Oleh: Dra. Hj. Ratna Ayu Kartika Wulan, M.M. Pd.
mediajateng.net – Salah satu usaha pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan diadakannya otonomi pendidikan, otonomi diberikan agar madrasah dapat leluasa mengelola sumber daya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan serta agar madrasah lebih tanggap terhadap kebutuhan lingkungan setempat (Hasbullah, 2006: 82).
Di sisi lain, otonomi pendidikan ini menuntut pendekatan manajemen yang lebih kondusif di madrasah agar mengakomodasi kemajuan dan sistem yang ada di madrasah. Dalam kerangka inilah, manajemen berbasis madrasah (MBM) tampil sebagai alternatif paradigma baru manajemen pendidikan yang ditawarkan.
Munculnya paradigma baru tentang MBM yang bertumpu pada penciptaan iklim yang demokratis dan pemberian kepercayaan yang lebih luas kepada madrasah untuk menyelenggarakan pendidikan secara efisien dan berkualitas. MBM juga merupakan salah satu usaha pemerintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi secara berkualitas dan berkelanjutan baik secara makro, maupun mikro. Kerangka makro erat kaitannya dengan upaya politik yaitu tentang desentralisasi kewenangan dari pemerintah pusat ke daerah, sedangkan aspek mikro melibatkan seluruh sektor dan lembaga pendidikan yang paling bawah, tetapi terdepan dalam pelaksanaannya, yaitu sekolah/madrasah (Mulyasa, 2004: 11).
Sedangkan tujuan utama MBM adalah meningkatkan efisiensi, mutu, dan pemerataan pendidikan. Adapun yang dimaksud dengan peningkatan efisiensi adalah diperoleh melalui keleluasaan mengelola sumber daya yang ada, partisipasi masyarakat, dan penyederhanaan birokrasi. Peningkatan mutu diperoleh melalui partisipasi orang tua, kelenturan pengelolaan madrasah, peningkatan profesionalisme guru serta hal lain yang dapat menumbuh kembangkan suasana yang kondusif. Sedangkan pemerataan pendidikan tampak pada tumbuhnya partsisipasi masyarakat terutama yang mampu dan peduli, sementara yang kurang mampu akan menjadi tanggung jawab pemerintah (Mulyasa, 2004: 13).
Pelaksanaan MBM di madrasah tak lepas dari peran kepemimpinan kepala madrasah sebagai tonggak utama dalam pengelolaan madrasah. Dengan kata lain, kepala madrasah adalah kunci keberhasilan pendidikan di madrasah. Kepemimpinan kepala madrasah sangat menentukan kemajuan dan perkembangan pendidikan baik dari segi mutu dan kualitas pendidikan pada suatau madrasah. Dan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, tidak akan sampai kearah itu tanpa didukung oleh kepemimpinan kepala madrasah dalam pengembangan lembaga pendidikan Islam yang berkualitas dan efektif. Kepemimpinan yang efektif merupakan realisasi perpaduan bakat dan pengalaman kepemimpinan dalam situasi yang berubah-ubah karena berlangsung melalui interaksi antar sesama manusia.
Pada dasarnya kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesan implementasi MBM. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurholis Madjid setidaknya ada empat alasan kenapa diperlukan figur pemimpin, yaitu: 1) banyak orang memerlukan figur pemimpin, 2) dalam beberapa situasi pemimpin perlu tampil mewakili kelompoknya, 3) sebagai tempat pengambil alihan resiko bila terjadi tekanan terhadap kelompoknya, 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan (Madjid, 2000: 152). Dalam MBM dimana memberikan keleluasaan kepada madrasah untuk mengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untuk mencapai peningkatan kualitas madrasah tersebut. Karena madrasah memiliki kewenangan yang sangat luas maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangat penting.
Kepemimpinan kepala madrasah berpengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan dan pengajaran khususnya terhadap pembinaan guru dalam melaksanakan tugasnya. Kepemimpinan kepala madrasah yang berkualitas akan mempengaruhi proses pembelajaran di madrasah. Dengan situasi tersebut akan memunculkan tipe atau pola kepemimpinan kepala madrasah dalam segala aktivitasnya mempunyai peranan yang penting sebagai langkah menentukan efektif tidaknya kepemimpinan di madrasah dalam mengembangkan pendidikan.
Kepala madrasah sebagai pemimpin madrasah bukanlah pemegang monopoli kebijakan madrasah. Namun ia harus dibantu oleh teamwork yang solid, untuk itu, kepala madrasah harus dapat bertindak profesional dalam mengelola sumber daya manusia dan sumber daya madrasah lainnya sehingga program madrasah dapat berjalan sesuai harapan.
Selain itu, manajemen berbasis madrasah dapat berjalan dengan baik ketika kepala madrasah dapat mengkondisikan bawahannya dalam menjalankan tugas-tugasnya. Untuk itu, kepala madrasah harus mampu mengkomunikasikan ide-ide maupun pikirannya kepada para guru baik secara verbal maupun secara emosional. Kedekatan dan hubungan yang harmonis antara kepala madrasah dengan bawahannya (para guru dan staf Tata Usaha) menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan manajemen berbasis madrasah. Dengan demikian, madrasah dapat tumbuh dan berkembang sesuai potensi yang dimilikinya.
Kepala madrasah yang memiliki komitmen kuat dalam meningkatkan mutu pendidikan madrasah akan selalu berpikir kreatif dengan mencari terobosan-terobosan jitu. Berbagai kegiatan yang dapat menstimulasi kemajuan madrasah terus digalakkan. Misalnya menghadirkan pakar sebagai nara sumber, mengikuti berbagai kompetisi dan lain sebagainya. Hal tersebut dilakukan untuk merangsang mentalitas guru dan siswa sehingga kelak akan tercipta mental juara. Melalui mental juara tersebut pada akhirnya akan menggerakkan sumber daya manusia madrasah untuk terus meningkatkan kemampuannya sesuai bidang tugasnya masing-masing.
Dengan demikian, manajemen berbasis madrasah mampu menggali sumber-sumber prestasi melalui otonomi pendidikan madrasah yang dikelola dengan profesional, komunikatif, dan kerjasama yang baik semua stakeholder madrasah. Manajemen berbasis madrasah juga memberikan ruang yang luas bagi madrasah untuk berkreasi dan inovasi sesuai kapasitas dan kemampuannya masing-masing.
*) Dra. Hj. Ratna Ayu Kartika Wulan, M.M. Pd.
Kepala MTs Negeri 2 Banjarnegara













