‎Disparbud Wonosobo Gelar Forum Konsultasi Publik, Digitalisasi Tiket Wisata Pemda Mulai Diuji Coba

admin
By
admin
7 Min Read

WONOSOBO, MediaJateng.Net – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo terus mendorong transformasi pelayanan publik di sektor pariwisata melalui digitalisasi pembayaran retribusi tiket masuk obyek wisata. Langkah tersebut dibahas dalam Forum Konsultasi Publik (FKP) Pelayanan UPTD Pengelolaan Obyek Wisata, Kamis, 27 Agustus 2026, di Bukit Telaga Menjer.

‎Forum ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan pelayanan kepada wisatawan sekaligus mengevaluasi standar pelayanan menuju tata kelola pariwisata yang cepat, inklusif, transparan, dan akuntabel.

‎Untuk tahap awal, digitalisasi pembayaran tiket melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) diterapkan pada obyek wisata yang dikelola oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Wonosobo. Uji coba dilakukan di tiga lokasi, yakni Gelanggang Renang Mangli, Taman Rekreasi Kalianget, dan Wisata Bukit Telaga Menjer.

‎Implementasi sistem digitalisasi pembayaran tersebut didukung oleh Bank Jateng, khususnya dalam penyediaan dan pengelolaan sistem transaksi pembayaran secara digital. Melalui dukungan tersebut, pembayaran retribusi tiket wisata dapat dilakukan secara non-tunai dan terintegrasi dengan sistem penerimaan daerah.

‎Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, mengatakan bahwa penerapan digitalisasi tersebut merupakan bagian dari pembenahan pelayanan sekaligus penguatan tata kelola penerimaan retribusi daerah.

‎“Kita ingin pelayanan pariwisata semakin mudah, cepat, dan transparan. Digitalisasi pembayaran tiket ini merupakan salah satu langkah konkret untuk mewujudkan hal tersebut. Untuk tahap awal kita lakukan uji coba di tiga obyek wisata yang dikelola pemerintah daerah, sehingga kita bisa melihat secara langsung bagaimana sistem ini berjalan di lapangan dan apa saja yang perlu kita sempurnakan,” ujar Fahmi.

‎Menurut Fahmi, penerapan QRIS tidak hanya memberikan pilihan pembayaran non-tunai kepada wisatawan, tetapi juga mendorong proses administrasi penerimaan retribusi menjadi lebih tertib, transparan, dan terintegrasi.

‎“Setiap transaksi melalui QRIS akan tercatat secara digital dan langsung masuk ke rekening Kas Daerah pada Bank Jateng. Dengan mekanisme ini, kita berharap pengelolaan penerimaan semakin akuntabel dan dapat dipantau dengan lebih baik,” jelasnya.

‎Ia menambahkan, dukungan Bank Jateng menjadi salah satu bagian penting dalam membangun ekosistem pembayaran digital tersebut, sehingga transaksi dari wisatawan dapat diproses melalui sistem perbankan dan tersalurkan ke rekening tampung Kas Daerah sesuai dengan mekanisme yang telah ditetapkan.

‎“Kolaborasi dengan Bank Jateng ini menjadi bagian penting dalam implementasi digitalisasi. Kita tidak hanya berbicara mengenai QRIS sebagai alat pembayaran, tetapi bagaimana seluruh proses transaksi dapat terintegrasi dan mendukung tata kelola penerimaan daerah yang lebih transparan dan akuntabel,” ungkap Fahmi.

‎Menurutnya, keberhasilan digitalisasi tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan petugas serta pemahaman masyarakat dan wisatawan dalam menggunakan layanan tersebut.

‎“Teknologi adalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana teknologi tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, kita akan melakukan evaluasi dari sisi sistem, petugas, maupun respons wisatawan. Kalau dalam pelaksanaan uji coba masih ditemukan kendala, akan kita perbaiki sebelum dikembangkan lebih luas,” ungkap Fahmi.

‎Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo optimistis penerapan pembayaran tiket wisata menggunakan QRIS akan berhasil melalui proses pembiasaan masyarakat.

‎“Kami optimistis penerapan pembayaran retribusi wisata menggunakan QRIS ini akan berhasil. Masyarakat hanya membutuhkan proses pembiasaan. Kita bisa melihat pengalaman ketika pembayaran tol mulai beralih ke sistem non-tunai, pada awalnya tentu ada proses adaptasi, tetapi setelah diterapkan secara konsisten masyarakat akhirnya terbiasa. Begitu pula dengan pembayaran tiket wisata melalui QRIS, ketika sudah menjadi kebiasaan, kami yakin masyarakat akan merasa lebih mudah, cepat, dan praktis. Karena itu, kami akan terus melakukan edukasi dan pendampingan agar proses digitalisasi ini dapat diterima dan berjalan dengan baik,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat.

‎Dalam Forum Konsultasi Publik tersebut, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan juga membuka ruang bagi para pemangku kepentingan untuk memberikan masukan terhadap standar pelayanan UPTD Pengelolaan Obyek Wisata.

‎Fahmi menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen menjadikan masukan publik sebagai bagian dari proses perbaikan pelayanan.

‎‎“Forum ini bukan sekadar formalitas. Kita ingin mendengar masukan dari para pemangku kepentingan agar kebijakan yang kita jalankan benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan. Prinsipnya, pelayanan harus semakin mudah bagi wisatawan dan pengelolaannya semakin baik bagi pemerintah daerah,” tegasnya.

‎Dalam kegiatan tersebut turut hadir Kasubid Penerimaan dan Pengelolaan Pendapatan Daerah BPPKAD Kabupaten Wonosobo Widya Ningrum, Wakil Pimpinan Cabang Bank Jateng Cabang Wonosobo Fuad Adafi, serta Analis Kebijakan Ahli Muda Bagian Organisasi Setda Wonosobo Irawati Werdianingsih, SIP, sebagai narasumber.

‎Selain itu, peserta kegiatan juga terdiri dari lintas Organisasi Perangkat Daerah, organisasi/asosiasi usaha pariwisata, perguruan tinggi, wartawan, Camat Garung dan Camat Kejajar, serta Kapolsek Garung dan Kapolsek Kejajar.

‎Keterlibatan lintas sektor tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan implementasi digitalisasi dapat berjalan secara aman, tertib, dan sesuai dengan ketentuan pengelolaan keuangan daerah.

‎Dukungan Bank Jateng sebagai mitra perbankan turut memperkuat proses digitalisasi transaksi, mulai dari pembayaran oleh wisatawan hingga penyaluran penerimaan ke rekening Kas Daerah.

‎Melalui uji coba di tiga obyek wisata tersebut, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi.

‎Hasilnya diharapkan menjadi dasar penyempurnaan sistem sekaligus bahan pertimbangan untuk pengembangan digitalisasi layanan tiket pada obyek wisata pemerintah daerah lainnya.

‎Digitalisasi pembayaran tiket menjadi salah satu langkah menuju pengelolaan destinasi wisata yang semakin profesional, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta berorientasi pada kemudahan wisatawan, transparansi penerimaan daerah, dan peningkatan kualitas pelayanan publik.

‎Kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Wonosobo dan Bank Jateng melalui digitalisasi pembayaran ini diharapkan dapat menjadi bagian dari penguatan tata kelola pariwisata yang semakin modern, efektif, transparan, dan akuntabel.***

Share This Article