Media Jateng, BANDUNG – bank bjb mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 37,3 persen secara tahunan hingga September 2026, dengan nilai mencapai Rp1,1 triliun. Pencapaian ini didukung strategi pertumbuhan bisnis yang selektif, penguatan pendanaan, peningkatan pendapatan berbasis komisi, serta efisiensi operasional.
Kinerja tersebut dipaparkan dalam Earnings Call Triwulan III Tahun Buku 2026 yang berlangsung di Bandung, Kamis (29/10/2026), dengan diikuti investor dan analis pasar modal.
Di tengah dinamika industri perbankan, bank bjb menerapkan strategi growth with quality untuk menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis, kualitas aset, dan profitabilitas. Pendekatan ini dilakukan melalui pengelolaan risiko yang terukur, pengendalian biaya dana, serta optimalisasi pendapatan dari berbagai lini usaha.
Direktur Utama bank bjb, Ayi Subarna, menegaskan pentingnya konsistensi strategi dan kemampuan perusahaan dalam beradaptasi menghadapi perubahan kondisi pasar. Perusahaan juga berkomitmen menjalankan tata kelola yang baik dan prinsip kehati-hatian untuk memperkuat fondasi bisnis secara berkelanjutan.
Hingga September 2026, total aset konsolidasi Grup bjb tercatat sebesar Rp219,7 triliun. Perusahaan anak menyumbang aset Rp44,9 triliun atau sekitar 20 persen dari total aset konsolidasi.
Sementara itu, total kredit dan pembiayaan konsolidasi mencapai Rp142,3 triliun. Secara individual, penyaluran kredit bank bjb tercatat sebesar Rp112,9 triliun, meningkat Rp1,8 triliun dibandingkan posisi triwulan sebelumnya.
Segmen konsumer masih mendominasi portofolio kredit bank only dengan outstanding Rp74,4 triliun, setara sekitar 66 persen dari total kredit.
Salah satu produk yang mencatatkan pertumbuhan signifikan adalah KGB Pisan. Produk digital tersebut membukukan outstanding Rp271,4 miliar hingga September 2026, meningkat 39,4 persen secara kuartalan dan 216,6 persen secara tahunan.
Untuk mempertahankan pertumbuhan kredit konsumer, bank bjb memperluas kerja sama payroll dan mengoptimalkan penyaluran kredit kepada institusi yang telah menjalin perjanjian kerja sama. Langkah tersebut tetap disertai penilaian terhadap kemampuan bayar dan profil risiko debitur.
Selain segmen konsumer, portofolio kredit produktif juga menunjukkan pertumbuhan secara kuartalan.
Outstanding kredit korporasi meningkat Rp1 triliun atau 7 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Adapun kredit komersial bertambah Rp495 miliar atau 4,2 persen.
Penyaluran kredit dilakukan secara selektif pada sektor yang memiliki profil bisnis dan risiko yang dapat dikelola, termasuk aktivitas keuangan, pinjaman daerah, perdagangan, industri pengolahan, dan konstruksi.
bank bjb juga melanjutkan pengembangan Commercial Business Centre (CBC) untuk meningkatkan efektivitas proses kredit sekaligus memperkuat tata kelola bisnis komersial.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) konsolidasi mencapai Rp155,6 triliun per September 2026. Kontribusi perusahaan anak tercatat sebesar Rp31,4 triliun, sedangkan DPK bank only mencapai Rp124,2 triliun.
Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) berada pada level 86,8 persen, sementara rasio Current Account Saving Account (CASA) tercatat 44,9 persen.
Untuk memperkuat struktur pendanaan, bank bjb terus mendorong akuisisi nasabah, memperluas kerja sama payroll, dan meningkatkan aktivitas transaksi. Digitalisasi juga menjadi bagian dari upaya memperluas akses layanan perbankan.
Melalui kanal digital, pembukaan rekening baru mencapai kisaran 7.000 hingga 12.000 rekening per bulan. Pengembangan layanan ini diharapkan dapat meningkatkan aktivitas transaksi sekaligus memperkuat kontribusi dana murah.
Pertumbuhan laba bersih bank bjb juga ditopang oleh pengelolaan pendapatan dan biaya. Hingga September 2026, pendapatan bunga bersih tumbuh 1,8 persen secara tahunan, sedangkan pendapatan berbasis komisi atau fee-based income mencapai Rp1,7 triliun.
Di sisi operasional, perusahaan berhasil menurunkan beban sekitar 2 persen. Efisiensi tersebut turut mendorong pertumbuhan laba operasional sebelum pencadangan kerugian penurunan nilai atau Pre-Provision Operating Profit (PPOP) lebih dari 5,5 persen secara tahunan.
Meski demikian, tekanan biaya dana akibat perkembangan suku bunga dan kondisi likuiditas tetap menjadi perhatian perusahaan.
Dalam mengantisipasi potensi risiko kredit, bank bjb membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) sebesar Rp692 miliar. Perusahaan juga melanjutkan penyempurnaan proses penilaian kredit, restrukturisasi secara selektif, serta penerapan pedoman portofolio dan kebijakan harga yang mempertimbangkan risiko.
Pada September 2026, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat sebesar 2,87 persen, sedangkan rasio Loan at Risk (LAR) berada di level 9,92 persen.
Memasuki triwulan IV 2026, bank bjb akan melanjutkan strategi growth with quality melalui penguatan dana murah, pengendalian biaya dana, ekspansi kredit secara selektif, peningkatan pendapatan berbasis komisi, dan efisiensi operasional.
Perusahaan juga akan memperkuat pemulihan kredit bermasalah serta meningkatkan kualitas proses penyaluran kredit untuk menjaga ketahanan portofolio.
Dengan strategi tersebut, bank bjb berupaya mempertahankan momentum pertumbuhan sekaligus mengelola risiko secara terukur. Keseimbangan antara ekspansi bisnis dan kualitas aset menjadi salah satu fokus perusahaan dalam menjaga kinerja hingga akhir 2026.(ot/mj)
