artikel

Menjadi Guru Sejati

×

Menjadi Guru Sejati

Sebarkan artikel ini

Oleh: Drs. Agus Hartono*)

mediajateng.net – Diakui atau tidak, tak semua guru bangga dengan profesinya sendiri. Pasalnya, adakalanya seseorang menjadi guru bukan impian yang dicita-citakannya sejak kecil. Menjadi guru terkadang hanya memenuhi keinginan orang tua, ada yang karena ikut-ikutan teman, ada yang karena mengharapkan gaji bulanan atau bahkan yang lebih miris lagi karena tidak ada pekerjaan lain. Dengan kata lain, menjadi guru bukan panggilan jiwa, melainkan karena motif tertentu dan tendensi material lainnya.
Idealnya, setiap guru bangga dengan profesinya sendiri. Lebih dari itu, menjadi guru bukan semata-mata profesi yang memiliki status sosial bergengsi di tengah masyarakat serta memberikan jaminan kesejahteraan melalui gaji bulanan dan tunjangan sertifikasi. Akan tetapi, menjadi guru karena dirinya berjiwa guru. Ia benar-benar mencintai pekerjaannya dan melakukan tugasnya dengan tulus ikhlas.

Guru yang menjalankan tugasnya semata-mata hanya sebatas profesi, boleh jadi dirinya tidak menikmati pekerjaannya. Ia bekerja monoton dan mekanis hanya memenuhi tugas dan kewajiban profesionalnya saja. Pagi berangkat sore pulang dan begitu seterusnya. Ia tidak menjiwai apalagi menikmati pekerjaannya.
Berbeda dengan guru sejati. Guru sejati adalah guru yang melandaskan pekerjaannya karena rasa cinta. Jauh di dalam dirinya tertanam naluri mendidik dan mengabdi. Dengan demikian, ia melakukan pekerjaannya atas dasar panggilan jiwa. Guru sejati menikmati pekerjaannya. Ia melakukan tugasnya bukan semata-mata karena mengharap gaji bulanan, tunjangan ataupun tendensi material lainnya. Meskipun hal itu tidak bisa dinafikan bahwa semua orang membutuhkan uang dan ingin hidup sejahtera. Namun demikian, hal itu tidak menghalangi ketulusannya dalam melakukan pekerjaannya.

Menurut hemat penulis, guru sejati dapat dilihat pada beberapa indikator. Pertama, dedikasi. Guru sejati memiliki dedikasi yang tinggi. Ia melakukan pekerjaannya dengan totalitas. Memberikan yang terbaik dan ikhlas tanpa pamrih. Ia tidak berpikir tentang untung atau rugi, dapat imbalan atau tidak. Semua itu dilakukan dengan senang hati dan tanpa beban.

Baginya, menjadi guru adalah sebuah kebanggaan, menyenangkan dan dapat mendatangkan kebahagiaan. Menjadi guru berarti berkesempatan beramal baik kepada orang lain dengan memberikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik. Guru sejati percaya bahwa apa yang ia berikan pada saatnya akan ada hasilnya. Ia juga yakin dengan hukum tabur dan tuai bahwa apa yang ia tanam maka itu pula yang ia petik.

Guru sejati selalu berpikir jangka panjang. Ia memiliki visi yang jauh ke depan. Menurutnya, guru bukan sebatas pekerjaan formal. Lebih dari itu, menjadi guru berarti mengabdi kepada nusa, bangsa, dan agama dengan mengajar dan mendidik generasi agar lebih baik. Keberhasilan peserta didik pada hakekatnya juga keberhasilan guru itu sendiri. Oleh karenanya, guru sejati selalu melakukan pekerjaannya dengan penuh dedikasi.

Kedua, disiplin. Guru sejati bukanlah tipe guru yang diatur-atur. Akan tetapi ia menyadari bahwa kedisiplinan merupakan kunci keberhasilan. Perilaku disiplin telah menjadi kebiasaan hidupnya. Pola hidup disiplin menjadi gaya hidup yang melekat pada dirinya.
Guru sejati melakukan sesuatu tanpa menunggu perintah. Ia melakukanya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Ia datang ke sekolah lebih pagi dari guru yang lain. Masuk kelas tepat waktu, istirahat sesuai porsinya, dan ketika pulang sekolah juga sesuai jadwal yang ditentukan.

Guru sejati tidak melakukan pemborosan waktu. Semua pekerjaan dilakukan dengan disiplin dan proporsional. Ia selalu menggunakan waktunya dengan efektif dan efisien. Baginya, waktu merupakan sesuatu yang berharga. Sangat disayangkan bila ada waktu yang terlewat tanpa hasil apa-apa. Oleh karenanya, ia selalu disiplin dalam melakukan pekerjaannya dan tidak suka menunda-nunda.

Ketiga, selalu belajar. Guru sejati tidak merasa dirinya pintar. Oleh karenanya, ia senantiasa belajar dan mengasah kemampuannya. Ia juga sadar bahwa hidup itu dinamis. Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang. Zaman terus berubah dari waktu ke waktu. Dengan demikian menuntut guru untuk terus belajar dan berbenah. Guru sejati tidak berhenti belajar dan terus meningkatkan kompetensinya baik dengan membaca buku, mengikuti pelatihan-peatihan, seminar, work shop, dan lain sebagainya.

Belajar menjadi keharusan bagi dirinya. Ia senang dengan hal-hal baru. Pola berpikirnya terbuka dan siap menerima perubahan. Ia memiliki jiwa yang dinamis dan progresif. Semangat belajar dan meningkatkan kompetensi menjadi kebiasaan yang terus dijaga. Ia tidak ingin memberikan pengetahuan yang itu-itu saja atau sekedar gugur kewajiban. Ia juga tidak mau terjebak dengan kekakuan kurikulum. Akan tetapi ia selalu berkreasi dan melakukan improvisasi agar pembelajaran semakin berkualitas sehingga kelak akan lahir generasi yang berkualitas pula. (MJ/50)

*)Drs. Agus Hartono
Pendidik di MTs Negeri 2 Banjarnegara