Bullying dan Pencegahannya

admin
By
admin
6 Min Read

oleh

Oka Pembayun, S.Pd Guru BK SMP Negeri 8 Pemalang

 Pada jaman sekarang remaja sulit untuk mengontrol diri terlebih ketika berinterakasi dengan sesamanya, seringkali interaksi yang mereka gunakan bukan hanya interaksi yang membangun tetapi interaksi yang menghina seperti perundungan atau bullying.

Dalam hal ini kerap terjadi di Sekolah Menengah Pertama dimana remaja pada fase peralihan dari masa anak-anak dengan masa dewasa, dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, sosial, emosi dan  psikis.

Pada masa ini remaja juga disebut sebagai masa mencari jati diri, jika pencarian jati diri ini gagal maka remaja akan mulai meragukan peranan dan fungsi dirinya di tengah masyarakat. Akibatnya mereka cenderung memiliki sifat menonjolkan diri, suka bermusuhan, egoistik, merendahkan orang lain, dan berburuk sangka.

Dalam proses mencari jati diri, remaja harus di dampingi oleh orang dewasa, yaitu orang tua, keluarga, orang dewasa di lingkungan sekitar tempat tinggal dan guru di sekolah agar remaja tersebut tidak salah dalam menemukan jati diri. Jika remaja gagal, maka tidak menutup kemungkinan remaja akan melakukan tindakan agresi atau menjadi korban dari tindakan agresi.

Salah satu tindakan agresi yang dilakukan satu orang dengan tujuan untuk menyakiti atau mengganggu orang lain atau orang yang lebih lemah dinamakan sebagai bullying.

Bullying berasal dari kata Bully, dalam bahasa inggris yang artinya penggertak, yang menganggu (Echola dan Hasan, 1992 : 87). Bullying dapat diartikan sebagai suatu tindakan untuk menyakiti orang lain yang dilakukan oleh pihak yang kuat terhadap pihak yang lemah secara berulang-ulang sehingga korban merasa bersalah.

Faktor-faktor penyebab terjadinya tindak bullying

  1. Keluarga : pelaku bullying seringkali berasal dari keluarga yang bermasalah, yaitu orang tua yang sering menghukum anaknya secara berlebihan, atau situasi rumah yang penuh stress, agresi, dan permusuhan. Anak akan mempelajari perilaku bullying ketika mengamati konflik-konflik yang terjadi pada orang tua mereka, dan kemudian menirunya terhadap teman-temannya.
  2. Sekolah : Karena pihak sekolah sering mengabaikan keberadaan bullying ini, anak-anak sebagai pelaku bullying akan mendapatkan penguatan terhadap perilaku mereka untuk melakukan intimidasi terhadap anak lain. Bullying berkembang dengan pesat dalam lingkungan sekolah sering memberikan masukan negatif pada siswanya, misalnya berupa hukuman yang tidak membangun sehingga tidak mengembangkan rasa menghargai dan menghormati antar sesama anggota sekolah.
  3. Faktor Kelompok Sebaya : Anak-anak ketika berinteraksi dalam sekolah dan dengan teman di sekitar rumah, kadang kala terdorong untuk melakukan Beberapa anak melakukan bullying dalam usaha untuk membuktikan bahwa mereka bisa masuk dalam kelompok tertentu, meskipun mereka sendiri merasa tidak nyaman dengan perilaku tersebut.
  4. Kondisi lingkungan sosial : Salah satu  faktor  lingkungan  social  yang  menyebabkan  tindakan  bullying adalah kemiskinan. Mereka yang hidup dalam kemiskinan akan berbuat apa saja demi  memenuhi  kebutuhan  hidupnya,  sehingga  tidak  heran  jika  di  lingkungan  sekolah sering terjadi pemalakan antar siswanya.
  5. Televisi dan media cetak membentuk pola perilaku bullying dari segi tayangan yang mereka tampilkan. Survey yang dilakukan kompas (Saripah, 2006)

Bentuk  bullying  menurut  Coloroso  (2007:47)

  1. Bullying Fisik : Penindasan  fisik  merupakan  jenis  bullying  yang  paling  tampak  dan  paling dapat  diidentifikasi  diantara  bentuk-bentuk  penindasan  lainnya, namun  kejadian penindasan fisik terhitung  kurang  dari sepertiga insiden penindasan  yang  dilaporkan oleh siswa.
  2. Bullying Verbal : Penindasan  verbal  dapat  berupa  julukan  nama,  celaan,  fitnah,  kritik  kejam, penghinaan,  dan  pernyataan-pernyataan  bernuansa  ajakan  seksual  atau  pelecehan seksual.
  3. Bullying Relasional : Jenis  ini  paling  sulit  dideteksi  dari  luar.  Penindasan  relasional  adalah pelemahan  harga  diri  si  korban  penindasan  secara  sistematis  melalui  pengabaian, pengucilan,  pengecualian,  atau  penghindaran.  Penghindaran,  suatu  tindakan penyingkiran, adalah alat penindasan yang terkuat.

Anak yang digunjingkan mungkin akan tidak mendengar gosip itu, namun tetap akan mengalami efeknya. Penindasan  relasional  dapat  digunakan  untuk  mengasingkan  atau  menolak seorang  teman  atau  secara  sengaja  ditujukan  untuk  merusak  persahabatan.  Perilaku ini  dapat  mencakup  sikap-sikap  tersembunyi  seperti  pandangan  yang  agresif,  lirikan mata,  helaan  napas,  bahu  yang  bergidik,  cibiran,  tawa  mengejek,  dan  bahasa  tubuh yang kasar.

4.Cyber bullying : Ini adalah bentuk bullying yang terbaru karena semakin berkembangnya teknologi, internet dan media sosial. Pada intinya adalah korban terus menerus mendapatkan pesan negative dari pelaku bullying baik dari sms, pesan di internet dan media sosial lainnya.

Bentuknya berupa; mengirim pesan yang menyakitkan atau menggunakan gambar; meninggalkan pesan voicemail yang kejam; menelepon terus menerus tanpa henti namun tidak mengatakan apa-apa (silent calls); membuat website yang memalukan bagi si korban; si korban dihindarkan atau dijauhi dari chat room dan lainnya; “Happy slapping” – yaitu video yang berisi dimana si korban dipermalukan atau di-bully lalu disebarluaskan

Cara pencegahan yang bisa dilakukan adalah :

  1. Hindari membawa atau memakai barang-barang mahal atau uang yang berlebihan
  2. Jangan sendirian terutama di tempat sepi
  3. Hindari cari gara-gara dengan pelaku bullying
  4. Jangan berada dekat dengan orang yang suka melakukan tindakan bullying atau berada di sekitar mereka
  5. Kenali dan perhatikan pelaku bullying
  6. Jangan ikut-ikutan melakukan tindakan bullying dalam bentuk apapun.

 

 

 

 

 

Share This Article