Begini Agar Hidup Lebih Seimbang

DEMAK, Mediajateng.net – Era globalisasi membuat banyak orang kekurangan keseimbangan dalam hidup. Kecenderungan mengejar materi duniawi dinilai lebih dominan dibandingkan mencari ketenangan kehidupan akherat

Untuk menyeimbangkan antara kebutuhan dunia dan ketenangan batin ini, siapapun dan sehebat apapun orang tetap membutuhkan asupan batin berupa ilmu tasawuf atau ilmu hikmah.

Menurut Gus Ulil Abshor Abdalla, Cendekiawan NU, orang konservatif maupun liberal sekalipun, jika tidak belajar dan mengamalkan ilmu tasawuf, maka tidak akan bisa merasakan hikmah dalam hidup yang jalaninya.

“Orang yang hanya belajar ilmu saja. Ilmu apapun itu, dan tidak dibarengi dengan ilmu tasawuf (kebijaksanaan atau hikmah), maka orang tersebut rawan tergelincir menyelewengkan ilmu yang dimilikinya (fasiq). Dengan demikian, apa yang dipelajari justru bisa menjadi bencana. Begitupula, orang yang belajar ilmu tasawuf saja dan tidak dibarengi dengan ilmu syari’at, juga bisa rawan berprilaku menyeleweng (zindiq),” tutur Gus Ulil Abshor Abdalla ,
dalam Lailatul Ijtima’, halal bi halal PCNU Demak dan ngaji bareng Kitab Ihya’ Ulumudin karya monumental Filusuf kenamaan, Imam Al Ghazali bersama cendekiawan muda NU, di Pendopo Kabupaten Demak, Jumat (30/6/2018) lalu.

Gus Ulil , sapaan akrab menantu KH Mustofa Bisri ini, menambahkan,
Menurutnya, penyakit jiwa tidak hanya monopoli orang yang tidak baik dalam prilakunya. Namun, penyakit jiwa juga bisa menghinggapi mereka yang memiliki ilmu tinggi, termasuk selevel profesor doktor.

“Nah, kepintaran setan untuk menggoda manusia itu mengikuti level atau derajat manusia tersebut. Disinilah dibutuhkan ilmu tasawuf. Ilmu ini untuk mengatur kondisi atau hakekat jiwa (An nafs) , dan hati (Al qalbu) dengan dorongan prilaku atau akhlak (khuluq) yang baik. Jiwa (nafs), kata Ulil, merupakan organ tubuh paling halus dalam diri manusia. Sedangkan, hati (qalbu) merupakan alat komunikasi antara manusia dengan Tuhan-Nya,” ujarnya.

Mengobati jiwa yang sakit, sambung Gus Ulil, jauh lebih penting dari sekedar mengobati badan yang sakit.

“Kalau kita sakit badan, cukup dengan berobat ke dokter. Tapi, kalau penyakit jiwa jauh lebih sulit mengobatinya,”kata dia.

Menurutnya, orang Indonesia sebetulnya telah memiliki sifat yang ramah, suka senyum dan menghargai orang lain dengan akhlak yang baik.

“Itu merupakan pengaruh ilmu tasawuf,”ujarnya.

Ketua PCNU Demak, KH Aminudin mengatakan, halal bi halal dinilai sangat penting untuk merajut tali silaturahmi antar masyarakat.

“Halal bi halal ini merupakan istilah yang dikenalkan KH Wahab Chasbullah, salah satu tokoh dan pendiri NU,”katanya.

Hadir dalam acara ini, Bupati HM Natsir, Katib Syuriyah NU KH Zaenal Arifin Ma’shum, Ketua MUI, KH Muhamad Asyiq, dan para kiai lainnya.

Menurut Sekretaris Lembaga Ta’lif Wa Nasr (LTN NU) Demak , Gus Wahib, mengaji kitab ihya’ bersama Gus Ulil yang temanya membahas terkait penyakit jiwa, sangat relevan dengan kondisi sekarang. Dimana era modern banyak manusia yang mengidap penyakit hati akibat keringnya spiritualitas.

Ketidakmampuan seseorang untuk mengendalikan diri merupakan indikasi keringnya jiwa.

“Ini sekaligus mengingatkan posisi kita sendiri. Sejauhmana kita bisa mengatur emosi jiwa kita. Salah satunya kita harus bisa mengambil ilmu hikmah ini. Ibarat padi yang berisi dan menguning makin merunduk,”kata Gus Wahib, yang juga Sekretaris PWI Kabupaten Demak.