FKPP Grobogan Sampaikan Keberatan atas Tayangan Xpose Uncensored Trans7, Ajak Media Edukatif

admin
By
admin
4 Min Read

GROBOGAN, Media Jateng – Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kabupaten Grobogan mengecam keras tayangan program Xpose Uncensored yang disiarkan Trans7. FKPP menilai tayangan tersebut menyesatkan publik dan mencederai martabat dunia pesantren di Indonesia.

Ketua FKPP Grobogan, Gus Syaidun, menyebut bahwa isi tayangan itu menggambarkan pesantren secara keliru, bahkan membangun opini negatif yang dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan Islam.

Menurutnya, tayangan tersebut menampilkan disiplin di pesantren seolah sebagai bentuk penindasan, sementara penghormatan santri kepada kyai digambarkan layaknya hubungan feodal.

BACA JUGA : Cegah Penyimpangan Dana RT Rp25 Juta, Pilus Dukung Sampel Audit di 3 Kecamatan

“Framing semacam ini bukan hanya salah, tapi juga berpotensi merusak citra pesantren yang selama ini menjadi benteng moral dan kebangsaan,” tegas Gus Syaidun, dalam keterangan yang diterima, Selasa (14/10/2025).

FKPP menilai bahwa tayangan Trans7 itu telah melewati batas etika penyiaran karena mengaitkan pengabdian santri dengan praktik perbudakan. Padahal, menurut FKPP, kehidupan pesantren justru menanamkan nilai disiplin, kemandirian, dan rasa hormat kepada guru.

“Pesantren tidak pernah menindas. Santri belajar tentang moral, spiritual, dan nasionalisme. Kyai bukan simbol feodalisme, tapi penjaga moral bangsa,” lanjut Gus Syaidun yang juga Khodimul Ma’had Ponpes Assalam Kradenan.

FKPP Grobogan menilai stasiun televisi tersebut telah mengabaikan prinsip dasar jurnalistik, terutama keseimbangan informasi dan tanggung jawab moral dalam menayangkan isu sensitif terkait kehidupan keagamaan.

Menurut mereka, media semestinya menjadi penjernih informasi, bukan justru memprovokasi publik dengan narasi yang menyesatkan demi mengejar rating. FKPP menegaskan, apa yang dilakukan Trans7 lewat tayangan itu dapat menimbulkan kesalahpahaman terhadap pesantren di kalangan masyarakat awam.

Sebagai bentuk sikap resmi, FKPP Grobogan mengeluarkan lima poin pernyataan. Pertama, mengecam keras isi tayangan yang dianggap melecehkan martabat pesantren dan para ulama. Kedua, menuntut permintaan maaf terbuka dari pihak Trans7 kepada seluruh masyarakat pesantren di Indonesia.

Ketiga, FKPP mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) agar menindak tegas dugaan pelanggaran etika siaran yang dilakukan oleh Trans7. Keempat, menyerukan agar seluruh media berhati-hati dalam mengangkat isu keagamaan yang sensitif.

Kelima, FKPP mengimbau masyarakat, terutama para santri, agar tetap tenang, tidak terprovokasi, dan terus menjaga persaudaraan di tengah perbedaan. “Pesantren adalah pusat peradaban, bukan tempat penindasan. Santri adalah penerus perjuangan ulama,” tegas Gus Syaidun.

FKPP Grobogan juga menilai tayangan tersebut berpotensi menyesatkan generasi muda yang belum memahami secara utuh kehidupan pesantren. Narasi yang salah, menurut mereka, dapat mengikis penghormatan publik terhadap lembaga pendidikan Islam.

Selain itu, FKPP menyoroti tren media televisi yang kian gemar menayangkan konten sensasional tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan moralnya. Praktik ini dinilai berbahaya karena dapat melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap media nasional.

BACA JUGA : Teate Pitulas Tampilkan Drama Ikonik Pertempuran Lima Hari di Kota Semarang, Esok Selasa

Gus Syaidun menegaskan, kritik FKPP bukan bentuk penolakan terhadap media massa, melainkan upaya menjaga marwah pesantren dan mengingatkan pentingnya tanggung jawab moral dalam penyiaran publik.

“Media memiliki peran besar membentuk opini publik. Karena itu, tayangan seperti Xpose Uncensored harus dikoreksi agar tidak menyesatkan masyarakat,” ujarnya menutup pernyataan.

FKPP Grobogan berharap, insiden ini menjadi pelajaran bagi seluruh lembaga penyiaran agar menjunjung tinggi etika jurnalistik, menghormati nilai keagamaan, dan berpihak pada kebenaran demi menjaga keharmonisan sosial.(MJ/Ag)

Share This Article