Media Jateng, Jakarta – Kaji cepat dampak gempa M7,7 di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terus dilakukan petugas gabungan. Lebih dari 40 warga meninggal dunia dan ratusan rumah mengalami kerusakan.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D, dalam rilisnya yang dikutif, Minggu 16 Agustus 2026 menyebutkan, berdasarkan data sementara pada Sabtu 15 agustus 2026, pukul 18.48 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis total jumlah korban meninggal dunia mencapai 47 orang.
Sebaran korban tersebut teridentifikasi di Kabupaten Manggarai 24 orang, Manggarai Timur 17 orang, Sikka 3 orang, Ngada 1 orang dan Ende 1 orang. Selain korban ini, petugas mengevakuasi dan melakukan perawatan medis terhadap para korban luka-luka.
Data sementara sore tadi, pukul 17.00 WIB, Sabtu 15 Agustus 2026, total rumah rusak berat mencapai 157 unit, rusak sedang 41 unit dan rusak ringan 148 unit. Kerusakan juga terjadi pada fasilitas umum, seperti fasilitas Pendidikan 87 unit, kesehatan 18 uit, tempat ibadah 5 unit, kantor 6 unit dan sejumlah fasilitas umum lain.
Merespons gempa di NTT, BNPB mengirimkan bantuan pangan dan non-pangan ke wilayah bencana. Sejumlah bantuan dikerahkan melalui gudang logistik yang berada di Kabupaten Flores Timur, NTT.
Sedangkan dari Jakarta, BNPB juga mengirimkan bantuan melalui baseops TNI AU Halim Perdanakusuma. Total bantuan sebanyak 50 ribu paket dengan berat 275 ton. Saat ini, bantuan yang baru tiba di baseops sebanyak 10.500 paket, yang berasal dari Sekretaris Kabinet.
Sementara itu, guncangan gempa juga dirasakan warga Kabupaten dan Kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan Kabupaten Kepulauan Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan.
Kondisi masyarakat di Kabupaten dan Kota Bima secara umum kondusif. BPBD Kota Bima melakukan pendataan dan verifikasi situasi di lapangan. Pusat Pengendalian Operasi BNPB mendapatkan laporan di Kepulauan Selayar, BPBD setempat mendirikan pos pengungsian di tiga titik. Sebaran pengungsian berada di Kecamatan Pasirmarannu, Pasilambena dan Takabonerate.
Dalam penanganan, pemerintah memprioritaskan pengaktifan posko darurat bencana dan evakuasi korban yang masih tertimbun reruntuhan bangunan pascagempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur.
Langkah tanggap darurat ini disepakati dalam rapat koordinasi yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyampaikan, tim gabungan yang terdiri atas Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), TNI, dan Polri telah dikerahkan ke lokasi-lokasi krusial untuk melakukan pencarian dan pertolongan sesegera mungkin.
“Sasarannya adalah warga yang disinyalir masih memerlukan pertolongan dan terjebak di bangunan yang runtuh. Koordinasi seluruh pemangku kepentingan terpusat melalui posko bencana yang mulai diaktifkan,” kata Suharyanto di Jakarta.
Setelah penanganan darurat dan pencarian korban rampung, fokus dilanjutkan pada pemulihan sarana transportasi serta jaringan komunikasi di wilayah terdampak gempa yang berpusat di dekat Kabupaten Nagekeo tersebut.
Kementerian Pekerjaan Umum mengerahkan alat berat dan personel untuk membersihkan material longsor yang memutus akses jalan. Dari sisi komunikasi, sinyal seluler di titik bencana terpantau masih berfungsi. Namun, BNPB telah menyiagakan jaringan internet satelit Starlink sebagai sistem komunikasi cadangan.
