Kontes Dombos Nasional di Wonosobo, Dongkrak Pelestarian Domba Lokal dan Tingkatkan Ekonomi Peternak

admin
By
admin
4 Min Read

Wonosobo, MediaJateng.Net – Pelestarikan Domba Wonosobo (Dombos) menunjukkan hasil positif, populasi ternak khas daerah ini meningkat tajam dalam satu dekade terakhir, dari sekitar 2.000 ekor pada 2016 menjadi lebih dari 16.000 ekor pada 2026. Capaian tersebut, salah satunya didukung melalui penyelenggaraan Kontes Domba Wonosobo (Dombos) secara rutin.

Demikan disampaikan Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Dispaperkan) Kabupaten Wonosobo, Dwiyama, saat membuka Kontes Domba Wonosobo (Dombos) yang digelar di kawasan Jalan Merdeka, Alun-alun Wonosobo, Sabtu (4/7/2026), sebagai rangkaian peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo.

“Pelestarian Domba Wonosobo terus kami lakukan melalui berbagai cara, salah satunya dengan menggelar kontes secara rutin. Hasilnya sangat terlihat. Pada 2016 populasi Dombos baru sekitar 2.000 ekor, sedangkan saat ini sudah mencapai lebih dari 16.000 ekor. Ini menunjukkan antusiasme peternak semakin tinggi sekaligus menjadi bukti bahwa Dombos memiliki prospek ekonomi yang sangat baik bagi masyarakat Wonosobo,” ujar Dwiyama.

Ia menambahkan, kontes tidak hanya menjadi ajang kompetisi ternak unggulan, tetapi juga sarana edukasi, promosi, serta peningkatan kualitas genetik Domba Wonosobo. Melalui kegiatan ini, pemerintah berharap semakin banyak peternak yang terdorong untuk membudidayakan Dombos sebagai komoditas peternakan unggulan yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

Sementara itu, Ketua Panitia Kontes Dombos, Fajri DwiRezarto, menjelaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini merupakan pelaksanaan yang kelima dan telah berkembang menjadi ajang berskala nasional. Ratusan peternak dari berbagai daerah di Pulau Jawa turut ambil bagian, tidak hanya dari Kabupaten Wonosobo dan sejumlah wilayah di Jawa Tengah, tetapi juga dari Jawa Timur, seperti Banyuwangi, Blitar, Kediri, Bojonegoro, dan Jombang.

“Konsep kontes tahun ini masih sama seperti sebelumnya, yakni untuk pelestarian populasi Domba Wonosobo sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat dan peternak. Total ada 11 kelas, mulai dari anakan, bakalan, dewasa hingga kelas bobot karena kami ingin mendorong Dombos sebagai domba pedaging unggul yang mampu mendukung ketahanan pangan nasional,” kata Fajri.

Menurutnya, jumlah peserta terus mengalami peningkatan, tahun ini diperkirakan sebanyak 300 hingga 350 ekor Domba Wonosobo mengikuti proses penilaian. Para peserta berkompetisi pada 11 kelas, meliputi kategori anakan, bakalan, dewasa, hingga kelas bobot.

Penilaian dilakukan secara ketat menggunakan 15 parameter, di antaranya bentuk kepala, telinga, postur tubuh, panjang badan, tinggi badan, bentuk ekor, kualitas bulu wol, hingga bobot tubuh yang disesuaikan dengan umur ternak. Sistem penilaian tersebut bertujuan menghasilkan bibit unggul yang memiliki kualitas genetik terbaik.

Fajri menjelaskan, Domba Wonosobo memiliki karakteristik yang membedakannya dengan rumpun domba lain di Indonesia. Selain telah ditetapkan sebagai rumpun asli Indonesia dan memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI), Dombos dikenal memiliki garis muka cembung, telinga mengarah ke samping, bulu wol yang baik, serta ekor berukuran relatif kecil.

Keunggulan tersebut menjadikan Dombos memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Harga anakan Dombos berkisar mulai Rp2,5 juta hingga belasan juta rupiah untuk kualitas terbaik. Sementara itu, domba dewasa dapat bernilai puluhan juta rupiah, bahkan pejantan juara kontes pernah terjual lebih dari Rp100 juta karena memiliki kualitas genetik unggul serta rekam silsilah yang jelas.

Melalui penyelenggaraan Kontes Dombos secara berkelanjutan, Pemerintah Kabupaten Wonosobo berharap Domba Wonosobo semakin dikenal luas sebagai plasma nutfah unggulan daerah yang mampu meningkatkan kesejahteraan peternak, memperkuat ekonomi masyarakat pedesaan, sekaligus menjadi salah satu penopang ketahanan pangan nasional.***

Share This Article