DPR Dorong Anggaran Riset Ditambah

SEMARANG, Mediajateng.net – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akan mendorong kepada pemerintah agar anggaran riset ditingkatkan. Tahun ini dari total anggaran pendidikan baik di tingkat nasional maupun daerah sebanyak Rp 444,13 triliun sedangkan yang dialokasikan untuk riset hanya sekitar Rp 1 triliun.

”Jika melihat Revolusi Industri 4.0 yang diiringi dengan banyaknya hal baru di bidang teknologi, kami akan mendorong agar anggaran untuk riset ini ditingkatkan minimal dua atau tiga kali lipat dari sekarang,” ungkap Ketua DPR DPR RI Bambang Soesatyo saat menjadi keynote speaker dalam seminar nasional “Peranan Perguruan Tinggi Dalam Era Revolusi Industri 4.0″, di Universitas Semarang (USM), Jl Arteri Soekarno-Hatta, Semarang, Kamis, (19/7).

Dalam seminar tersebut sebagai pembicara lain Ketua Yayasan Alumni Universitas Diponegoro Muladi, Rektor IPB Arif Satria, Guru Besar Universitas Sampoerna Teddy Mantoro, Guru Besar Universitas Semarang Kesi Widjayanti dan Staf Ahli bidang Penguatan Struktur Industri Kementrian Perindustrian Soerjono.

Bambang menyatakan alokasi anggaran yang besar bagi riset dan teknologi juga sebagai tuntutan kebutuhan abad 21 yang merupakan abad kompetitif. Sebab hal ini juga dilakukan oleh negara-negara lain dengan memperbanyak anggaran riset.

”Suatu bangsa untuk menang dalam kompetisi itu harus kuat secara inovasi dan ilmu pengetahuan riset dan teknologi,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, pihaknya juga mendorong perguruan tinggi untuk mengembangkan sistem pembelajaran yang lebih inovatif. Antara lain dengan melakukan penyesuaian kurikulum, meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal data teknologi informasi.

“DPR RI juga mendorong perguruan tinggi melakukan perubahan kelembagaan yang adaptif dan responsif terhadap Revolusi Industri 4.0 dengan mengembangkan program cyber university. Semisal, penerapan sistem perkuliahan jarak jauh sehingga mengurangi pertemuan dosen dan mahasiswa. Program ini sangat baik untuk membantu anak-anak di daerah terpencil agar bisa mengikuti jenjang pendidikan tinggi,” ujar dia.

Rektor IPB Arif Satria mengatakan, inovasi disruptif ini selalu berkaitan dengan teknologi yaitu teknologi yang terbaru dan terus terupdate. Perguruan tinggi harus bersiap menghadapi era banyak “gangguan” yang diakibatkan oleh perubahan yang makin sering terjadi dan harus disikapi dengan bijaksana agar perguruan tinggi mampu menanggapi tantangan zaman.

”Perguruan tinggi tidak boleh terperangkap dengan cara pandang zaman old. Oleh karenanya, perguruan tinggi harus bergerak cepat mendorong inovasi, menfasilitasi mahasiswa untuk menjadi pembelajar aktif dengan menyiapkan kurikulum yang memenuhi tuntutan zaman sesuai kebutuhan masyarakat,” paparnya.

Sementara Muladi mengemukakan perguruan tinggi harus mempersiapkan diri menghadapi perubahan di era digital disruption yakni era keterkejutan dengan teknologi digital. Hal itu juga harus didukung oleh pemerintah dengan cara menyiapkan regulasi yang mendukung.

”Kalau tidak melakukan perubahan dengan cepat ke era digital, maka lambat laun perguruan tinggi tersebut akan tertinggal jauh,” jelasnya. (Lek)