Media Jateng, Semarang – Masa libur sekolah ternyata membawa dampak positif terhadap pengelolaan lingkungan di Kota Semarang. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang mencatat volume sampah yang masuk ke TPA Jatibarang mengalami penurunan rata-rata 69,59 ton per hari selama periode liburan sekolah pada akhir Juni hingga pertengahan Juli 2026.
Kepala DLH Kota Semarang, Glory Nasarani, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan, rata-rata sampah yang masuk ke TPA Jatibarang selama masa libur sekolah mencapai 865,78 ton per hari.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tiga pekan sebelum liburan yang rata-rata mencapai 935,38 ton per hari, bahkan pada hari tertentu sempat menembus 1.058 ton.
“Selama masa libur sekolah terlihat adanya penurunan volume sampah yang cukup signifikan. Rata-rata sampah yang masuk ke TPA berkurang sekitar 69,59 ton setiap hari,” kata Glory, Jumat (17/7/2026).
Menurut Glory, penurunan volume sampah lebih banyak dipengaruhi berkurangnya aktivitas rumah tangga selama libur sekolah.
Ia menjelaskan, sampah organik yang berasal dari aktivitas memasak masih menjadi penyumbang terbesar timbulan sampah di Kota Semarang. Ketika aktivitas memasak berkurang saat liburan, jumlah sampah yang dihasilkan juga ikut menurun.
Sebaliknya, volume sampah dari pusat perbelanjaan, hotel, maupun destinasi wisata relatif tidak mengalami perubahan berarti.
“Hasil evaluasi kami menunjukkan tidak ada lonjakan sampah dari sektor pariwisata maupun pusat perbelanjaan. Penurunan justru didominasi dari sampah rumah tangga,” ujarnya.
DLH Kota Semarang berharap tren positif tersebut dapat dipertahankan meski aktivitas sekolah dan perkantoran telah kembali normal.
Untuk itu, masyarakat terus didorong menerapkan kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah agar sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik bisa dimanfaatkan melalui bank sampah.
Selain mengurangi beban TPA Jatibarang, langkah tersebut juga dinilai mampu mendukung pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan.
“Kami berharap masyarakat semakin terbiasa memilah dan mengolah sampah dari sumbernya. Dengan begitu, volume sampah yang dibuang ke TPA bisa terus ditekan,” tutur Glory.
DLH juga akan terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat melalui berbagai komunitas, termasuk kelompok PKK dan bank sampah, guna memperkuat budaya pengelolaan sampah berbasis rumah tangga di Kota Semarang.(ot/mj)
