oleh
Oka Pembayun, S.Pd Guru BK SMP Negeri 8 Pemalang
Pada jaman sekarang remaja sulit untuk mengontrol diri terlebih ketika berinterakasi dengan sesamanya, seringkali interaksi yang mereka gunakan bukan hanya interaksi yang membangun tetapi interaksi yang menghina seperti perundungan atau bullying.
Dalam hal ini kerap terjadi di Sekolah Menengah Pertama dimana remaja pada fase peralihan dari masa anak-anak dengan masa dewasa, dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, sosial, emosi dan psikis.
Pada masa ini remaja juga disebut sebagai masa mencari jati diri, jika pencarian jati diri ini gagal maka remaja akan mulai meragukan peranan dan fungsi dirinya di tengah masyarakat. Akibatnya mereka cenderung memiliki sifat menonjolkan diri, suka bermusuhan, egoistik, merendahkan orang lain, dan berburuk sangka.
Dalam proses mencari jati diri, remaja harus di dampingi oleh orang dewasa, yaitu orang tua, keluarga, orang dewasa di lingkungan sekitar tempat tinggal dan guru di sekolah agar remaja tersebut tidak salah dalam menemukan jati diri. Jika remaja gagal, maka tidak menutup kemungkinan remaja akan melakukan tindakan agresi atau menjadi korban dari tindakan agresi.
Salah satu tindakan agresi yang dilakukan satu orang dengan tujuan untuk menyakiti atau mengganggu orang lain atau orang yang lebih lemah dinamakan sebagai bullying.
Bullying berasal dari kata Bully, dalam bahasa inggris yang artinya penggertak, yang menganggu (Echola dan Hasan, 1992 : 87). Bullying dapat diartikan sebagai suatu tindakan untuk menyakiti orang lain yang dilakukan oleh pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah secara berulang-ulang sehingga korban merasa bersalah.
Faktor-faktor penyebab terjadinya tindak bullying
- Keluarga : pelaku bullying seringkali berasal dari keluarga yang bermasalah, yaitu orang tua yang sering menghukum anaknya secara berlebihan, atau situasi rumah yang penuh stress, agresi, dan permusuhan. Anak akan mempelajari perilaku bullying ketika mengamati konflik-konflik yang terjadi pada orang tua mereka, dan kemudian menirunya terhadap teman-temannya.
- Sekolah : Karena pihak sekolah sering mengabaikan keberadaan bullying ini, anak-anak sebagai pelaku bullying akan mendapatkan penguatan terhadap perilaku mereka untuk melakukan intimidasi terhadap anak lain. Bullying berkembang dengan pesat dalam lingkungan sekolah sering memberikan masukan negatif pada siswanya, misalnya berupa hukuman yang tidak membangun sehingga tidak mengembangkan rasa menghargai dan menghormati antar sesama anggota sekolah.
- Faktor Kelompok Sebaya : Anak-anak ketika berinteraksi dalam sekolah dan dengan teman di sekitar rumah, kadang kala terdorong untuk melakukan Beberapa anak melakukan bullying dalam usaha untuk membuktikan bahwa mereka bisa masuk dalam kelompok tertentu, meskipun mereka sendiri merasa tidak nyaman dengan perilaku tersebut.
- Kondisi lingkungan sosial : Salah satu faktor lingkungan social yang menyebabkan tindakan bullying adalah kemiskinan. Mereka yang hidup dalam kemiskinan akan berbuat apa saja demi memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga tidak heran jika di lingkungan sekolah sering terjadi pemalakan antar siswanya.
- Televisi dan media cetak membentuk pola perilaku bullying dari segi tayangan yang mereka tampilkan. Survey yang dilakukan kompas (Saripah, 2006)
Bentuk bullying menurut Coloroso (2007:47)
- Bullying Fisik : Penindasan fisik merupakan jenis bullying yang paling tampak dan paling dapat diidentifikasi diantara bentuk-bentuk penindasan lainnya, namun kejadian penindasan fisik terhitung kurang dari sepertiga insiden penindasan yang dilaporkan oleh siswa.
- Bullying Verbal : Penindasan verbal dapat berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritik kejam, penghinaan, dan pernyataan-pernyataan bernuansa ajakan seksual atau pelecehan seksual.
- Bullying Relasional : Jenis ini paling sulit dideteksi dari luar. Penindasan relasional adalah pelemahan harga diri si korban penindasan secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan, pengecualian, atau penghindaran. Penghindaran, suatu tindakan penyingkiran, adalah alat penindasan yang terkuat.
Anak yang digunjingkan mungkin akan tidak mendengar gosip itu, namun tetap akan mengalami efeknya. Penindasan relasional dapat digunakan untuk mengasingkan atau menolak seorang teman atau secara sengaja ditujukan untuk merusak persahabatan. Perilaku ini dapat mencakup sikap-sikap tersembunyi seperti pandangan yang agresif, lirikan mata, helaan napas, bahu yang bergidik, cibiran, tawa mengejek, dan bahasa tubuh yang kasar.
4.Cyber bullying : Ini adalah bentuk bullying yang terbaru karena semakin berkembangnya teknologi, internet dan media sosial. Pada intinya adalah korban terus menerus mendapatkan pesan negative dari pelaku bullying baik dari sms, pesan di internet dan media sosial lainnya.
Bentuknya berupa; mengirim pesan yang menyakitkan atau menggunakan gambar; meninggalkan pesan voicemail yang kejam; menelepon terus menerus tanpa henti namun tidak mengatakan apa-apa (silent calls); membuat website yang memalukan bagi si korban; si korban dihindarkan atau dijauhi dari chat room dan lainnya; “Happy slapping” – yaitu video yang berisi dimana si korban dipermalukan atau di-bully lalu disebarluaskan
Cara pencegahan yang bisa dilakukan adalah :
- Hindari membawa atau memakai barang-barang mahal atau uang yang berlebihan
- Jangan sendirian terutama di tempat sepi
- Hindari cari gara-gara dengan pelaku bullying
- Jangan berada dekat dengan orang yang suka melakukan tindakan bullying atau berada di sekitar mereka
- Kenali dan perhatikan pelaku bullying
- Jangan ikut-ikutan melakukan tindakan bullying dalam bentuk apapun.

