HIPMI PT Jateng, Universitas Diponegoro dan ITB Bandung bersama pengrajin Batik Kampoeng Djahdoel Semarang. Foto: Mediajateng.net
Media Jateng, Semarang– Tidak saja fokus dalam akademis sesuai bidang studi, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Perguruan Tinggi juga menambah wawasan di sektor usaha di Kota Semarang. Edukasi sektor usaha, kali ini dilakukan HIPMI PT Jawa Tengah dibidang usaha membatik.
Haidar Nejad Ketua Umum HIPMI PT Jateng, menjelaskan edukasi usaha bagi pengurus HIPMI dilakukan dengan menggandeng Kampoeng Djahdoel Batik, Semarang. Tidak saja manajemen, namun anggota dan pengurus juga bisa melihat langsung proses produksi UMKM batik di Semarang.
“HIPMI PT Jateng, HIPMI PT Universitas Diponegoro, HIPMI PT ITB Bandung bersama melihat dan belajar proses produksi hingga pemasaran UMKM Batik di Kampoeng Djahdoel Semarang,” ungkapnya.
Lebih lanjut Haidar Nejad menambahkan, kehadiran di Kampoeng Djahdoel Batik, pihaknya mengajak generasi muda dukung produk dan brand lokal untuk lebih mendunia.
“Sebanyak 30 anggota HIPMI dari dua Universitas mendapatkan edukasi langsung hingga praktek produksi batik dari masih kain putih hingga proses distribusi,” imbuhnya.
Harapan senada diungkap, Rizky Najagar Ketua HIPMI PT Universitas Diponegoro. Kehadiran diindustri secara langsung juga bisa memberi manfaat dari dua sisi. Secara market, HIPMI Perguruan Tinggi berusaha perkuat brand Batik Semarang kepada wisatawan yang berkunjung.
“Manfaat kedua, anggota dan pengurus juga mendapat nilai plus diluar akademis yang dijalani selama kuliah atau malah merintis usaha Batik selama masih kuliah sehingga bisa memberi pendapatan,” urainya.
Kehadiran mahasiswa sekaligus pelaku usaha muda ke Kampoeng Djahdoel juga bagian dari pengenalan destinasi di Kota Semarang. Selain kuliner, Batik Semarang juga menjadi daya tarik dan buah tangan bagi wisatawan.
Sementara itu, Luwi Salah satu perwakilan pengrajin Batik menjelaskan, membatik tidak saja sebatas menorehkan malam diatas kain sehingga menjadi pola tertentu. Namun, pola yang di canting memiliki cerita sehingga pemahaman terkait pola yang ada juga menjadi bagian dari proses pembuatan Batik.
“Tidak saja nama dan sejarah Batik itu sendiri, Pengurus HIPMI juga kita ceritakan sejarah munculnya Kampoeng Djahdoel Batik. Dengan memahami diharapkan kaum muda akan lebih bangga belanja dan mengenakan Batik,” ungkapnya.













