Media Jateng, Batang– Harimau kumbang yang kelaparan berkeliaran mencari mangsa di sekitar rumah warga Dukuh Ngasinan, Desa Gunungsari, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah (Jateng), Rabu (12/8/2026) pagi.
Harimau berwarna hitam sempat tertangkap kamera berkeliaran dan sempat memakan sejumlah ayam yang dipelihara di dekat rumah warga.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jateng, Dyah Sulistyari, menjelaskan, Macan Kumbang, diketahui sengaja datang ke permukiman warga untuk mencari makan khususnya ayam. Macan, sebelum ditemukan warga sempat memakan sejumlah ekor ayam.
Melhat macan kumbang di pagi hari, warga sempat mendokumentasikan dan mengunggah ke media sosial. Selain itu, warga juga melaporkan adanya macan kumbang ke pihak
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jateng.
“Macan Kumbang diperkirakan berusia 10 tahun, berukuran besar dan bobot sekitar 25 kilogram”, ungkap Kepala BKSDA Jateng, Dyah Sulistyari.
Dari ukuran badan macan yang besar, Dyah Sulistyari, menyebutkan saat ditemukan kondisi kesehatan hewan masuk kategori mengalami kurang gizi.
Kini telah dievakuasi dan mendapat perawatan di Safari Beach Jateng atau yang dikenal sebagai Batang Dolphin Center (BDC).
Sebelumnya, warga Dukuh Ngasinan dibuat panik oleh kemunculan macan kumbang yang berkeliaran di sekitar permukiman. Satwa tersebut juga dilaporkan sempat memangsa sejumlah ternak warga, di antaranya ayam dan marmut.
Macan kumbang berwarna hitam itu pertama kali dilaporkan muncul sekitar pukul 05.30 WIB.
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jateng, Dyah Sulistyari, mengatakan pihaknya menerima laporan masyarakat melalui call center BKSDA terkait kemunculan macan kumbang yang masuk ke permukiman.
Menindaklanjuti laporan tersebut, BKSDA Jateng kemudian berkoordinasi dengan Forkopimcam Bawang dan Batang Dolphin Center untuk melakukan evakuasi.
Sebelum proses evakuasi, petugas terlebih dahulu menghalau macan kumbang agar tidak bergerak mendekati warga yang menyaksikan kemunculan satwa tersebut.
Petugas kemudian melakukan pembiusan hingga berhasil mengevakuasi macan kumbang ke dalam kandang angkut.
Macan kumbang jantan tersebut diperkirakan berusia sekitar 10 tahun dengan berat 25 kilogram. Kondisinya cukup kurus dan mengalami luka pada telapak kaki sebelah kanan.
“Saat ini sudah diperiksa oleh tim kesehatan bersama dokter hewan kami, Dokter Sugi. Sampai saat ini masih observasi dan terdapat luka pada bagian telapak kaki sebelah kanan, sehingga satwa tersebut kondisinya pincang,” ungkap Dyah saat ditemui Mediajateng.net, di Kantor BKSDA Jateng, Jalan Suratmo, Manyaran, Kamis (13/8/2026).
Menurut Dyah, kondisi luka pada kaki tersebut membuat macan kumbang kesulitan berburu secara normal. Meski memiliki ukuran tubuh yang cukup besar, kondisi fisiknya saat ini dinilai tidak ideal.
“Sehingga satwa tersebut tidak bisa berburu secara normal. Mungkin kalau dari segi badan besar, tetapi karena susah berburu, badannya tidak sesuai dengan porsi besarnya tadi. Idealnya seperti itu,” jelasnya.
BKSDA Jateng selanjutnya akan memantau perkembangan kondisi macan kumbang yang saat ini dirawat di Batang Dolphin Center setiap dua hingga tiga hari sekali.
Pemantauan dilakukan untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya, termasuk kemungkinan satwa tersebut dapat dilepasliarkan kembali ke habitatnya.
“Itu untuk kondisi satwanya, apakah nanti bisa dilepasliarkan atau lukanya tidak bisa disembuhkan sehingga harus kita rehabilitasi,” kata Dyah.
Di sisi lain, Dyah menjelaskan kawasan hutan di Bawang berada di dataran tinggi Gunung Prau. Kondisi hutan di kawasan tersebut dinilai masih baik sehingga menjadi habitat berbagai satwa liar, termasuk macan kumbang.
Untuk mencegah satwa liar keluar dari habitat dan masuk ke permukiman, BKSDA Jateng akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Perhutani terkait pengelolaan kawasan tersebut.
“Untuk kawasan yang masih berfungsi sebagai habitat, kami akan berkomunikasi dengan pemerintah daerah dan Perhutani agar tidak dibuka untuk kegiatan usaha. Terutama kawasan yang masih menjadi habitat macan kumbang dan satwa liar lainnya,” ucapnya.
“Kebetulan di daerah Gunung Prau itu juga terdapat Owa Jawa yang di sisi paling timur. Kalau ke timurnya lagi di Ungaran, sudah enggak ada Owa Jawa di sana. Jadi, kita koordinasi dengan teman-teman Perhutani dan pemerintah daerah lainnya untuk menjaga kelestarian kawasan tersebut,” sambungnya.
Selain itu, BKSDA Jateng juga akan berkoordinasi dengan Perhutani dan pemerintah daerah setempat terkait usulan pemasangan rambu-rambu di jalan raya. Rambu tersebut diharapkan dapat mengingatkan pengendara agar lebih berhati-hati saat melintas di kawasan hutan.
“Iya. Nanti kalau pemasangan rambu-rambu kita koordinasikan dengan Perhutani kemudian dengan desa ya, karena secara kawasan itu kan bukan kawasan konservasi. Jadi, kita tidak bisa serta-merta langsung memasang. Kita tetap akan melakukan koordinasi dengan pemerintah kabupaten maupun Perhutani,” pungkasnya.
BKSDA Jateng juga berencana berkoordinasi dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk menambah pemasangan kamera trap guna memantau pergerakan satwa liar di kawasan Bawang, Batang. Langkah tersebut dilakukan karena ketersediaan kamera trap milik BKSDA masih terbatas.
Dyah menyebut kamera trap saat ini rutin dipasang di sejumlah kawasan, termasuk Nusakambangan, Suaka Margasatwa Cungkingan di Lampung, serta wilayah Batang. Namun, salah satu kamera trap yang pernah dipasang di kawasan Bawang dilaporkan hilang.
BKSDA berharap masyarakat turut menjaga kamera trap yang dipasang di kawasan hutan. Keberadaan alat tersebut dinilai penting untuk memantau aktivitas satwa liar sekaligus mendukung upaya menjaga keamanan masyarakat di sekitar habitat satwa
