian didiskusikan dengan pasangan dan akhirnya berbagi jawaban dengan kelas.

Tujuan dari pembelajaran tersebut adalah agar peserta didik memperbaiki dan memperjelas sudut pandang pribadi, mempersiapkan alasan, untuk mendukung pendapat mereka, dan melatih mental untuk berkomunikasi kepada orang lain.

Tujuan pengembangan kelompok adalah untuk berbagi pendapat secara terbuka dan jujur tapi dengan tetap menghargai pendapat orang lain. Didalam pembelajaran ini, guru hanya berperan sebagai fasilitator, dan yang berperan aktif dalam proses pembelajaran adalah peserta didik.

Model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share ini cocok diterapkan pada proses pembelajaran tatap muka terbatas, karena di dalam satu kelompok hanya terdiri dari dua peserta didik.

Sehingga peserta didik tetap dapat menjaga jarak pada saat berdiskusi. Pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share selain dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran juga diharapkan dapat meningkatnya hasil belajar peserta didik.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share ini cocok diterapkan pada proses pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) karena selain dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik, juga tetap dapat menerapkan protokol Kesehatan 3 M dalam pembelajaran, yaitu mencuci tangan yang dilakukan sebelum peserta didik masuk kedalam lingkungan sekolah, memakai masker dan menjaga jarak selama proses pembelajaran berlangsung. (MJ/50)

*)Laspitarini Rahmawati, S.Pd
Pendidik SD Negeri Metawana, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah