Gubernur Jateng Ahmad Lutfi dan Direktur Promosi dalam pertemuan investasi di Semarang, Selasa 18 Agustus 2026. Foto: mediajateng.com/ Humas Pemprov Jateng

Magnet Investasi Nasional, Tidak Saja di Tengah. Ini Daftarnya Versi Direktur Promosi

admin
By
admin
27 Min Read

 

Media Jateng, Semarang — Provinsi Jawa Tengah kian kokoh memantapkan posisinya sebagai episentrum pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia. Kombinasi antara infrastruktur yang matang, kemudahan perizinan, biaya hidup (living cost) yang kompetitif, hingga stabilitas wilayah menjadikan daerah ini sebagai primadona utama bagi para investor global maupun domestik.

Daya tarik ekonomi tersebut terungkap dalam kunjungan dan penilaian lapangan yang dilakukan oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi di Semarang, Selasa (18/8/2026).

Direktur Promosi Wilayah Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, dan Pasifik Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Saribua Siahaan, mengungkapkan bahwa Jawa Tengah memiliki ekosistem investasi yang sangat ramah industri, khususnya bagi sektor manufaktur yang bersifat padat karya.

“Jawa Tengah ini primadona. Selain infrastruktur yang bagus, sistem pemerintahan daerah dan perizinan yang efisien, living cost-nya juga kompetitif sehingga menjadi daya tarik kuat bagi investor untuk memilih Jawa Tengah,” ujar Saribua usai bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.

Menurut Saribua, dua indikator utama yang paling diburu investor—yakni kepastian lahan dan kemudahan perizinan—dapat terjawab dengan baik di Jawa Tengah berkat kolaborasi erat antara Pemprov Jateng melalui DPMPTSP dan pemerintah pusat.

Performa Ekonomi Melesat: Realisasi Investasi Tembus Rp59,94 Triliun
Komitmen kuat Pemprov Jawa Tengah dalam merawat iklim investasi yang sehat terbukti membuahkan hasil konkrit bagi perekonomian daerah. Berdasarkan data makroekonomi semester I-2026, geliat investasi di Jawa Tengah mencatatkan angka impresif:

Total Realisasi Investasi (Semester I-2026): Rp59,94 triliun.

Penanaman Modal Asing (PMA): Rp25,92 triliun.

Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN): Rp22,62 triliun.

Usaha Mikro dan Kecil (UMK): Rp11,40 triliun.

Penyerapan Tenaga Kerja: Mencapai 213.000 orang pada paruh pertama tahun 2026.

Pertumbuhan Ekonomi: Tumbuh solid di level 5,80% pada semester I-2026.

Penurunan Kemiskinan: Turun ke angka 9,21% per Maret 2026 (dibandingkan periode sebelumnya 9,48%).

Pengangguran Terbuka: Menyusut menjadi 4,24% per Februari 2026.

Sebagai catatan, capaian semester pertama ini merupakan延续 (lanjutan) dari tren positif tahun sebelumnya, di mana sepanjang tahun 2025 realisasi investasi di Jawa Tengah sukses menyentuh angka sekitar Rp110 triliun.

Strategi Pemprov: Mengandalkan Akselerasi Investasi untuk Reduksi Kemiskinan
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) saja tidak akan cukup untuk membiayai percepatan pembangunan wilayah secara masif. Oleh karena itu, investasi diposisikan sebagai mesin penggerak utama (prime mover) untuk mendongkrak kesejahteraan rakyat.

“Dalam membangun wilayah, kita tidak bisa mengandalkan APBD saja, maka investasi menjadi salah satu sumber daya strategis. Menciptakan iklim investasi yang sehat dan kondusif adalah tanggung jawab bersama untuk mereduksi angka kemiskinan dan pengangguran,” tegas Luthfi.

Luthfi menambahkan, Pemprov Jawa Tengah berkomitmen terus memberikan kepastian hukum, penyederhanaan regulasi perizinan, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), serta pemerataan infrastruktur penunjang guna menjaga kepercayaan investor jangka panjang.

Dengan fondasi ekonomi yang kian kompetitif dan inklusif, Jawa Tengah tidak hanya menjanjikan profitabilitas bagi korporasi, tetapi juga kepastian kesejahteraan bagi masyarakat luas.

Share This Article