Kisah Pilu Tiga Desa di Demak 15 Tahun Terendam Banjir

DEMAK, Mediajateng.net – Warga tiga desa di Demak ini sudah kebal terhadap rasa sedih. Bukan karena ampuh, namun karena terlalu sering menjadi korban bencana banjir sampai akhirnya bosan menunggu penanganan dari pemerintah.

Banjir musiman di Kecamatan Sayung, Demak, saat ini merendam tiga desa yakni Desa Prampelan, Sayung dan Kalisari. Banjir luapan Sungai Dombo tersebut, mengakibatkan ribuan rumah terendam air sejak sepekan terakhir ini. Kejadian tersebut bahkan telah berulang 15 tahun terakhir.

Tim relawan Sudirman Said bersama DPC Partai Gerindra Kabupaten Demak, memberikan bantuan kepada warga korban banjir di wilayah Kecamatan Sayung, Rabu (14/2/2018) sore.

Menggunakan perahu karet, para relawan, kader partai serta anggota DPRD Demak dari Fraksi Gerindra, nekat menerobos banjir setinggi pinggang orang dewasa agar bantuan berupa 500 kardus mie instan dan air minum kemasan sampai kepada warga korban banjir.

Di Desa Prampelan sebanyak 500 rumah tergenang banjir, Desa Sayung 1.471 rumah dan Desa Kalisari sebanyak 986 rumah.

Genangan air limpasan sungai tersebut, mengakibatkan aktivitas warga terganggu.

Air masuk ke dalam rumah dengan ketinggian bervariasi antara 30 – 60 cm.

Sedangkan di jalan – jalan kampung genangan air hingga mencapai 1 – 1,5 meter, sehingga akses warga terhambat.

“Semoga bantuan ini bermanfaat dan bisa membantu meringankan warga terdampak banjir, ” kata Maskuri, Ketua DPC Partai Gerindra Demak, didampingi Mu’thi Kholil Ketua Fraksi Gerindra DPRD Demak.

Menurut Maskuri, banjir musiman di wilayah Kecamatan Sayung, bukan semata-mata karena bencana alam. Banjir tahunan teraebut sudah terjadi sudaj 15 tahun merupakan kelalaian negara.

“Jika sudah tahu setiap tahun terjadi banjir, kenapa tidak ada penanganan secara khusus dari pemerintah dan malah dibiarkan saja,” kata Maskuri.

Jika memang ingin menyelesaikan masalah banjir di wilayah Sayung, pemerintah dalam hal ini BBWS harus menyelesaikan pendangkalan Sungai Tuntang dan Sungai Dombo.

Pendangkalan sungai tersebut mengakibatkan aliran sungai dari hulu ke hilir tidak mengalir lancar. Akibatnya, setiap musim hujan air meluap ke pemukiman warga maupun areal pertanian, karena sungai tidak mampu menampung debit air yang terlalu tinggi.

“Penanganan banjir biayanya tidak seberapa dengan kerugian yang dialami masyarakat selama belasan tahun. Rumah dan sawah yang tergenang banjir, jika ditotal kerugiannya miliaran rupiah,” ungkapnya.

“Ini bukan bencana tapi kelalaian negara, siapa yang pertama bertanggung jawab ya BBWS. Kok enak saja disebut bencana, jika sudah terjadi belasan tahun itu namanya kelalaian pemerintah,” tegasnya.

Kepala Desa Prampelan, Subkhan mengatakan, warga terbantu dengan adanya bantuan tersebut. Mereka sangat senang karena bantuan itu bisa membantu meringankan kebutuhan ekonominya.

Banjir di wilayahnya, sedikitnya merendam 500 rumah warga dan menutup akses jalan desa sehingga mengganggu aktivitas warga.

“Sudah empat hari rumah-rumah di sini terendam banjir. Warga kami sangat terbantu dengan adanya bantuan logistik dari partai Gerindra ini. Kami atas nama warga mengucapkan banyak terimakasih,” ucapnya.